DENPASAR, BALINEWS.ID – Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Bali mengumpulkan ratusan konselor HIV/AIDS dari seluruh kabupaten/kota dalam Pertemuan Koordinasi Konselor HIV/AIDS Tahun 2026 yang berlangsung di UPTD Bapelkesmas Provinsi Bali, Selasa (2/6/2026).
Kegiatan ini digelar sebagai langkah memperkuat upaya penanggulangan HIV/AIDS di Bali sekaligus mendukung pencapaian target global 95-95-95, yakni 95 persen orang dengan HIV mengetahui statusnya, 95 persen mendapatkan pengobatan, dan 95 persen mencapai supresi virus.
Pertemuan tersebut menghadirkan narasumber dokter sekaligus aktivis kesehatan reproduksi Oka Negara serta Puji Astuti dari Klinik VCT Merpati RSUD Wangaya Denpasar. Keduanya memberikan pembekalan terkait layanan konseling, deteksi dini, hingga strategi penanganan HIV/AIDS yang efektif di lapangan.
Ketua KPA Bali, A.A. Ngr. Patria Nugraha, mengungkapkan berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Bali, selama periode Januari hingga April 2026 ditemukan sebanyak 678 kasus baru HIV di Bali.
Dari jumlah tersebut, Kota Denpasar mencatat kasus tertinggi dengan 274 kasus atau sekitar 40 persen dari total temuan. Kabupaten Badung berada di posisi kedua dengan 157 kasus atau 23 persen, disusul Kabupaten Buleleng sebanyak 97 kasus atau 14 persen.
“Sebelum tahun 2000 epidemi HIV di Bali bergerak lambat. Sejak 2003 hingga sekarang terjadi peningkatan tajam melalui hubungan seksual, yang terkonsentrasi pada kelompok populasi kunci,” ujar Patria Nugraha.
Menurutnya, kasus HIV kini telah ditemukan di seluruh wilayah Bali sehingga diperlukan penguatan layanan konseling, edukasi, dan deteksi dini guna mencegah penyebaran yang lebih luas.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Dr. dr. I Nyoman Gede Anom, M.Kes., menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung target eliminasi AIDS pada tahun 2030.
Target tersebut mencakup tidak adanya infeksi baru HIV, tidak ada kematian akibat AIDS, serta terciptanya lingkungan yang bebas diskriminasi terhadap Orang Dengan HIV (ODHIV).
“Baru empat bulan sudah ditemukan 678 kasus. Ini seperti fenomena gunung es karena masih banyak kasus yang belum terdeteksi,” kata Dr. Anom.
Ia menjelaskan bahwa Bali saat ini masih berada dalam kategori epidemi HIV yang terkonsentrasi pada kelompok populasi kunci. Namun tanpa penguatan pencegahan dan penanganan, kondisi tersebut berpotensi berkembang menjadi epidemi yang lebih luas di masyarakat.
“HIV bukan hanya penyakit menular. Dampaknya juga menyentuh aspek sosial, budaya, ekonomi, pendidikan hingga keamanan,” tegasnya.
Dr. Anom juga menyoroti pentingnya layanan konseling dan tes HIV yang profesional, ramah, serta bebas stigma. Menurutnya, stigma masih menjadi hambatan besar dalam upaya menemukan kasus baru dan mendorong masyarakat melakukan pemeriksaan secara sukarela.
“Stigma membuat penemuan kasus menjadi sulit. Padahal ODHIV yang viral load-nya tersupresi tidak menularkan virus dan dapat menjalani kehidupan normal seperti penderita hipertensi maupun diabetes,” ujarnya.
Dalam forum tersebut, para konselor dari daerah dengan jumlah kasus tinggi seperti Denpasar, Badung, dan Buleleng didorong untuk berbagi pengalaman serta strategi dalam meningkatkan penemuan kasus dan edukasi masyarakat.
Patria Nugraha menjelaskan, pertemuan koordinasi tahun ini difokuskan pada empat agenda utama, yakni penyegaran materi dan peningkatan kapasitas konselor, penguatan jejaring serta sistem rujukan antar layanan, identifikasi kendala yang dihadapi di lapangan, serta berbagi praktik terbaik untuk meningkatkan kualitas layanan VCT dan PITC.
Melalui sinergi yang semakin kuat antara konselor, fasilitas kesehatan, dan pemerintah daerah, KPA Bali berharap target penanggulangan HIV/AIDS dapat tercapai secara optimal sehingga Bali mampu mewujudkan eliminasi AIDS pada tahun 2030. (*)

