BULELENG, BALINEWS.ID — Gelombang komentar negatif dan tuduhan yang mengarah kepada Perbekel (Kepala Desa) Sidetapa, I Made Sutapa, menyusul insiden pengeroyokan terduga pelaku pencurian asal Sidetapa hingga tewas di Baturiti, Tabanan, memantik reaksi keras dari pihak keluarga.
Melalui media sosialnya, sang putri yang akrab disapa Amik, secara terbuka meluapkan unek-unek serta membeberkan dinamika dan kenyataan berat yang dihadapi ayahnya sebagai pemimpin desa.
“Problem di Lapangan Sangat Kompleks”
Amik menegaskan bahwa publik yang melontarkan kritik pedas di media sosial tidak memahami kondisi riil di lapangan. Menurutnya, sang ayah telah berupaya maksimal melakukan berbagai langkah preventif untuk menekan angka kriminalitas yang dilakukan oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab di desanya.
“Orang-orang yang berkomentar jelek di sini, fix Anda tidak tahu situasi di lapangan! Problem di sana sangat kompleks. Saya sudah lihat dan perhatikan bapak saya sebagai kepala desa di Sidetapa sudah maksimal melakukan banyak hal demi menghentikan tindakan kejahatan yang dilakukan oknum-oknum mafia di sana,” tulis Amik.
Ia juga menekankan agar masyarakat luar tidak menggeneralisasi seluruh warga Desa Sidetapa. Masih sangat banyak warga setempat yang bekerja secara jujur dan halal.
Jadi Korban Teror dan Tanggung Beban Finansial
Lebih jauh, Amik menceritakan risiko besar yang harus ditanggung ayahnya saat mencoba memberantas peredaran narkoba jenis sabu di wilayahnya. Penjagaan ketat sempat digelar, namun perlawanan dari oknum mafia kerap membuat upaya tersebut membentur tembok tebal.
Bahkan, sang ayah pernah menjadi korban teror secara langsung. “Yang berniat memberantas justru jadi korban. Cengkih bapak saya sampai ditebas 10 batang besar! Paham tidak? Saya ungkap ke publik sekarang agar kalian paham situasi yang terjadi,” bebernya.
Tak hanya risiko keselamatan, Amik juga membongkar kondisi finansial sang ayah yang kerap ‘minus’ demi membantu warga. Penggunaan mobil pribadi hingga pemakaian gaji pribadi kerap dilakukan sang Perbekel untuk mengantar warga yang sakit atau tertimpa masalah.
“Saya menanggung semua beban di rumah karena gaji bapak sudah minus ngurusin masyarakatnya. Kadang kita punya anak tiga saja tidak semua benar, apalagi membina satu kampung,” tegas Amik.
Sempat Briefing Warga Sebelum Kejadian Baturiti
Terkait insiden pengeroyokan di Baturiti yang menewaskan warga desanya, Amik mengungkapkan bahwa beberapa hari sebelum kejadian, ayahnya sebenarnya telah mengumpulkan dan memberikan pengarahan (briefing) serta peringatan tegas kepada para warga tersebut agar tidak melakukan tindakan melanggar hukum.
Namun, ia menegaskan bahwa seorang Kepala Desa memiliki keterbatasan untuk mengawasi ribuan warganya secara pribadi selama 24 jam penuh.
Amik menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa dirinya tidak bermaksud ikut campur dalam perkara hukum yang sedang berjalan, melainkan hanya ingin meluruskan narasi dan narasi miring publik yang dinilai sangat menyudutkan serta tidak adil bagi perjuangan sang ayah di lapangan.
