TABANAN, BALINEWS.ID – Pernyataan Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT), Yandri Susanto, yang menyebut masyarakat desa jarang mengonsumsi telur dan daging ayam menjadi perbincangan di media sosial. Pernyataan itu disampaikan usai rapat koordinasi bersama 10 asosiasi desa di Jakarta saat membahas program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurut Yandri, program MBG dinilai penting untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi masyarakat desa, terutama dalam pemenuhan protein hewani.
“Tadi aspirasi mereka bahwa makan siang bergizi itu untuk rakyat di desa itu sangat memerlukan. Karena jarang selama ini penduduk desa itu setiap minggu bisa makan telur, makan daging ayam, dan sebagainya,” ujar Yandri.
Pernyataan tersebut kemudian memicu beragam tanggapan dari warganet. Di tengah perdebatan itu, terdapat sejumlah desa yang justru dikenal sebagai sentra produksi telur ayam, salah satunya Banjar Utu, Desa Babahan, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali.
Banjar Utu telah lama menjadi kawasan peternakan ayam petelur. Puluhan kandang ayam ras berdiri di wilayah tersebut dengan produksi telur yang dipasarkan ke berbagai daerah di Bali. Keberadaan usaha peternakan itu menjadi salah satu penggerak utama ekonomi masyarakat setempat.
Desa Babahan merupakan satu dari 18 desa di Kecamatan Penebel. Secara administratif, desa ini berbatasan dengan Desa Senganan di utara, Desa Biaung di timur, Desa Penebel di selatan, dan Desa Mengesta di barat.
Pemerintah Desa Babahan mencatat sektor peternakan, khususnya ayam ras petelur, menjadi salah satu tulang punggung perekonomian desa. Perkembangan usaha peternakan disebut turut memberikan dampak terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat, pendidikan, hingga kesehatan warga.
Selain peternakan, Desa Babahan juga mengandalkan sektor pertanian sebagai penopang ekonomi. Produksi padi lokal maupun padi unggul masih menjadi komoditas utama yang didukung jaringan irigasi primer sepanjang 900 meter, saluran sekunder 1.600 meter, dan saluran tersier sepanjang 3.000 meter.
Potensi desa juga diperkuat oleh sektor perikanan air tawar. Berkembangnya kelompok pembudidaya ikan memberikan tambahan sumber pendapatan bagi masyarakat sehingga perekonomian desa tidak hanya bergantung pada satu sektor.
Secara geografis, Desa Babahan memiliki luas wilayah sekitar 431 hektare dan berada pada ketinggian sekitar 550 meter di atas permukaan laut. Desa ini berjarak sekitar tiga kilometer dari pusat Kecamatan Penebel, 15 kilometer dari Kota Tabanan, dan sekitar 36 kilometer dari Kota Denpasar.
Keberhasilan Banjar Utu sebagai sentra telur ayam ras menunjukkan bahwa sejumlah desa di Indonesia telah berkembang menjadi kawasan produksi pangan yang menopang kebutuhan daerah sekitarnya. Kondisi tersebut menjadi potret bahwa karakteristik desa di Indonesia sangat beragam.
Di satu sisi, masih terdapat desa yang menghadapi tantangan pemenuhan gizi masyarakat sebagaimana disampaikan Menteri Desa. Namun di sisi lain, ada pula desa seperti Babahan yang telah berhasil mengembangkan sektor peternakan ayam petelur sebagai penggerak ekonomi sekaligus penyokong ketahanan pangan regional.
