Koster Ajak Warga Bali Kembali Punya Empat Anak, Demi Jaga Masa Depan Krama Bali

Gubernur Bali Wayan Koster.
Gubernur Bali Wayan Koster.

BADUNG, BALINEWS.ID – Gubernur Bali Wayan Koster mengajak masyarakat Bali untuk kembali membangun keluarga dengan empat anak sebagai langkah menjaga keberlangsungan budaya, adat istiadat, dan eksistensi krama Bali di tengah menurunnya jumlah penduduk asli Bali.

Ajakan tersebut disampaikan saat menghadiri Dharma Santi dan HUT ke-57 Para Gotra Sentana Dalem Tarukan serta HUT ke-6 Balapraja Tahun 2026 di Balai Budaya Giri Nata Mandala, Puspem Badung, Minggu (24/5).

Dalam sambutannya, Koster menyoroti fenomena semakin jarangnya anak ketiga dan keempat dalam keluarga Bali, yang selama ini identik dengan nama Nyoman dan Ketut. Menurutnya, kondisi itu menjadi tanda menurunnya pertumbuhan penduduk lokal Bali.

“Berkaca dari jumlah warga asli Bali yang semakin sedikit karena rata-rata satu kepala keluarga hanya memiliki dua anak, maka anak ketiga (Nyoman) dan anak keempat (Ketut) mulai jarang ditemukan. Kalau jumlah kita semakin sedikit, bagaimana kita mampu mempertahankan dan melestarikan budaya Bali? Untuk itu, saya mengajak setiap rumah tangga di Bali kembali memilih memiliki empat anak,” tegas Gubernur Koster.

BACA JUGA :  Hari Air Sedunia: No Club Club dan Tasix Adventure Gandeng Komunitas Bersihkan Pantai

Ia menilai Bali yang hanya dihuni sekitar 4,4 juta penduduk atau sekitar 1,6 persen dari total populasi Indonesia menghadapi tantangan besar dalam menjaga identitas budaya apabila jumlah masyarakat lokal terus berkurang.

Karena itu, Koster mendorong setiap rumah tangga Bali untuk kembali mempertimbangkan memiliki empat anak sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan generasi krama Bali di masa depan.

Selain itu, Pemerintah Provinsi Bali juga mulai menjalankan program satu keluarga satu sarjana melalui kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi di Bali. Program tersebut disebut sebagai langkah meningkatkan kualitas sumber daya manusia Bali agar lebih siap menghadapi tantangan zaman.

BACA JUGA :  Polsek Nusa Penida Atur Lalu Lintas di SPBU, Antisipasi Antrean dan Kemacetan

Dalam kesempatan itu, Koster juga mengapresiasi keberadaan paiketan Para Gotra Sentana Dalem Tarukan yang dinilai tetap konsisten menjaga nilai persaudaraan serta semangat saling asah, asih, dan asuh di tengah masyarakat.

“Saya minta paiketan Para Gotra Sentana Dalem Tarukan turut mendukung pembangunan Bali, salah satunya dengan menjaga kelestarian budaya dan adat istiadat Bali agar Bali tetap menjadi tempat yang nyaman bagi semua orang, khususnya bagi krama Bali sendiri. Karena masa depan orang Bali tidak bisa dititipkan kepada orang lain dan hanya bisa dijaga oleh krama Bali itu sendiri,” ujar Koster.

Ia juga mengingatkan agar keberagaman pasemetonan tidak menjadi penghalang dalam membangun kesejahteraan masyarakat Bali.

BACA JUGA :  Di Pengungsian, Warga Kanorayang Sental Kangin Mulai Kena Gangguan Kesehatan, Ini yang Dilakukan

“Pasemetonan sangat penting karena merupakan wujud bakti kita kepada leluhur. Namun, jangan sampai menimbulkan fanatisme atau mengkotak-kotakkan diri,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Umum PGSDT Pusat, I Wayan Jarta, mengatakan peringatan HUT ke-57 PGSDT menjadi momentum untuk memperkuat semangat gotong royong dan mengevaluasi berbagai program organisasi yang telah berjalan.

Menurutnya, hingga saat ini PGSDT bersama Balapraja telah memiliki ribuan anggota yang tersebar di seluruh Bali dengan komitmen menjaga kehidupan masyarakat yang harmonis, mandiri, dan berlandaskan nilai-nilai Tri Hita Karana.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Penglingsir Klungkung Ida Dalem Semara Putra, Sabha Wiku PGSDT Ida Shri RSI Dukuh Putra Bandem, Kepala Badan Kesbangpol Provinsi Bali, serta sejumlah pejabat lainnya. (*)

Tag

Catatan: Jika Anda memiliki informasi tambahan, klarifikasi, atau menemukan kesalahan dalam artikel ini, jangan ragu untuk menghubungi kami melalui email atau melalui kontak di situs kami.

Breaking News

Baca Lainnya