Nak Bali Nongos di Bali, Sing Menjamin Hidupne Sejahtera

Penulis: Kande Putra.
Penulis: Kande Putra.

Oleh: Kande Putra, Jumat 24 Juli 2026.

Nak Bali Nongos di Bali, Sing Menjamin Hidupne Sejahtera

BALINEWS.ID – “Nak Bali nongos di Bali, sing menjamin hidupne sejahtera.” Kalimat ini mungkin terdengar pahit, bahkan bisa dianggap berlebihan. Namun, semakin sering kita mendengar kisah anak muda Bali yang memilih merantau ke luar negeri, semakin sulit untuk mengabaikan kenyataan tersebut. Mereka bukan pergi karena tidak mencintai Bali.

Mereka pergi karena ingin mencari kesempatan yang lebih besar untuk memperbaiki masa depan.

Setiap tahun, ribuan anak muda Bali mengikuti pelatihan bahasa asing, sekolah perhotelan, hingga pendidikan kapal pesiar. Tujuannya bukan sekadar ingin melihat dunia, melainkan memperoleh penghasilan yang lebih layak dibandingkan peluang yang mereka rasakan di kampung halaman. Mereka rela meninggalkan keluarga, desa adat, dan rutinitas budaya yang telah menjadi bagian dari hidup mereka sejak kecil.

Pilihan itu sering kali lahir dari kebutuhan, bukan keinginan.

Di balik foto-foto indah bekerja di kapal pesiar atau di hotel luar negeri, ada cerita yang jarang terlihat. Ada orang tua yang menua tanpa ditemani anaknya. Ada upacara adat yang dilewatkan karena kontrak kerja. Ada momen kelahiran, pernikahan, hingga kematian anggota keluarga yang hanya bisa disaksikan melalui layar telepon. Harga yang dibayar untuk memperbaiki ekonomi ternyata tidak hanya berupa tenaga, tetapi juga waktu bersama orang-orang tercinta.

Ironisnya, Bali dikenal sebagai salah satu destinasi wisata terbaik di dunia. Jutaan wisatawan datang setiap tahun menikmati alam, budaya, dan keramahan masyarakatnya. Namun di balik gemerlap industri pariwisata, masih banyak anak muda yang merasa masa depan mereka justru lebih menjanjikan di negeri orang.

Pertanyaan besarnya adalah, mengapa daerah yang begitu kaya potensi belum mampu memberikan rasa optimistis kepada seluruh generasi mudanya?

BACA JUGA :  BALI MASIH PUNYA "GURU WISESA"?

Di sisi lain, pembangunan di Bali terus bergerak. Hotel, vila, restoran, dan berbagai investasi baru bermunculan di banyak wilayah. Investasi tentu penting bagi pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja. Namun, pembangunan juga perlu memastikan masyarakat lokal memperoleh manfaat yang nyata, termasuk kesempatan memiliki pekerjaan yang layak, mengembangkan usaha, dan tetap mampu tinggal di tanah kelahirannya tanpa terbebani biaya hidup yang terus meningkat.

Yang perlu menjadi perhatian bukanlah kehadiran wisatawan atau investor. Persoalannya adalah ketika semakin banyak anak muda Bali merasa bahwa jalan menuju kehidupan yang lebih baik hanya bisa ditempuh dengan meninggalkan Bali. Jika kondisi seperti ini terus berlangsung, bukan tidak mungkin desa-desa kehilangan generasi produktifnya.

Budaya tetap akan dipentaskan, tetapi semakin sedikit generasi muda yang memiliki waktu untuk menjadi pelaku dan penerusnya.

Tulisan ini bukan ajakan untuk menolak investasi atau menyalahkan siapa pun. Justru sebaliknya, ini adalah ajakan untuk membangun Bali yang mampu tumbuh secara ekonomi tanpa meninggalkan masyarakatnya. Kemajuan seharusnya diukur bukan hanya dari banyaknya bangunan baru atau meningkatnya jumlah wisatawan, tetapi juga dari kemampuan anak-anak Bali membangun masa depan yang layak tanpa harus merasa terpaksa meninggalkan rumah.Kini pertanyaannya kembali kepada kita semua.

Apakah merantau ke luar negeri memang sudah menjadi satu-satunya jalan bagi anak muda Bali untuk mencapai kesejahteraan? Ataukah masih ada cara agar mereka bisa sukses tanpa harus jauh dari orang tua, keluarga, dan adat yang membesarkan mereka?

Saya ingin mendengar pendapat kalian. Karena masa depan Bali tidak hanya ditentukan oleh pemerintah atau investor, tetapi juga oleh keberanian kita membicarakan persoalan ini dengan jujur dan mencari solusinya bersama.

Yang paling mengkhawatirkan adalah jika para pemangku kebijakan mulai menganggap kondisi ini sebagai sesuatu yang biasa. Jangan sampai pemerintah menutup mata terhadap kenyataan bahwa semakin banyak anak muda Bali merasa harus mencari masa depan di negeri orang.

