BALINEWS.ID – Gunung Anak Krakatau kembali menjadi perhatian setelah mengalami episode erupsi menerus selama sekitar 25 jam di Selat Sunda. Erupsi dimulai Jumat, 4 September 2026 pukul 23.07 WIB dan baru berhenti pada Minggu, 6 September 2026 pukul 00.04 WIB.
Namun ada satu hal yang menarik dari gunung ini.
Anak Krakatau bukan gunung yang sudah “selesai” terbentuk. Justru sebaliknya, gunung yang berada di perairan Selat Sunda tersebut masih berada dalam proses membangun tubuhnya sendiri melalui aktivitas vulkanik.
Itulah yang membuat setiap erupsi Anak Krakatau tidak hanya penting untuk dilihat sebagai peristiwa letusan, tetapi juga sebagai bagian dari proses bagaimana sebuah gunung api tumbuh dan berubah.
Pada episode erupsi terbaru, aktivitasnya menyerupai lava fountain atau air mancur lava. Semburan merah menyala terlihat dari pemantauan CCTV pada malam hari, sementara suara gemuruh dan dentuman terdengar dari sejumlah wilayah di sekitar Selat Sunda. Badan Geologi menyebut fenomena seperti ini berkaitan dengan keluarnya material magma dari kawah dan dapat menghasilkan aliran lava.
Tetapi untuk memahami kenapa Anak Krakatau begitu menarik, ceritanya harus ditarik jauh ke belakang.
Dari Krakatau 1883 ke Anak Krakatau

Pada 1883, kompleks vulkanik Krakatau mengalami salah satu erupsi paling besar dalam sejarah modern.
Letusan tersebut menghancurkan sebagian besar tubuh Krakatau dan membentuk kaldera besar di Selat Sunda. Peristiwa itu juga menghasilkan tsunami yang menerjang wilayah pesisir di sekitar Selat Sunda.
Krakatau kemudian tidak benar-benar “mati”.
Aktivitas vulkanik kembali muncul dari kawasan kaldera. Pada akhir 1927, letusan mulai tercatat dari bawah permukaan laut. Material vulkanik terus keluar dan menumpuk hingga akhirnya sebuah gunung baru muncul ke permukaan pada 1929.
Gunung baru itulah yang kemudian dikenal sebagai Anak Krakatau.
Dengan kata lain, Anak Krakatau secara harfiah lahir dari sisa-sisa kawasan yang pernah dihancurkan oleh erupsi besar.
Sejak saat itu, prosesnya terus berjalan.
Magma dari dalam bumi bergerak menuju permukaan. Ketika mencapai permukaan, magma dapat keluar sebagai lava bersama abu dan material vulkanik lainnya. Material tersebut kemudian menumpuk di sekitar pusat erupsi.
Jika proses itu terjadi berulang kali, tubuh gunung dapat bertambah dan berubah bentuk.
Itulah yang disebut sebagai fase konstruksi gunung api.
Badan Geologi mencatat bahwa setelah tsunami 22 Desember 2018, seri erupsi berskala rendah Anak Krakatau terus berlangsung sebagai bagian dari fase konstruksi pertumbuhan kembali gunung tersebut hingga Desember 2023. Aktivitas kemudian kembali meningkat pada 2026.
Jadi, ketika Anak Krakatau kembali menyemburkan lava, ada dua proses yang sebenarnya sedang berlangsung sekaligus: aktivitas magma di dalam bumi dan pembangunan tubuh gunung di permukaan.
Kenapa 2018 menjadi bagian penting dari cerita ini?
Di sinilah cerita Anak Krakatau menjadi lebih rumit.
Gunung yang terus membangun tubuhnya ternyata juga bisa kehilangan bagian dari tubuh tersebut.
Pada 22 Desember 2018, sebagian tubuh Anak Krakatau longsor ke laut. Material vulkanik dalam jumlah besar yang masuk ke perairan kemudian memicu tsunami di kawasan Selat Sunda.
BMKG menjelaskan bahwa tsunami tersebut bukan dipicu oleh gempa tektonik seperti kebanyakan tsunami yang selama ini dikenal masyarakat. Peristiwa itu berkaitan dengan aktivitas vulkanik dan longsoran material gunung ke laut.
Inilah mengapa bentuk tubuh Anak Krakatau menjadi sangat penting.
Gunung api bukan hanya soal apakah lava sedang menyembur atau tidak. Para ilmuwan juga perlu melihat apakah tubuh gunung mengalami perubahan, apakah ada bagian yang tidak stabil, bagaimana aktivitas magma berkembang, dan bagaimana material vulkanik berinteraksi dengan laut.
Dengan pengalaman 2018, perubahan morfologi Anak Krakatau menjadi salah satu hal yang terus dipantau.
Namun kondisi sekarang tidak berarti mengulang kejadian 2018.
Dalam laporan khusus 5 September 2026, Badan Geologi menyatakan bahwa tubuh Anak Krakatau yang kembali tumbuh setelah erupsi 2018 masih relatif kecil dan berdasarkan evaluasi saat itu tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami. Meski demikian, perubahan morfologi dan perkembangan aktivitas tetap dipantau secara intensif.
Artinya, erupsi saat ini tidak boleh langsung diterjemahkan sebagai tanda tsunami akan terjadi.

