BALINEWS.ID – Dalam beberapa detik, sebuah gempa mengubah rumah menjadi reruntuhan dan membuat tim penyelamat harus mencari manusia di antara beton, debu, dan pecahan bangunan.
Kolombia kini menghadapi salah satu bencana gempa terburuknya dalam beberapa dekade. Gempa berkekuatan magnitudo 7,4 mengguncang wilayah barat negara itu pada Senin, 10 Agustus 2026, dan tercatat sebagai gempa terkuat yang pernah tercatat di Kolombia pada abad ke-21.
Sedikitnya 111 orang meninggal dunia, sementara korban luka dan kerusakan masih terus didata. Presiden Kolombia Abelardo de la Espriella menetapkan keadaan darurat nasional dan mengerahkan personel untuk mencari warga yang masih mungkin terjebak di bawah reruntuhan.
Yang membuat situasi semakin sulit, wilayah terdampak bukan hanya satu kota.
Cali, Pereira, Armenia, Manizales hingga Quibdó ikut merasakan dampaknya. Lebih dari 1.600 bangunan dilaporkan mengalami kerusakan dan sedikitnya 61 bangunan runtuh total, menurut laporan yang dikutip Associated Press.
Gempa Berpusat di Kedalaman 107 Kilometer
Pusat gempa berada di sekitar San José del Palmar, wilayah Chocó, sekitar 400 kilometer sebelah barat Bogotá. USGS mencatat kedalaman gempa sekitar 107 kilometer.
Kedalaman ini menarik perhatian para ahli karena secara umum gempa yang lebih dalam cenderung menghasilkan guncangan permukaan yang lebih kecil dibandingkan gempa dangkal dengan kekuatan serupa.
Namun kali ini ceritanya berbeda.
Kekuatan M7,4, lokasi sumber gempa di daratan, serta karakter pergerakan patahan disebut ikut memperbesar dampak guncangan di sejumlah lembah yang padat penduduk. Seismolog Northwestern University Suzan van der Lee mengatakan besarnya magnitudo membuat guncangan tetap sangat kuat meskipun sumbernya berada jauh di bawah permukaan.
Rumah Sakit Rusak, Bangunan Ambruk
Kerusakan terlihat di sejumlah kota.
Di Pereira, sebuah bangunan empat lantai runtuh. Di Manizales, salah satu menara samping katedral bergaya neo-Gotik ikut roboh dan material bangunan jatuh ke jalan.
Di Cali, situasinya bahkan menyentuh fasilitas kesehatan. Petugas penyelamat harus mengevakuasi warga dari sebuah rumah sakit melalui jendela menggunakan tali.
Namun di tengah kehancuran itu, muncul juga cerita penyelamatan yang membuat operasi pencarian terus dilakukan.
Di Cali, petugas berhasil menemukan bayi perempuan berusia enam bulan bersama ibunya di bawah reruntuhan bangunan lima lantai. Tim penyelamat juga mengevakuasi sejumlah warga lain dari bangunan yang ambruk.
Di Pereira, petugas masih berusaha berkomunikasi dengan seorang anak laki-laki yang dilaporkan terjebak di bawah reruntuhan sebuah toko roti.
Karena sejumlah bangunan tidak stabil, proses pencarian tidak bisa dilakukan sembarangan. Petugas dan relawan harus menggunakan tangan serta peralatan sederhana di sejumlah lokasi untuk memindahkan puing tanpa membahayakan korban yang mungkin masih hidup.

21 Gempa Susulan Sudah Tercatat
Gempa utama memang sudah berlalu, tetapi bahaya belum selesai.
Survei Geologi Kolombia mencatat sedikitnya 21 gempa susulan hingga Senin malam. Getaran berikutnya masih mungkin terjadi dan dapat menjadi ancaman serius bagi bangunan yang sudah kehilangan sebagian kekuatannya.
Sejumlah bandara di wilayah terdampak, termasuk Pereira, Manizales, Quibdó, Armenia, Cartago dan Buenaventura, menghentikan sementara operasional untuk memungkinkan pemeriksaan struktur bangunan.
Beberapa kota juga menerapkan jam malam karena pemerintah mengantisipasi penjarahan di tengah kondisi darurat.
Festival Petronio Álvarez, salah satu perayaan besar musik dan budaya Pasifik Kolombia yang dijadwalkan berlangsung di Cali, turut ditunda akibat bencana tersebut.
Kolombia Punya Trauma Gempa Besar
Bagi Kolombia, gempa ini juga membangkitkan ingatan lama.
Pada 25 Januari 1999, gempa sekitar M6,1 mengguncang kawasan Eje Cafetero. Kota Armenia menjadi salah satu wilayah yang paling parah terdampak, dengan 921 orang meninggal, 5.377 orang terluka, dan lebih dari 21.000 rumah rusak atau hancur, menurut catatan resmi Survei Geologi Kolombia.
Itulah sebabnya gempa M7,4 kali ini menjadi perhatian besar.
Kolombia memang berada di kawasan dengan aktivitas tektonik tinggi. Tetapi seperti yang kembali terlihat dalam bencana ini, besarnya angka magnitudo bukan satu-satunya penentu jumlah korban.
Lokasi gempa, kondisi tanah, kualitas bangunan, kepadatan penduduk dan kesiapan menghadapi bencana semuanya ikut menentukan.
Dan ketika semua faktor itu bertemu dalam satu pagi, beberapa detik saja sudah cukup untuk mengubah sebuah kota.