BACA JUGA :  COMO Uma Canggu Bermitra dengan Paywatch untuk Tingkatkan Kesejahteraan Finansial Karyawan di Bali

Jika fenomena ini terus berlangsung tanpa upaya memperluas kesempatan ekonomi yang layak di Bali, maka yang hilang bukan hanya tenaga kerja, tetapi juga generasi penerus yang selama ini menjaga budaya, adat, dan kehidupan desa.

Keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari meningkatnya jumlah wisatawan setiap tahun atau bertambahnya investasi yang masuk. Angka-angka itu memang penting sebagai indikator pertumbuhan ekonomi.

Namun pertanyaan yang lebih penting adalah, siapa yang menikmati hasil pertumbuhan tersebut? Apakah manfaatnya dirasakan secara merata oleh masyarakat lokal, atau justru lebih banyak terkonsentrasi pada kelompok tertentu? Pertanyaan inilah yang layak menjadi bahan evaluasi bersama.

Kita sering mendengar mimpi menjadikan Bali sebagai destinasi berkelas dunia, bahkan disandingkan dengan kota-kota global seperti Dubai. Visi besar tentu patut diapresiasi. Namun, pembangunan kelas dunia akan lebih bermakna apabila berjalan seiring dengan peningkatan kualitas hidup masyarakat lokal. Sebab, kota yang megah tidak akan terasa berhasil apabila sebagian warganya masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar setiap hari.

Masih pekerja dan masyarakat yang menghadapi tantangan berupa penghasilan yang terbatas, jam kerja panjang, dan tantangan biaya hidup yang terus meningkat. Perlu diingat bahwa upah minimum merupakan standar hukum yang wajib dipenuhi, meskipun dalam praktiknya masih terdapat laporan dan pengawasan yang perlu terus diperkuat agar seluruh pekerja memperoleh haknya.

Di sisi lain, harga kebutuhan pokok, biaya pendidikan, dan biaya tempat tinggal terus meningkat. Dalam kondisi seperti ini, banyak keluarga harus bekerja lebih keras hanya untuk mempertahankan kehidupan yang layak.

Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah harga tanah di Bali yang terus meningkat di banyak wilayah. Kenaikan nilai tanah memang dapat menjadi keuntungan bagi sebagian pemilik aset. Namun bagi generasi muda yang baru mulai bekerja, memiliki rumah atau membeli sebidang tanah menjadi semakin sulit.

BACA JUGA :  Hasto Kristiyanto Kembali Dilantik Menjadi Sekjen PDIP

Jika tren ini terus berlanjut tanpa solusi yang berpihak pada keterjangkauan hunian, muncul pertanyaan yang wajar: apakah anak-anak Bali kelak masih memiliki peluang realistis untuk tinggal dan membangun kehidupan di tanah kelahirannya sendiri?

Tulisan ini bukan untuk menyalahkan pemerintah, pelaku usaha, ataupun investor. Justru sebaliknya, ini adalah ajakan agar semua pihak duduk bersama mencari keseimbangan antara investasi, pertumbuhan ekonomi, pelestarian budaya, dan kesejahteraan masyarakat lokal.

Sebab keberhasilan Bali tidak boleh hanya diukur dari ramainya bandara atau penuhnya hotel. Keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika seorang anak Bali tidak merasa harus meninggalkan orang tua, adat, dan tanah kelahirannya hanya karena di sanalah satu-satunya kesempatan untuk hidup lebih baik.

Sebagai penutup Kalau hari ini kita masih bisa membicarakan masalah ini, berarti masih ada kesempatan untuk memperbaikinya. Tetapi kalau suatu hari nanti anak-anak Bali hanya menjadi penonton di tanahnya sendiri, sementara kesempatan ekonomi semakin sulit dijangkau, penyesalan tidak akan mampu mengembalikan keadaan seperti semula.

Pertanyaannya sederhana, tetapi jawabannya menentukan masa depan Bali.

Apakah kita ingin Bali hanya menjadi pulau yang indah untuk dikunjungi dunia, atau juga menjadi tempat yang memberikan masa depan yang layak bagi anak-anak yang lahir dan dibesarkan di dalamnya?

Karena pada akhirnya, kemajuan sebuah daerah tidak hanya diukur dari tingginya gedung, ramainya wisatawan, atau besarnya investasi. Kemajuan sejati diukur dari apakah masyarakatnya bisa hidup dengan bermartabat, sejahtera, dan tetap memiliki tempat di tanah kelahirannya sendiri. (*)

 

Tag

Catatan: Jika Anda memiliki informasi tambahan, klarifikasi, atau menemukan kesalahan dalam artikel ini, jangan ragu untuk menghubungi kami melalui email atau melalui kontak di situs kami.

ucapan-galungan-dprd-klungkung
KPP FEED IG QR_new

Breaking News

Baca Lainnya