Musim Kemarau Diprediksi Lebih Kering dan Panjang, Puncaknya Terjadi di Agustus 2026

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani

NASIONAL, BALINEWS.ID – Musim kemarau tahun 2026 diperkirakan berlangsung lebih kering dan lebih panjang dibandingkan kondisi normal. Puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus 2026 dan berpotensi memengaruhi ketersediaan air, sektor pertanian, kesehatan masyarakat, hingga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan puncak musim kemarau akan terjadi secara bertahap pada Juli hingga September 2026. Pada Juli, puncak kemarau diperkirakan terjadi di 83 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 12,26 persen wilayah daratan Indonesia.

Jumlah tersebut meningkat signifikan pada Agustus menjadi 369 ZOM atau 48,84 persen wilayah daratan, sebelum menurun menjadi 169 ZOM atau 25,41 persen wilayah daratan pada September.

BACA JUGA :  Listrik Padam, Arus Lalu Lintas di Bandara Ngurah Rai Sempat Macet

“Wilayah yang diprediksi mengalami puncak kemarau pada Juli 2026 meliputi sebagian Sumatra, sebagian kecil Kalimantan dan Jawa, Nusa Tenggara Timur bagian selatan, Sulawesi Barat bagian utara, Sulawesi Tengah bagian barat, sebagian kecil Maluku, Papua Barat Daya bagian selatan, Papua Barat bagian Tengah, dan Papua bagian timur,” ujar Faisal di Jakarta, Rabu (10/6).

Sementara itu, pada Agustus, puncak musim kemarau diperkirakan melanda Sumatra bagian tengah, sebagian besar Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, sebagian Nusa Tenggara Timur, sebagian besar Kalimantan, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku dan Maluku Utara, serta sebagian besar Pulau Papua.

Hingga akhir Mei 2026, sebanyak 200 ZOM atau 11,83 persen wilayah daratan Indonesia telah memasuki musim kemarau. Wilayah yang telah mengalami musim kering antara lain sebagian Sumatra, sebagian Jawa, sebagian besar Nusa Tenggara, Kalimantan Tengah bagian timur, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku, dan sebagian Papua.

BACA JUGA :  Nelayan Diduga Hilang Saat Melaut di Perairan Bunutan

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih kering dan berlangsung lebih lama dibandingkan rata-rata normalnya.

“BMKG memprediksi fenomena El Nino akan terus bertahan hingga awal tahun 2027 dengan peluang intensitas mencapai kategori moderat sebesar 98 persen dan kategori kuat sebesar 62 persen, namun demikian dampaknya untuk wilayah Indonesia ketika bertemu periode musim kemarau hingga pertengahan bulan Oktober,” kata Ardhasena.

Pada Juni 2026, sebanyak 198 ZOM atau sekitar 31,60 persen wilayah daratan diprediksi mulai memasuki musim kemarau. Wilayah tersebut mencakup sebagian besar Sumatra, Kalimantan Barat, sebagian wilayah Banten, DKI Jakarta bagian selatan, Jawa Tengah bagian tengah dan barat, sebagian kecil Jawa Timur, sebagian besar Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur, sebagian Sulawesi, Maluku, serta Papua.

BACA JUGA :  Anggota Baru KPID dan KI Bali Resmi Dilantik, Koster Beri Pesan Penting

Kondisi yang lebih kering dari biasanya membuat potensi kekeringan, gangguan pasokan air, penurunan kualitas udara, serta kebakaran hutan dan lahan perlu diwaspadai. Karena itu, masyarakat diminta mulai mengantisipasi dampak musim kemarau sejak dini, terutama terkait pemenuhan kebutuhan air bersih dan kesehatan. (*)

Tag

Catatan: Jika Anda memiliki informasi tambahan, klarifikasi, atau menemukan kesalahan dalam artikel ini, jangan ragu untuk menghubungi kami melalui email atau melalui kontak di situs kami.

Breaking News

Baca Lainnya