JAKARTA, BALINEWS — Nama Letnan Jenderal TNI (Purn) I Nyoman Cantiasa, S.E., M.Tr.Han., kembali menjadi sorotan publik usai resmi terpilih memimpin Pengurus Harian Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat. Di balik amanah baru di lembaga keumatan tersebut, jenderal bintang tiga asal Buleleng ini memiliki rekam jejak militernya yang sarat dengan prestasi dan operasi tempur berisiko tinggi.
Lahir di Desa Bubunan, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng, Bali, Cantiasa merupakan salah satu putra terbaik Bali yang mengukir sejarah gemilang di tubuh TNI Angkatan Darat. Jabatan militer terakhir yang diemban perwira tinggi Kopassus ini adalah Staf Khusus Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad).
Peraih Adhi Makayasa dan Prestasi Akademik
Sejak mengawali kariernya di dunia militer, keunggulan Cantiasa sudah terlihat menonjol. Beliau merupakan lulusan terbaik Akademi Militer (Akmil) tahun 1990 dan berhak meraih penghargaan tertinggi Bintang Adhi Makayasa.
Tak hanya tangguh di lapangan, kecerdasannya di bidang akademis militer kembali terbukti saat dirinya menyabet predikat sebagai peserta dengan Karya Tulis Terbaik Dikreg XLI Sesko TNI Tahun Anggaran 2014.
Pertaruhan Nyawa dalam Operasi Pembebasan Sandera Mapenduma 1996
Salah satu catatan sejarah paling monumental dalam karier prajurit Baret Merah ini terjadi pada tahun 1996. Saat masih berpangkat Letnan Satu (Lettu) Infanteri dan menjabat sebagai Wakil Komandan Sub Tim Detasemen 81 (Penanggulangan Teror) atau Sat-81/Gultor Kopassus, Cantiasa mendapat tugas berisiko tinggi membebaskan sandera di Papua (yang saat itu bernama Irian Jaya).
Kala itu, kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM) di bawah pimpinan Kelly Kwalik menyandera 26 orang di Mapenduma. Daftar sandera tersebut melibatkan warga negara Indonesia (WNI) dari kalangan dosen, pendeta, dan petugas kehutanan, serta enam warga negara asing (WNA) asal Belanda dan Inggris.
Di bawah perintah Komandan Jenderal Kopassus saat itu, Brigjen TNI Prabowo Subianto, operasi pembebasan digelar. Misi yang penuh tekanan ini mencapai puncaknya pada 9 Mei 1996 melalui penyerbuan ke markas OPM di Desa Geselama, Mimika. Meski berhasil membebaskan mayoritas sandera, dua peneliti WNI ditemukan gugur dalam peristiwa tersebut.
Terlibat Operasi MV Sinar Kudus hingga Komandan Upacara Istana
Keandalan Cantiasa dalam operasi khusus tidak berhenti di Mapenduma. Beliau tercatat terlibat langsung dalam dua dari tiga operasi militer besar yang pernah digelar TNI. Selain pembebasan sandera di Mapenduma (1996), Cantiasa yang saat itu menjabat Komandan Sat-81/Gultor Kopassus turut memimpin operasi pembebasan sandera dari aksi perompak Somalia pada pembajakan Kapal MV Sinar Kudus tahun 2011.
Di ranah diplomasi militer dan prestasi internasional, saat menjabat Kolonel, Cantiasa memimpin Kontingen Indonesia dalam Lomba Tembak ASEAN Armies Rifle Meet (AARM) ke-16 di Hanoi, Vietnam pada 2006. Di bawah kepemimpinannya, Indonesia sukses memboyong predikat Juara Umum dengan raihan 24 medali emas, 10 perak, 9 perunggu, dan 15 trofi.
Atas prestasi dan kepemimpinannya yang menonjol, Cantiasa juga pernah dipercaya menjadi Komandan Upacara Penurunan Sang Merah Putih dalam rangka HUT ke-68 Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Merdeka pada 17 Agustus 2013.
Kini, dengan rentetan pengalaman kepemimpinan serta pengabdian panjang bagi bangsa dan negara, Letjen TNI (Purn) I Nyoman Cantiasa siap mengabdikan diri untuk memimpin dan melayani umat Hindu di seluruh Indonesia.

