DENPASAR, BALINEWS.ID – Di tengah tekanan situasi geopolitik global yang berdampak pada perekonomian nasional pada 2026, sebagian masyarakat mulai membandingkan kondisi saat ini dengan kehidupan era 1960-an. Kini harga kebutuhan pokok meningkat, biaya pendidikan mahal—terutama jurusan kedokteran—serta ketatnya persaingan kerja di sektor swasta maupun sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN). Kondisi ini memunculkan anggapan bahwa hidup pada masa lalu terasa lebih ringan dan murah.
Namun, benarkah demikian?
Seorang kakek asal Denpasar mengenang, kehidupan pada dekade 1960-an jauh berbeda dengan sekarang. Saat itu, keluarga cenderung memiliki banyak anak untuk membantu orang tua bekerja di ladang. Meski harga barang dan pangan relatif murah, daya beli masyarakat terbatas.
“Dulu satu butir telur dimasak lalu dibagi untuk lima anggota keluarga,” kenangnya. Ia juga menceritakan bahwa konsumsi daging babi dan buah-buahan hanya terjadi saat hari raya seperti odalan dan Galungan. “Sekarang setiap hari ada yang jual be guling. Toko buah ada di mana-mana, bikin jus bisa setiap hari,” ujarnya.
Harga tanah dan kebutuhan pokok pada masa itu memang tergolong murah. Namun inflasi dan rendahnya pendapatan membuat tidak semua orang mampu membeli barang-barang tersebut. Sepeda motor, misalnya, hanya dimiliki kalangan tertentu seperti bangsawan atau saudagar. Televisi pun menjadi barang langka. Dalam satu banjar, mungkin hanya satu rumah yang memiliki televisi, itupun menggunakan aki karena listrik belum tersedia secara luas.
Berbeda dengan kondisi saat ini. Akses terhadap barang konsumsi jauh lebih terbuka. Skema kredit dan cicilan kendaraan bermotor memungkinkan masyarakat dari berbagai kalangan memiliki sepeda motor hingga mobil. Televisi, listrik, hingga perangkat digital menjadi kebutuhan umum yang relatif mudah dijangkau.
Di bidang pendidikan, menurutnya, masa lalu juga memiliki tantangan berbeda. Meski biaya kuliah tidak setinggi sekarang, minat melanjutkan pendidikan tinggi masih rendah. Banyak anak muda memilih bekerja di sawah karena merasa telah memiliki lahan luas. Namun, bagi yang berhasil meraih gelar sarjana, peluang kerja relatif lebih terbuka dan cepat terserap.
Kini, kondisi berbalik. Biaya pendidikan tinggi meningkat signifikan, sementara lulusan perguruan tinggi belum tentu langsung memperoleh pekerjaan. Persaingan semakin ketat seiring pertumbuhan jumlah penduduk dan perubahan struktur ekonomi.
Meski demikian, dari sisi konsumsi pangan, masyarakat 2026 dinilai lebih sejahtera. Jarang terdengar lagi kisah satu telur dibagi lima. Yang ada, satu anak bisa menikmati satu porsi ayam cepat saji atau “ACK” sendiri.
Perbandingan lintas generasi ini menunjukkan bahwa setiap era memiliki tantangan dan keunggulannya masing-masing. Harga mungkin lebih murah di masa lalu, tetapi akses dan daya beli belum tentu lebih baik. Sebaliknya, meski biaya hidup meningkat saat ini, pilihan dan ketersediaan barang serta layanan jauh lebih luas.
Romantisme masa lalu kerap hadir di tengah tekanan zaman. Namun fakta-fakta keseharian menunjukkan, kesejahteraan tidak hanya diukur dari murahnya harga, melainkan juga dari akses, kesempatan, dan kualitas hidup yang dirasakan masyarakat.