Apa yang terjadi pada Anak Krakatau sekarang?
Episode erupsi menerus yang dimulai pada 4 September akhirnya berhenti pada 6 September pukul 00.04 WIB.
Tetapi berhentinya episode tersebut bukan berarti aktivitas gunung selesai.
PVMBG mencatat satu erupsi susulan bertipe Strombolian pada pukul 03.53 WIB dengan durasi sekitar 30 detik. Pemantauan instrumental juga menunjukkan dinamika vulkanisme masih berlangsung.
Bahkan, PVMBG menyebut potensi letusan susulan dalam beberapa waktu ke depan masih tergolong tinggi. Bahayanya dapat berupa lontaran batu pijar, hujan abu lebat, dan kemungkinan aliran lava apabila erupsi menerus kembali terjadi.
Karena itu, status Anak Krakatau masih Level III atau Siaga.
Masyarakat, wisatawan, dan pendaki juga tetap dilarang melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung.
Bagi masyarakat yang tinggal di pesisir Banten dan Lampung, pemerintah meminta agar tetap tenang dan tidak mudah percaya pada informasi yang menyebut erupsi saat ini otomatis akan menyebabkan tsunami.
Ini penting karena pengalaman 2018 memang membuat kata “Anak Krakatau” dan “tsunami” mudah muncul bersamaan. Tetapi secara ilmiah, keduanya tidak otomatis memiliki hubungan setiap kali gunung tersebut erupsi.
Tsunami membutuhkan mekanisme tertentu, salah satunya longsoran material gunung dalam jumlah signifikan ke laut.
Gunung yang belum selesai dibentuk

Pada akhirnya, mungkin inilah cara paling sederhana memahami Anak Krakatau.
Gunung ini bukan sekadar sisa Krakatau.
Ia adalah gunung baru yang lahir dari kawasan yang pernah mengalami kehancuran besar, kemudian tumbuh dari laut melalui akumulasi material vulkanik selama hampir satu abad.
Karena masih aktif membangun tubuhnya, bentuk Anak Krakatau dapat berubah mengikuti aktivitas magma.
Kadang material baru keluar dan membuat tubuh gunung bertambah.
Kadang bagian tubuhnya dapat runtuh.
Dan ketika sebagian material masuk ke laut, risikonya bisa berubah menjadi persoalan yang jauh lebih besar.
Itulah sebabnya para ilmuwan tidak hanya menunggu apakah Anak Krakatau akan meletus lagi.
Mereka mengamati bagaimana gunung itu tumbuh, bagaimana bentuknya berubah, bagaimana energi dari dalam bumi bergerak, dan apakah perubahan tersebut membuat tubuh gunung semakin stabil atau justru sebaliknya.
Untuk saat ini, episode erupsi menerus memang sudah berakhir. Tetapi Anak Krakatau masih berstatus Siaga dan aktivitas vulkaniknya belum dianggap selesai.
Gunung muda itu masih bekerja di tengah Selat Sunda—perlahan membangun tubuhnya, sambil terus menunjukkan bahwa sebuah gunung api tidak pernah benar-benar diam.
