Oleh: Anak Agung Gde Ngurah Ari Dwipayana, Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud, Ketua Departemen Politik dan Pemerintahan, FISIPOL UGM
Angkatan muda Hindu bukan hanya bagian dari umat hari ini. Mereka adalah wajah mayoritas umat hari ini sekaligus penentu masa depan Hindu Nusantara. Karena itu, membicarakan masa depan umat Hindu pada dasarnya adalah membicarakan bagaimana kita mempersiapkan generasi mudanya.
Perubahan struktur demografi Indonesia memberikan pesan yang sangat jelas. Dari sekitar 290 juta penduduk Indonesia, sekitar 201 juta jiwa atau 69,30 persen berada pada usia produktif 15–64 tahun.
Gen Z yang berada pada kisaran usia 14–29 tahun berjumlah sekitar 75,4 juta jiwa atau 25,98 persen, disusul generasi Milenial usia 30–45 tahun sekitar 68,5 juta jiwa atau 23,6 persen. Sementara itu, Gen Alpha juga terus tumbuh menjadi kelompok demografis yang sangat besar.
Walaupun komposisi demografi umat Hindu tentu memiliki karakteristik tersendiri di setiap daerah, perubahan struktur penduduk nasional tersebut memberikan gambaran penting tentang arah perubahan umat Hindu Indonesia.
Artinya, PHDI tidak cukup hanya memikirkan bagaimana melayani umat hari ini, tetapi harus mulai membangun strategi untuk menyiapkan angkatan muda Hindu Nusantara menghadapi masa depan.
Enam Strategi Trasformasi Memperkuat Anak Muda Hindu Nusantara
Pertama, membangun pendekatan keagamaan yang berbicara dengan dunia anak muda. Generasi muda hidup dengan pengalaman, bahasa, kegelisahan, dan tantangan yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya.
Karena itu, pendekatan dalam memperdalam Sradha dan Bhakti, baik melalui Dharma Panuntun, Dharma Wacana maupun pendidikan keagamaan, harus sensitif terhadap karakter generasi tersebut.
PHDI harus mampu menangkap pertanyaan-pertanyaan yang sedang dihadapi anak muda: tentang identitas, masa depan, pendidikan, pekerjaan, relasi sosial, kesehatan mental, teknologi, lingkungan hidup, hingga bagaimana menjalani kehidupan spiritual di tengah perubahan zaman yang sangat cepat.
Ajaran Hindu sesungguhnya memiliki kekayaan tattwa dan nilai yang dapat menjadi tuntunan menghadapi berbagai persoalan tersebut. Tantangannya adalah bagaimana Dharma disampaikan dengan bahasa yang dapat dipahami dan dirasakan relevansinya oleh generasi muda.
Karena itu, cara berkomunikasi dan berinteraksi menjadi faktor penting. Kita tidak bisa mengajak generasi baru memperdalam nilai-nilai ajaran Dharma hanya dengan menggunakan cara komunikasi generasi lama.
Kedua, memperkuat Sradha di tengah kehidupan digital. Generasi muda tumbuh dalam dunia yang berbeda. Dunia digital bukan lagi sekadar alat komunikasi, tetapi telah menjadi ruang hidup baru.
Pada awal 2025, jumlah identitas pengguna media sosial di Indonesia telah mencapai sekitar 143 juta. Penetrasi internet di kalangan Gen Z juga sangat tinggi. Mereka belajar, bekerja, membangun jaringan sosial, memperoleh informasi, bahkan membentuk pandangan hidup melalui ruang digital.
Di satu sisi, teknologi membuka akses yang luar biasa terhadap pengetahuan. Tetapi di sisi lain, generasi muda menghadapi banjir informasi, disinformasi, manipulasi algoritma, budaya instan, serta berbagai nilai yang belum tentu sejalan dengan Dharma.
Karena itu, PHDI harus hadir lebih kuat di ruang digital. Kita membutuhkan Dharma Digital: ekosistem konten Hindu yang edukatif, inspiratif, kredibel, menarik, dan mudah diakses generasi muda. Literasi digital harus berjalan beriringan dengan literasi keagamaan sehingga kemajuan teknologi tidak menjauhkan generasi muda dari akar spiritualnya.
Anak muda Hindu jangan hanya menjadi konsumen teknologi. Mereka harus didorong menjadi produsen pengetahuan dan kreator Dharma di ruang digital.
Ketiga, menyiapkan generasi muda menghadapi dunia kerja. Tantangan generasi muda tidak hanya berkaitan dengan Sradha, tetapi juga masa depan kehidupannya.
Data kependudukan menunjukkan masih besarnya jumlah penduduk yang belum bekerja, sementara kelompok terbesar dalam struktur pekerjaan berada dalam kategori wiraswasta, yang di dalamnya juga mencakup berbagai bentuk pekerjaan informal.
Perubahan teknologi, otomatisasi, kecerdasan buatan, dan perubahan struktur ekonomi akan membuat persaingan dunia kerja semakin keras. Lapangan pekerjaan konvensional tidak selalu tumbuh secepat jumlah anak muda yang memasuki pasar kerja.
