Belum Reda Soal Diskriminasi di Ajang Lari, Bali Kini Dihebohkan Kasus WNA Keluarkan Semua WNI dari Grup WhatsApp

Foto: Sergey Melnikov diduga mengeluarkan seluruh warga negara Indonesia (WNI) dari grup WhatsApp "Garage Sales in Amed". (Dok. Tangkapan layar akun @chrisgiacobbecomedy)
Foto: Sergey Melnikov diduga mengeluarkan seluruh warga negara Indonesia (WNI) dari grup WhatsApp "Garage Sales in Amed". (Dok. Tangkapan layar akun @chrisgiacobbecomedy)

Isu diskriminasi terhadap warga Indonesia di Bali belum benar-benar mereda. Setelah sebelumnya memicu perdebatan lewat dugaan perlakuan berbeda terhadap peserta lokal dalam sebuah ajang lari di Canggu, kini muncul kontroversi baru yang kembali menyita perhatian publik.

Kali ini, sorotan mengarah ke sebuah grup WhatsApp komunitas di Amed, Kabupaten Karangasem.

Konten kreator asal Italia, Christian Giacobbe, mengungkap dugaan tindakan diskriminatif yang dilakukan seorang warga negara asing (WNA) bernama Sergey Melnikov, administrator grup WhatsApp “Garage Sales in Amed”. Dalam video yang diunggah melalui akun Instagram @chrisgiacobbecomedy, Chris menyebut Sergey sempat mengeluarkan seluruh anggota yang menggunakan nomor Indonesia dari grup tersebut.

“Ini Sergey, pembuat grup Garage Sales in Amed. Suatu ketika, dia memutuskan mengeluarkan seluruh orang Indonesia dari grup,” kata Chris dalam video yang diunggah pada Senin (27/7/2026).

Video itu kemudian menyebar luas di media sosial dan memicu gelombang kritik dari warganet.

BACA JUGA :  Polda Bali Buka Suara Soal Geng WNA Culik dan Rampas Aset Kripto Bule Ukraina di Kuta Selatan

Beralasan Demi “Keamanan” Komunitas Ekspatriat

Chris juga menampilkan tangkapan layar pesan yang diduga ditulis Sergey kepada anggota grup.

Dalam pesan tersebut, Sergey menjelaskan bahwa grup awalnya dibuat untuk komunitas ekspatriat di Amed. Namun, karena semakin banyak warga lokal bergabung dan dianggap tidak lagi mengikuti aturan, ia memutuskan mengeluarkan mereka.

“Grup ini seharusnya diperuntukkan bagi komunitas ekspatriat. Namun, karena semakin banyak warga lokal bergabung dan mulai mengabaikan aturan, saya memutuskan mengeluarkan mereka agar seluruh warga asing merasa lebih aman,” tulis Sergey dalam pesan yang dibagikan Chris.

Sergey juga menyebut anggota Indonesia yang bersedia mematuhi aturan dapat bergabung kembali dan meminta agar keputusannya tidak dianggap sebagai persoalan pribadi.

Namun, alasan tersebut justru memicu keberatan dari sejumlah anggota grup.

Dalam video Chris, beberapa anggota mempertanyakan keputusan itu karena, menurut mereka, banyak warga Indonesia yang dikeluarkan tidak pernah melanggar aturan apa pun.

BACA JUGA :  Viral! Pria Pakistan Meminta-Minta di Desa Bona Blahbatuh, Warga Dibuat Resah

Salah satu komentar berbunyi, “Kamu baru saja mengeluarkan semua orang Indonesia dari grup?”

Komentar lain menyebut pasangan mereka ikut dikeluarkan meski tidak pernah melanggar aturan komunitas.

Sergey: Grup Dibuat untuk Jual Beli Barang Bekas Ekspatriat

Setelah menuai kritik, Sergey memberikan penjelasan.

Ia mengatakan grup tersebut sejak awal memang dibuat sebagai wadah jual beli barang bekas bagi komunitas ekspatriat di Amed, bukan sebagai grup komunitas umum.

Menurutnya, dalam beberapa waktu terakhir ia menerima banyak pesan dari anggota asing yang mengkhawatirkan aktivitas di dalam grup, terutama setelah muncul pemberitaan mengenai penindakan keimigrasian terhadap sejumlah WNA di Bali.

Sergey mengklaim kekhawatiran itu berkaitan dengan unggahan yang menawarkan jasa, penyewaan kembali, hingga penjualan barang yang dinilai berpotensi menimbulkan persoalan hukum.

Meski demikian, penjelasan tersebut belum meredakan kritik. Banyak warganet menilai mengeluarkan seluruh anggota berdasarkan identitas atau kode nomor telepon negara merupakan tindakan yang sulit dibenarkan, terlepas dari alasan yang dikemukakan.

BACA JUGA :  Pengakuan Eks Pemain Sirkus Soal Penyiksaan, Taman Safari Angkat Bicara

Imigrasi Masih Menunggu Hasil Penelusuran

Menanggapi polemik tersebut, Humas Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Ngurah Rai, Husnan, mengatakan pihaknya masih memeriksa informasi yang beredar.

Menurutnya, aktivitas di dalam grup WhatsApp pada dasarnya merupakan ranah privat. Namun, Imigrasi akan menelusuri jika ditemukan dugaan pelanggaran yang berkaitan dengan izin tinggal atau kegiatan yang dilakukan warga negara asing.

“Kalau ada laporan masuk, akan segera ditindaklanjuti,” kata Husnan.

Kasus ini kembali membuka diskusi mengenai hubungan antara komunitas ekspatriat dan masyarakat lokal di Bali.

Pulau ini selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu destinasi paling terbuka bagi warga asing. Namun, sejumlah kontroversi dalam beberapa bulan terakhir menunjukkan bahwa hidup berdampingan di ruang yang sama juga menuntut penghormatan terhadap prinsip kesetaraan dan saling menghargai.

Tag

Catatan: Jika Anda memiliki informasi tambahan, klarifikasi, atau menemukan kesalahan dalam artikel ini, jangan ragu untuk menghubungi kami melalui email atau melalui kontak di situs kami.

ucapan-galungan-dprd-klungkung
KPP FEED IG QR_new

Breaking News

Baca Lainnya