BALINEWS.ID – Empat hari yang lalu, Siti Badriah sempat dilanda panik. Telat haid dua minggu bikin pikirannya langsung melayang ke satu kemungkinan: hamil lagi, padahal badannya baru saja kembali langsing. Dari situ, ceritanya justru berujung ke keputusan besar suaminya, Krisjiana Baharudin, yang memilih menjalani vasektomi.
Krisjiana menceritakan momen panik istrinya itu saat ditemui di Mandaya Royal Hospital Puri, Rabu (16/9/2026). “Sebenarnya awalnya itu empat hari yang lalu Siti telat dua minggu. Udah deg-degan banget tuh dia, takut, ‘Aduh hamil lagi nih, mana badannya baru kurus kan.’ Terus dia kayak, ‘Aduh hamil lagi nih aku, aduh gimana nih?’ Dia udah syok, udah bingung tuh kayak harus kayak gimana. Kita ke sinilah buat ngecek,” ceritanya.
Awalnya Cuma Mau Cek Kehamilan
Siti Badriah sendiri membenarkan bahwa niat awal kedatangannya ke rumah sakit murni untuk memastikan dirinya hamil atau tidak. “Awalnya ngecek kehamilan doang,” katanya singkat.
Setelah hasil pemeriksaan menunjukkan ia tidak hamil, obrolan pasangan ini justru berlanjut ke topik yang lebih besar: pilihan kontrasepsi jangka panjang. Dari situlah nama vasektomi mulai masuk ke pembicaraan mereka.
Kenapa Krisjiana Akhirnya Pilih Vasektomi
Setelah mendapat penjelasan soal berbagai metode kontrasepsi, Krisjiana akhirnya memantapkan pilihan pada vasektomi. Menurutnya, keputusan ini sejalan dengan keinginan Siti yang belum ingin hamil lagi dalam waktu dekat. “Jadi menurut aku vasektomi adalah jawaban yang paling pas untuk aku saat ini dan bisa buat Siti juga. Karena memang Siti enggak mau hamil lagi untuk saat ini,” ujarnya.
Prosedur ini dilakukan langsung oleh dokter spesialis urologi, dr. Maruto Harjanggi, BSc(Hons), Sp.U, FICS, di Mandaya Royal Hospital Puri. Secara medis, vasektomi merupakan metode kontrasepsi permanen pada pria dengan cara memotong dan menutup saluran vas deferens, saluran yang membawa sperma dari testis.
Bukan Cuma Soal Efektif, Ini Insight Medis yang Perlu Diketahui
Ini bagian yang mungkin belum banyak diketahui publik soal vasektomi. Prosedur ini tidak memengaruhi produksi hormon testosteron, gairah seksual, maupun kemampuan ereksi dan ejakulasi pria, jadi bukan berarti setelah vasektomi seseorang kehilangan fungsi seksualnya.
Yang perlu jadi catatan, meski tingkat efektivitasnya tinggi, efek kontrasepsi dari vasektomi tidak langsung terjadi begitu prosedur selesai. Pasangan tetap perlu melakukan pemeriksaan analisis sperma untuk memastikan saluran benar-benar sudah steril sebelum bisa mengandalkan metode ini sepenuhnya sebagai kontrasepsi.
Keputusan Krisjiana ini jadi salah satu contoh nyata bagaimana komunikasi terbuka antara pasangan soal rencana keluarga bisa berujung pada keputusan medis yang cukup besar, dan sekaligus membuka percakapan publik soal vasektomi sebagai opsi kontrasepsi yang masih jarang dibicarakan terbuka oleh pasangan di Indonesia.