Karena itu, pemberdayaan umat harus dimulai sejak generasi muda. PHDI perlu membangun kolaborasi dengan perguruan tinggi, dunia usaha, profesional Hindu, lembaga pelatihan, dan jaringan diaspora untuk membuka akses pendidikan, beasiswa, peningkatan keterampilan, mentoring, magang, kewirausahaan, serta jaringan kerja bagi anak muda Hindu.
Sradha yang kuat harus berjalan bersama kemampuan untuk hidup mandiri dan bermartabat. Inilah bagian dari ikhtiar mewujudkan umat yang Jagadhita.
Keempat, menumbuhkan generasi muda yang peduli terhadap persoalan umat dan bangsa.
Mereka perlu memiliki kepekaan terhadap berbagai persoalan struktural yang terjadi di sekitarnya: kemiskinan, kebodohan, ketimpangan, keterbelakangan, kerusakan lingkungan, krisis air, sampah, perubahan iklim, serta berbagai bentuk ketidakadilan sosial.
Kepedulian terhadap persoalan tersebut merupakan bagian dari praktik Dharma. PHDI harus membuka lebih banyak ruang bagi generasi muda untuk melakukan Manawa Seva dan Madhawa Seva: menghadirkan Dharma melalui pelayanan kepada sesama manusia dan kehidupan.
Dengan demikian, agama tidak berhenti sebagai pengetahuan dan ritual, tetapi menjadi kekuatan yang mendorong transformasi sosial.
Kelima, mengajak anak muda tetap berakar pada kebudayaan Hindu Nusantara
Menjadi modern tidak berarti tercerabut dari akar. Justru dalam dunia yang semakin terbuka dan seragam, identitas kebudayaan menjadi semakin penting.
Generasi muda Hindu harus memiliki kesempatan untuk mengenal, mencintai, mengembangkan, dan mewariskan sastra, bahasa, seni, tradisi, dan dresta yang hidup di berbagai komunitas Hindu Nusantara.
Hindu Nusantara memiliki kekayaan yang luar biasa. Bali, Jawa, Tengger, Lombok, Kalimantan, Sulawesi, Sumatra dan berbagai wilayah lainnya memiliki ekspresi budaya Hindu yang tumbuh dalam perjalanan sejarah masing-masing.
PHDI harus menjadi ruang yang merawat kebhinnekaan tersebut. Program sastra, seni pertunjukan, bahasa daerah, digitalisasi manuskrip, festival budaya, sekolah budaya, hingga ruang kreativitas anak muda perlu diperluas.
Bahkan teknologi digital dan AI dapat dimanfaatkan untuk mendokumentasikan sekaligus memperkenalkan kekayaan Hindu Nusantara kepada generasi baru. Dengan demikian, generasi muda dapat bergerak maju mengikuti zaman tanpa kehilangan akar tempat mereka berpijak.
Keenam, memberikan ruang kepemimpinan kepada generasi muda. Pada akhirnya, generasi muda tidak cukup hanya dijadikan objek pembinaan. Mereka harus menjadi subjek dan pelaku utama perubahan.
Karena itu, PHDI perlu membuka ruang keterlibatan yang semakin luas bagi anak-anak muda dalam organisasi dan kegiatan keumatan. KMHDI, Peradah, Prajaniti, organisasi mahasiswa Hindu, komunitas seni dan budaya, komunitas profesional, kelompok kewirausahaan, hingga berbagai komunitas kreatif anak muda harus menjadi bagian dari ekosistem besar pembangunan umat.
PHDI juga perlu memberikan ruang yang lebih besar bagi generasi muda dalam program-programnya, termasuk dalam proses perencanaan dan pengambilan keputusan. Kita harus berani memberikan mereka ruang untuk belajar, ruang untuk berkarya, ruang untuk berinovasi, dan pada waktunya ruang untuk memimpin.
Menyiapkan Generasi, Menyiapkan Masa Depan
Bonus demografi tidak otomatis menjadi berkah. Ia dapat menjadi kekuatan besar apabila generasi mudanya memiliki Sradha yang kokoh, pengetahuan yang luas, keterampilan yang memadai, kemandirian ekonomi, kepedulian sosial-ekologis, akar kebudayaan yang kuat, dan ruang untuk memimpin.
Karena itu, menyiapkan Angkatan Muda Hindu Nusantara harus menjadi salah satu agenda strategis PHDI ke depan. Kita membutuhkan generasi Hindu yang mampu berdiri kokoh di atas akar Dharma dan Kebudayaan Nusantara, tetapi pada saat yang sama memiliki keberanian menjelajahi dunia baru: menguasai ilmu pengetahuan, teknologi dan AI; mampu berkompetisi secara global; peduli kepada sesama dan alam; serta memiliki keberanian mengambil tanggung jawab kepemimpinan.
Berakar pada Dharma, bertumbuh dalam kebudayaan, menguasai zaman, dan berkarya untuk umat, bangsa, serta kemanusiaan. Sebab, ketika kita menyiapkan angkatan muda Hindu hari ini, sesungguhnya kita sedang menyiapkan wajah Hindu Nusantara untuk masa depan. (*)
