SEMARANG, BALINEWS.ID – Setelah hampir tiga dekade menetap dan berkarya di Bali, perupa Aricadia kembali ke kota kelahirannya, Semarang, melalui pameran tunggal bertajuk “Pareidolia: KemBALInya Wong Semarang”. Pameran yang mengusung medium drawing dan patung ini akan digelar di Tan Artspace, Jalan Papandayan No. 11, Gajahmungkur, Semarang, pada 23 Agustus hingga 7 September 2026.
Pembukaan pameran dijadwalkan berlangsung pada Minggu (23/8) pukul 18.00 WIB dan akan diresmikan oleh Dosen Program Pascasarjana Universitas Bunda Mulia Jakarta, Dr. Hans Harischandra Tanuraharjo.
Pameran tersebut menjadi penanda perjalanan pulang Aricadia ke kota yang membentuk masa kecil sekaligus awal perjalanan kreatifnya. Setelah 28 tahun membangun karier seni di Bali, Semarang kembali menjadi ruang pertemuan antara identitas, pengalaman hidup, dan proses artistik yang telah ditempanya selama bertahun-tahun.
Lahir di Semarang, Aricadia sempat menempuh pendidikan di Fakultas Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata. Latar belakang akademik tersebut kemudian banyak memengaruhi karakter karya-karyanya yang menempatkan manusia sebagai pusat eksplorasi visual. Figur-figur ekspresif yang hadir dalam drawing maupun patung menjadi representasi berbagai sisi kepribadian, emosi, hingga pengalaman manusia.
Meski telah menjadikan Bali sebagai rumah kreatif selama hampir tiga dekade, hubungan emosional Aricadia dengan Semarang tidak pernah terputus. Ia pernah kembali menggelar pameran di Museum Ronggowarsito dan Puri Garden Hotel pasca-tragedi Bom Bali 2002, kemudian menjadi peserta Biennale Jawa Tengah pada 2016. Melalui pameran “Pareidolia”, kepulangannya kali ini menjadi penegasan atas perjalanan artistik yang telah berkembang semakin matang.
Di dunia seni rupa Bali, Aricadia dikenal bukan hanya sebagai seniman, tetapi juga penggerak komunitas. Ia merupakan pendiri sekaligus koordinator Perupa Wanita Mahalakshmi, komunitas yang selama ini aktif memberikan ruang berkarya, berdiskusi, dan berpameran bagi seniman perempuan. Berbagai kegiatan seni, mulai dari pameran, diskusi hingga penulisan, banyak lahir dari inisiatifnya sebagai bentuk komitmen terhadap pemberdayaan perempuan di bidang seni rupa.
Dedikasi tersebut membuat Aricadia lebih sering berada di balik layar sebagai penyelenggara dan fasilitator kegiatan seni dibanding menampilkan karya pribadinya. Karena itu, pameran tunggal ini menjadi momentum penting untuk memperlihatkan hasil perjalanan kreatif yang selama ini berkembang di balik aktivitasnya membangun komunitas.
Dalam pameran tersebut, Aricadia menghadirkan 28 karya drawing dan lima karya patung wajah yang mengangkat tema pareidolia, yakni fenomena psikologis ketika seseorang melihat wajah atau pola tertentu pada bentuk-bentuk yang sebenarnya acak.
Bagi Aricadia, konsep pareidolia tidak berhenti sebagai gejala persepsi visual. Melalui garis-garis spontan yang berkembang menjadi figur manusia, ia mengajak pengunjung menemukan makna berdasarkan pengalaman dan ingatan masing-masing. Tidak ada interpretasi yang dianggap paling benar karena setiap karya sengaja dibuka sebagai ruang dialog antara seniman dan penikmatnya.
Pendekatan tersebut juga dipengaruhi oleh latar belakang psikologi yang pernah dipelajarinya. Wajah-wajah yang muncul dalam karya bukanlah potret individu tertentu, melainkan representasi berbagai lapisan karakter manusia, mulai dari kegembiraan, kecemasan, kemarahan, humor hingga sisi bawah sadar yang kerap tersembunyi.
Eksplorasi itu diperkuat melalui karya patung tiga dimensi yang semakin menonjolkan ekspresi wajah sebagai simbol kompleksitas pengalaman manusia. Sementara pada medium drawing, garis-garis sederhana berkembang menjadi bentuk-bentuk ekspresif yang memberi ruang tafsir luas bagi setiap pengunjung.
Konsep pameran turut diperkaya melalui esai katalog karya Muhammad Rahman Athian, S.Pd., M.Sn., dosen seni Universitas Negeri Semarang (UNNES). Dalam kajiannya, ia menilai pareidolia bukan sekadar fenomena psikologis, melainkan pendekatan artistik yang mempertemukan persepsi, pengalaman, dan imajinasi dalam proses penciptaan maupun apresiasi seni.
Menurut Athian, makna karya-karya Aricadia lahir melalui interaksi antara visual yang disajikan dengan pengalaman personal setiap penikmatnya. Figur-figur yang muncul dalam drawing maupun patung menjadi cermin yang mengajak pengunjung mengenali dirinya sendiri melalui proses interpretasi yang bebas.
Melalui “Pareidolia: KemBALInya Wong Semarang”, Aricadia tidak sekadar menghadirkan pameran seni, tetapi juga merayakan perjalanan pulang menuju akar kehidupannya. Pameran ini menjadi refleksi atas hampir tiga dekade proses kreatif yang telah dijalani, sekaligus penghormatan kepada Semarang sebagai kota yang membentuk identitasnya sebagai seniman. (*)
