Slot Header 970×90

Efek Domino Aturan Saham Rp1: Saham Gocap Tak Lagi Punya Lantai, Puluhan Emiten Terjun ke Rp43

Oleh Giostanovlatto Sinantong · Redaksi

29 September 2026 pukul 22.22 WITA · 4 menit baca

Foto Ilustrasi
Foto Ilustrasi

BALINEWS, JAKARTA — Era saham “gocap” resmi berakhir. Mulai Senin, 28 September 2026, batas minimum harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) tidak lagi berhenti di Rp50. Harga saham kini bisa bergerak hingga Rp1 per lembar.

Perubahan tersebut bukan sekadar pergantian angka di papan perdagangan. Bagi investor yang selama ini terbiasa melihat saham bertahan di level Rp50, aturan baru ini seperti membuka sebuah pintu yang selama bertahun-tahun terkunci: harga saham kini memiliki ruang untuk mencari titik keseimbangan baru.

Masalahnya, pintu tersebut dibuka bersamaan dengan derasnya tekanan jual.

Pada hari pertama penerapan aturan baru, sejumlah saham yang sebelumnya tertahan di level Rp50 langsung merosot ke Rp43 per saham. Penurunan sekitar 14% itu menunjukkan bahwa level Rp50 selama ini memang menjadi semacam “lantai psikologis” bagi sebagian saham berharga rendah.

Begitu lantai tersebut dihilangkan, pasar langsung menunjukkan wajah aslinya.

Dari Gocap ke Rp43, dan Bisa Lebih Rendah Lagi

Sejumlah saham yang sebelumnya berada di sekitar batas bawah perdagangan ikut terseret tekanan jual.

PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), misalnya, terpantau merosot hingga Rp43 per saham. Tekanan jual juga terlihat pada sejumlah emiten lain, termasuk PT Diamond Citra Propertindo Tbk (DADA).

Saham BBKP, KPIG, LPKR, NETV hingga PADI juga masuk dalam pusaran pelemahan.

Fenomena tersebut memperlihatkan konsekuensi paling langsung dari aturan baru: Rp50 tidak lagi menjadi titik akhir ketika investor ingin keluar dari sebuah saham.

Jika tekanan jual terus berlanjut, harga masih memiliki ruang untuk bergerak turun.

Dan di sinilah persoalan sebenarnya dimulai.

Pada saham berharga Rp5, penurunan Rp1 berarti kehilangan 20% nilai dalam satu gerakan. Pada harga Rp2, penurunan Rp1 berarti separuh nilai saham menguap.

Dengan kata lain, semakin murah sebuah saham, semakin brutal dampak perubahan nominal kecil terhadap persentase keuntungan maupun kerugian investor.

BEI Mengubah Peta Auto Rejection

Perubahan batas harga minimum tersebut berjalan bersamaan dengan perubahan ketentuan Auto Rejection.

Dalam masa transisi hingga 31 Desember 2026, BEI menerapkan batas sebagai berikut:

Rentang Harga| ARA| ARB

Rp1–Rp10| Rp1| Rp1

>Rp10–Rp200| 35%| 15%

>Rp200–Rp5.000| 25%| 15%

>Rp5.000| 20%| 15%

Artinya, saham yang berada di rentang Rp11 hingga Rp200 memiliki batas penurunan harian 15%.

Itulah yang membuat saham Rp50 dapat bergerak menuju Rp43 dalam satu sesi.

Namun, untuk saham yang sudah berada di bawah Rp10, mekanismenya menjadi jauh lebih ekstrem karena batas pergerakan ditentukan secara nominal.

Dalam kondisi tertentu, selisih Rp1 bukan lagi sekadar selisih harga. Ia bisa menjadi persentase kerugian yang sangat besar.

Price Discovery atau Membuka Kotak Pandora?

BEI menyebut perubahan ini sebagai bagian dari upaya memperbaiki mekanisme pembentukan harga atau price discovery.

Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta Utama, menilai perubahan tersebut memberikan ruang lebih besar bagi harga saham untuk bergerak berdasarkan mekanisme permintaan dan penawaran.

