BADUNG, BALINEWS.ID – Ancaman terhadap kelestarian ekosistem mangrove di Bali mendorong masyarakat dan berbagai komunitas bergerak melakukan penanaman kembali. Gerakan tersebut digelar bertepatan dengan peringatan Hari Mangrove Sedunia atau International Day for the Conservation of the Mangrove Ecosystem yang diperingati setiap 26 Juli.
Anggota DPR RI Komisi III, I Nyoman Parta, selaku inisiator pengerak untuk menamam pohon mangrove di pantai Benoa Nusa Dua, Badung, mengatakan gerakan penanaman mangrove tersebut lahir dari kesamaan kepedulian untuk memperkuat benteng alam Bali. Menurutnya, mangrove memiliki peran penting dalam menjaga lingkungan, namun membutuhkan waktu panjang untuk tumbuh dan tidak mudah dalam proses penanamannya.
“Merawat alam, merawat lingkungan adalah merawat diri kita sendiri. Ini harus menjadi sikap pondasi dasar kita semua, khususnya dari komunitas,” ujar Parta.
Ia mengaku terharu melihat antusiasme masyarakat yang mengikuti kegiatan tersebut. Peserta disebut hadir setelah informasi kegiatan disebarkan melalui media sosial, dari mulut ke mulut, serta flyer yang dibagikan kepada sejumlah komunitas.
“Ini mengejutkan sekali dan saya terharu. Undangannya hanya lewat medsos, lewat dari mulut ke mulut, hanya mengirim flyer ke beberapa komunitas, ternyata mereka datang. Membludak,” katanya.
Menurut Parta, tingginya partisipasi menunjukkan masyarakat Bali memiliki kepedulian dan mudah diajak terlibat dalam kegiatan positif, khususnya yang berkaitan dengan pelestarian lingkungan.
Dalam momentum Hari Mangrove Sedunia, ia meminta pemerintah memperkuat langkah konservasi, termasuk mempercepat pemulihan kawasan mangrove yang rusak serta melakukan penanaman kembali.
Ia juga mengingatkan para pelaku usaha yang beraktivitas di kawasan pesisir Bali agar menyiapkan langkah mitigasi sejak awal untuk mencegah kerusakan ekosistem mangrove.
“Mangrove ini pohon yang sangat berjasa bagi kita, namun sangat rentan. Bisnis-bisnis usaha yang ada di pinggir pantai harus memiliki mitigasi. Dari awal sudah memiliki mitigasi, jangan lagi ada mangrove kita yang mati,” tegasnya.
Parta mencontohkan, mangrove yang ditanam sejak 2013 hingga kini belum menunjukkan pertumbuhan yang terlalu besar. Sementara pohon yang ditanam pada 2021 disebut baru tumbuh sekitar setinggi orang dewasa.
Ancaman terhadap mangrove juga disoroti di kawasan Bali Selatan. Dugaan pencemaran akibat tumpahan minyak menjadi salah satu perhatian karena minyak yang masih berada di sekitar kawasan mangrove dinilai berpotensi memperluas kerusakan dan menyebabkan lebih banyak tanaman mati.
Parta meminta Pertamina segera mengambil langkah penanganan terhadap kondisi tersebut.
“Kalau itu makin dibiarkan makin lama, hasil informasi dari teman-teman pecinta mangrove, Forum Peduli Mangrove, Rosi Sweet dan kawan-kawan, ketika mereka turun, yang mati makin banyak. Karena solarnya masih ada di bawah situ,” ujarnya.
Ia menilai kondisi ekosistem mangrove di Bali saat ini cenderung menurun. Selain banyaknya pohon yang mati, alih fungsi lahan juga disebut menjadi salah satu faktor yang mengancam keberadaan kawasan mangrove.
Meski demikian, Parta mengapresiasi semakin banyaknya komunitas dan relawan yang terlibat dalam gerakan penanaman mangrove. Menurutnya, meningkatnya partisipasi masyarakat menjadi modal penting untuk menjaga keberlanjutan ekosistem mangrove di Bali.
