Bendesa Adat Intaran Buka Suara Soal LNG, Tegaskan Tak Ada Alasan Penolakan

Bendesa Adat Intaran, I Gusti Agung Alit Kencana saat ditemui di lokasi acara bersih pantai.
Bendesa Adat Intaran, I Gusti Agung Alit Kencana saat ditemui di lokasi acara bersih pantai.

DENPASAR, BALINEWS.ID – Rencana pembangunan proyek Floating Storage Regasification Unit (FSRU) atau Terminal Apung Liquefied Natural Gas (LNG) di perairan Sidakarya, Serangan, dan Desa Adat Intaran terus menuai perhatian. Proyek tersebut direncanakan dibangun sekitar 3,5 kilometer dari pesisir Pantai Sidakarya.

Bendesa Adat Intaran, I Gusti Agung Alit Kencana, menegaskan bahwa pihaknya tidak memiliki alasan untuk menolak proyek LNG selama lokasinya berada di tengah laut dan jauh dari garis pantai.

Pernyataan itu disampaikannya saat menghadiri kegiatan aksi bersih pantai yang digelar Ikatan Wartawan Online (IWO) Bali, Minggu (15/2/2026). Ia meluruskan isu yang menyebut masyarakat Bali menolak proyek LNG.

BACA JUGA :  Toko Makanan Siap Saji di Denpasar Utara Terbakar, Kerugian Ditaksir Ratusan Juta

“Isu yang menyebut masyarakat Bali menolak proyek LNG itu tidak benar. Yang sebelumnya kami tidak setuju adalah karena lokasinya direncanakan hanya berjarak 500 meter dari pantai. Namun sekarang sudah digeser menjadi 3,5 kilometer atau berada di tengah laut, sehingga tidak ada alasan bagi kami untuk menolak,” tegasnya.

Menurut Alit Kencana, penolakan sebelumnya muncul karena kekhawatiran terhadap potensi dampak lingkungan, seperti kerusakan ekosistem laut, terumbu karang, hutan mangrove, hingga gangguan terhadap sektor pariwisata. Namun setelah mendapatkan sosialisasi dari pemerintah dan pihak pemrakarsa, masyarakat mulai memahami bahwa proyek ini diklaim memiliki risiko minimal.

BACA JUGA :  Lagi Trending! ini Lirik Lagu Jika Tidak Hari Ini Mungkin Minggu Depan

Ia menjelaskan, LNG direncanakan sebagai pengganti bahan bakar solar pada pembangkit listrik, sehingga dinilai lebih bersih dan sejalan dengan upaya mendukung Bali sebagai destinasi wisata berkelanjutan. Selain itu, proyek ini juga diproyeksikan untuk mengantisipasi potensi kekurangan pasokan energi di masa mendatang.

“Memang disampaikan proyek ini aman. LNG juga bukan yang pertama di Bali. Terminal LNG di Pelabuhan Benoa sudah beroperasi sejak 2016 dan sudah berjalan sekitar 10 tahun tanpa persoalan berarti,” ujarnya.

BACA JUGA :  Pemerintah Karangasem Buat Terobosan, Buka Panggung Bebas Bicara Mulai April 2025

Meski demikian, ia tetap mengingatkan bahwa sektor energi memiliki potensi risiko yang harus diperhitungkan secara matang. Ia berharap seluruh aspek keselamatan dan dampak lingkungan benar-benar dikaji secara komprehensif sebelum proyek direalisasikan.

Alit Kencana juga menyampaikan hal tersebut di hadapan Gubernur Bali saat kunjungan ke Sanur. Ia berharap proyek terminal apung LNG yang direncanakan dibangun pada 2026 dapat berjalan lancar, aman, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Bali, khususnya warga sekitar wilayah terdampak. (*)

Tag

Catatan: Jika Anda memiliki informasi tambahan, klarifikasi, atau menemukan kesalahan dalam artikel ini, jangan ragu untuk menghubungi kami melalui email atau melalui kontak di situs kami.

ucapan-galungan-dprd-klungkung
KPP FEED IG QR_new

Breaking News

Baca Lainnya