Namun, ruang tersebut datang bersama konsekuensi berupa volatilitas yang lebih tinggi, terutama pada saham dengan harga sangat rendah.

Sementara itu, Head of Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana menyoroti adanya kapitalisasi pasar yang selama ini tertahan di sekitar batas harga minimum Rp50.

Menurut catatan Infovesta, sekitar Rp90 triliun kapitalisasi pasar disebut berada dalam kondisi tersebut, dengan GOTO menjadi salah satu kontributor terbesar.

Perspektif ini memperlihatkan dua sisi dari kebijakan baru.

Di satu sisi, harga saham akhirnya dapat mencari titik yang lebih mencerminkan kondisi pasar.

Di sisi lain, investor yang selama ini menganggap Rp50 sebagai “harga paling bawah” harus menerima kenyataan bahwa tidak ada lagi lantai psikologis tersebut.

IHSG Tak Goyah, Investor Ritel yang Harus Waspada

Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menegaskan bahwa pelemahan sejumlah saham berharga rendah tidak serta-merta berarti seluruh tekanan tersebut menjadi penyebab utama pergerakan IHSG.

Bobot saham-saham yang terdampak di bawah Rp50 disebut hanya sekitar 1,91% dari total bobot IHSG.

Dengan demikian, dampak langsungnya terhadap indeks utama relatif terbatas.

Tetapi angka IHSG bukan satu-satunya ukuran persoalan.

Bagi investor yang memiliki saham-saham tersebut, penurunan dari Rp50 menjadi Rp43 bukanlah angka kecil.

Apalagi jika harga terus bergerak turun.

Di sinilah perubahan aturan tersebut menjadi lebih terasa di level investor ritel: yang berubah bukan hanya batas harga saham, tetapi juga cara investor harus memandang risiko.

Ketika Rp1 Bukan Lagi Harga Mustahil

Selama bertahun-tahun, Rp50 menjadi semacam batas psikologis yang membuat investor terbiasa berpikir bahwa saham tidak akan jatuh lebih rendah lagi.

Kini persepsi itu selesai.

Harga Rp20, Rp10, bahkan Rp1 bukan lagi angka teoritis.

Saham dengan fundamental yang lemah kini memiliki ruang untuk mencari harga yang lebih rendah. Sebaliknya, emiten yang mampu memperbaiki kinerja fundamental juga memiliki kesempatan menemukan harga yang lebih mencerminkan prospek bisnisnya.

Itulah inti dari price discovery.

Namun, bagi investor ritel, pesan dari hari pertama penerapan aturan ini cukup jelas:

Saham murah belum tentu murah.

Harga Rp50 bisa turun menjadi Rp43. Rp10 bisa kehilangan separuh nilainya hanya karena pergerakan nominal yang kecil. Dan Rp1 kini bukan lagi batas yang mustahil.

Era saham gocap mungkin telah berakhir.

Tetapi pertanyaan yang lebih besar baru dimulai:

ketika lantai Rp50 dihilangkan, seberapa jauh pasar akan membiarkan sebuah saham jatuh sebelum menemukan harga wajarnya?

Penulis: Rushel Ambarita (Balinews Jakarta)

Giostanovlatto Sinantong

Giostanovlatto Sinantong

Giostanovlatto adalah pendiri Hey Bali yang lebih sering bertanya "kenapa?" daripada "gimana?". Ia percaya berita yang bagus bukan yang paling cepat bikin heboh, tapi yang paling mudah dipahami. Kalau lagi nggak nulis, biasanya lagi surfing, ngopi, sunsetan, kadang liputan, kadang nyamar jadi CEO, curhat sama anjingnya, atau bengong di trotoar Renon sambil mencari ide. Belum pernah menang giveaway, tapi tetap optimis. Kalau chat-nya centang dua tapi nggak dibalas, anggap saja sedang mengejar rekor tidur.

0 komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Komentar langsung tayang. Komentar spam atau tidak pantas akan disembunyikan/dihapus redaksi.