Menpar Jual Potensi Wisata Bahari Indonesia di Monako, Investor Dibidik

MONAKO, BALINEWS.ID — Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menawarkan peluang investasi di sektor marina dan wisata bahari Indonesia kepada pelaku industri serta investor global dalam The 6th Monaco Smart and Sustainable Marina Rendezvous di Monako, 20-21 September 2026.

Widiyanti mengatakan Indonesia memiliki modal besar untuk mengembangkan wisata bahari, antara lain sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan garis pantai hampir 100.000 kilometer, perairan tropis, serta sekitar 700 lokasi diving.

“Indonesia memiliki garis pantai hampir 100.000 kilometer, perairan tropis, serta 700 lokasi diving yang menjadi modal kuat untuk pengembangan yachting, sailing, dan island-hopping sepanjang tahun,” ujar Widiyanti.

Potensi wisata bahari tersebut tersebar dari wilayah barat hingga timur Indonesia. Destinasi yang disebut antara lain Kepulauan Riau, Belitung, Ujung Kulon, Kepulauan Seribu, Bali, Lombok-Gili Tramena, Labuan Bajo, Wakatobi, Ambon dan Banda, Morotai, Maluku, hingga Raja Ampat.

Menurut data yang dipaparkan Kementerian Pariwisata, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia mencapai 15,4 juta pada 2025. Pertumbuhan rata-rata kunjungan wisman pada periode 2023-2025 tercatat 14,8 persen per tahun.

BACA JUGA :  LCIF Ulurkan Bantuan dan Dukungan bagi Korban Banjir Bandang di Bali

Sementara itu, sebanyak 52,6 persen wisatawan mancanegara pada 2025 tercatat melakukan aktivitas wisata bahari selama berada di Indonesia.

Potensi tersebut juga terlihat dari pasar yacht. Nilai pasar yacht di Indonesia diperkirakan meningkat dari US$261,9 juta pada 2025 menjadi US$449,1 juta pada 2033, dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan sekitar 7 persen.

Indonesia juga mencatat 127 kedatangan superyacht sepanjang 2025-2026. Menurut Widiyanti, angka tersebut merupakan yang tertinggi kedua di kawasan Asia Pasifik setelah Australia.

Namun, besarnya potensi pasar belum diikuti kapasitas infrastruktur marina yang sebanding.

Saat ini terdapat 29 pelabuhan masuk dan keluar yacht yang telah ditetapkan di berbagai wilayah Indonesia. Sebanyak 19 pelabuhan di antaranya telah memiliki skema masuk melalui jalur kepabeanan atau duty-free.

Indonesia juga baru memiliki 10 marina dengan total 336 tempat berlabuh atau berths. Jumlah tersebut jauh di bawah kapasitas marina di sejumlah negara kawasan.

BACA JUGA :  Tim Patroli Jalak Nusa Polsek Nusa Penida Temukan Motor Warga, Kasus Sewa WNA Diselesaikan Secara Damai

Sebagai perbandingan, Singapura memiliki lebih dari 1.200 berths, sedangkan Malaysia dan Thailand masing-masing memiliki lebih dari 1.400 berths.

Kesenjangan tersebut menjadi peluang investasi yang ditawarkan pemerintah, terutama untuk pembangunan marina, penambahan kapasitas tempat berlabuh, serta pengembangan berbagai layanan pendukung industri yacht.

Kementerian Pariwisata juga melihat kebutuhan pembangunan marina di kawasan timur Indonesia. Saat ini, fasilitas marina dan pelabuhan yacht masih banyak terkonsentrasi di wilayah barat dan tengah, sementara sejumlah destinasi diving dan snorkeling unggulan berada di kawasan timur.

“Kami mengundang para pengembang dan operator marina, investor yacht, serta para pelaku ekosistem lainnya untuk menjadi bagian dari babak berikutnya dalam pengembangan wisata bahari Indonesia,” kata Widiyanti.

Dalam forum di Monako tersebut, pemerintah juga menjajaki kerja sama di bidang pendidikan dan pelatihan awak kapal melalui kolaborasi dengan politeknik pariwisata dan perguruan tinggi. Kerja sama yang dibahas mencakup pelatihan, standardisasi, sertifikasi, serta penerapan prinsip keberlanjutan.

BACA JUGA :  Polda Bali Bantah Dugaan Kanit Reskrim Polsek Kuta Pesan 40 Butir Ekstasi, Pemeriksaan Masih Berjalan

Selain itu, pemerintah menjajaki penyusunan masterplan pengembangan marine tourism, khususnya sektor cruise dan yacht, serta peluang benchmarking dengan Monako, promosi pariwisata maritim, dan business matching dengan investor serta mitra teknologi internasional.

Widiyanti menegaskan pengembangan wisata bahari tidak hanya diarahkan pada pembangunan marina.

“Yang ingin kita bangun bukan sekadar marina, tetapi ekosistem wisata bahari yang berkualitas dan berkelanjutan, dengan melibatkan UMKM, operator wisata, transportasi, hospitality, serta masyarakat lokal,” ujarnya.

Dalam agenda tersebut, delegasi Indonesia juga berasal dari sejumlah pemilik proyek di Bali, Labuan Bajo, Tanjung Lesung, dan Lombok. Mereka dipertemukan dengan pelaku industri global, calon investor, konsultan, serta penyedia teknologi inovasi untuk menjajaki peluang kerja sama pengembangan pariwisata maritim Indonesia.

Tag

Catatan: Jika Anda memiliki informasi tambahan, klarifikasi, atau menemukan kesalahan dalam artikel ini, jangan ragu untuk menghubungi kami melalui email atau melalui kontak di situs kami.

ucapan-galungan-dprd-klungkung
KPP FEED IG QR_new

Breaking News

Baca Lainnya