Memandang Bali dari Yogyakarta, Nyoman Parta Soroti ‘Kelelahan Sosial’ di Pulau Dewata

Nyoman Parta menikmati suasana malam di Yogyakarta.
Nyoman Parta menikmati suasana malam di Yogyakarta.

DENPASAR, BALINEWS.ID – Anggota DPR RI Dapil Bali, Nyoman Parta, melontarkan refleksi mengenai kondisi Bali saat ini usai melakukan perjalanan dan riset kecil-kecilan di Yogyakarta. Melalui unggahan di akun Facebook pribadinya, Parta menilai Bali perlu mulai “bercermin” di tengah laju pembangunan dan pariwisata yang semakin pesat.

Dalam tulisannya berjudul “Memandang Bali dari Yogya: Beranikah Bali Bercermin?”, Parta mengaku melihat perbedaan suasana sosial antara Bali dan Yogyakarta. Menurutnya, Yogyakarta masih memberikan ruang hidup yang nyaman bagi masyarakatnya, mulai dari ruang publik hingga ritme kehidupan yang lebih manusiawi.

BACA JUGA :  Petani Banjarangkan Menjerit Kekeringan dan Beban Upacara Pura Subak, PU Kemana?

“Dan saya mulai bertanya dalam hati: apakah Bali hari ini masih memberi ruang bernapas yang cukup bagi masyarakatnya sendiri?” tulis Nyoman Parta dalam unggahannya, 23 Mei 2026.

Ia menyoroti berbagai persoalan yang kini dihadapi Bali, mulai dari sampah, kemacetan, menyusutnya lahan sawah, hingga harga tanah yang semakin sulit dijangkau generasi muda Bali.

“Kita harus jujur mengakui bahwa Bali hari ini sedang menghadapi kelelahan sosial. persoalan sampah dan kemacetan semakin berat. Sawah semakin menyusut. Harga tanah makin sulit dijangkau anak muda Bali. Air mulai bermasalah di banyak tempat. Jalan-jalan desa berubah menjadi jalur wisata internasional. Di beberapa kawasan, masyarakat lokal bahkan mulai merasa asing di tanahnya sendiri,” bunyi tulisan pria kelahiran Guwang itu.

BACA JUGA :  Longsor di Ubung Kaja Denpasar: Satu Orang Meninggal

Politikus asal Bali itu menegaskan dirinya tidak menolak kemajuan maupun pariwisata. Namun ia mengingatkan bahwa pembangunan tidak boleh hanya diukur dari pertumbuhan investasi dan jumlah wisatawan semata, melainkan juga dari kualitas hidup masyarakat lokal.

“Kadang saya merasa kita terlalu sibuk menjual Bali kepada dunia, tetapi mulai kurang merawat Bali sebagai rumah bagi orang Bali sendiri,” lanjutnya.

Parta juga mengingatkan agar budaya Bali tidak sekadar menjadi dekorasi industri pariwisata. Ia berharap generasi muda Bali tetap memiliki ruang hidup yang layak di tanah kelahirannya sendiri di tengah derasnya arus investasi dan pembangunan.

BACA JUGA :  Upaya Penyelundupan Puluhan Ekor Penyu Digagalkan, 3 Pelaku Diringkus

“Bali tidak boleh hanya indah untuk wisatawan. Bali juga harus nyaman bagi masyarakatnya sendiri,” tutupnya.

Tag

Catatan: Jika Anda memiliki informasi tambahan, klarifikasi, atau menemukan kesalahan dalam artikel ini, jangan ragu untuk menghubungi kami melalui email atau melalui kontak di situs kami.

Breaking News

Baca Lainnya