BULELENG, BALINEWS.ID — Terletak di ketinggian 500 hingga 700 meter di atas permukaan laut (mdpl), Desa Sidetapa di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, menyuguhkan panorama perbukitan hijau dan udara sejuk khas pegunungan Bali Utara. Namun, lebih dari sekadar keindahan alamnya, desa yang terdiri dari Dusun Dajan Pura, Delod Pura, dan Dusun Lakah ini menyimpan sejarah serta kekayaan tradisi unik sebagai salah satu Desa Bali Aga yang masih bertahan hingga kini.
Secara historis, nama “Sidetapa” berasal dari kata “Side” yang berarti mampu/bisa dan “Tapa” yang berarti bertapa. Perbekel (Kepala Desa) Sidetapa, I Made Sutama, menceritakan bahwa leluhur desa ini dulunya harus berpindah-pindah tempat dan melewati berbagai rintangan—seperti gangguan penyakit hingga perjumpaan mistis—sebelum akhirnya melakukan tapa spiritual untuk menemukan lokasi desa yang mendiami area perbukitan ini.
Keunikan Arsitektur Bale Gajah dan Bahasa Ibu
Salah satu penanda identitas paling menonjol dari Desa Sidetapa adalah arsitektur rumah adat tradisionalnya yang berjuluk Bale Gajah Saka Roras Tumpang Salu.
Bale Gajah: Bermakna bangunan berukuran besar.
Saka Roras: Menggunakan 12 tiang penyangga utama dari bahan kayu.
Tumpang Salu: Memiliki tiga tingkatan fungsi ruang yang selaras dengan ajaran Tri Hita Karana, yaitu parahyangan (tempat ibadah dan penyimpanan benda sakral/tempat tidur), pawongan (dapur dan area pembuatan sarana upacara), serta palemahan (area menerima tamu).
Meski arsitektur zaman dahulu berbahan dinding tanah dan dibangun tidak menghadap ke jalan raya, masyarakat modern Sidetapa tetap melestarikannya. Penyesuaian zaman dilakukan tanpa menghilangkan bentuk dan makna aslinya. Setiap keluarga yang telah melangsungkan upacara adat Munya bahkan diwajibkan untuk mendirikan rumah adat ini sebagai tempat persembahyangan.
Tak hanya bangunan, masyarakat lokal juga tetap teguh mempergunakan bahasa khas Sidetapa sebagai bahasa ibu dalam percakapan sehari-hari demi menjaga identitas budaya warisan leluhur.
Ritus Sakral dan Keteguhan Menjaga Tradisi
Kehidupan spiritual warga Sidetapa diwarnai berbagai ritual unik yang dipusatkan di rumah adat maupun di Pura Catur Kahyangan (Pura Bejana, Pura Munduk, dan Pura Rambut Tunggang). Beberapa di antaranya adalah tradisi banten Bali taksi, makraman, serta banten punjungan (khusus upacara anak-anak) dan saji (persembahan untuk kerabat yang telah wafat).
“Masyarakat yang khususnya ada di Sidetapa tidak berani sama sekali untuk mengubah apa yang ada di adat, terutama masalah Galungan dan Kuningan, pengabenan, serta tarian sakral masih sangat dilestarikan,” ujar Perbekel Desa Sidetapa, I Made Sutama, dikutip dari website Desa Sidetapa Senin (10/11/2025).
Potensi Agraris, Kerajinan Bambu, dan Kelestarian Alam
Sebagai desa agraris, lebih dari 75 persen warga Sidetapa menggantungkan hidup pada sektor pertanian, perkebunan, kewirausahaan, serta kerajinan tangan. Komoditas unggulan desa ini meliputi cengkeh, durian, manggis, alpukat, mangga, hingga pisang dengan kualitas jempolan.
Di samping itu, kerajinan menganyam bambu menjadi sumber penghidupan penting bagi kaum perempuan dan warga lokal. Produk anyaman seperti keranjang, sokasi, kukusan, hingga kap lampu buatan warga Sidetapa kini telah dipasarkan hingga keluar daerah.
Untuk menjaga keseimbangan lingkungan, hukum adat (awig-awig) diberlakukan secara ketat. Warga dilarang keras menebang pohon sembarangan tanpa izin serta menembak burung, terutama di kawasan yang disucikan seperti Batu Nunggul dan Kayuan Mas.
Menepis Stigma Masa Lalu, Menatap Masa Depan “Sidetapa Bersinar”
Di tengah arus modernisasi dan tantangan zaman—termasuk upaya desa bekerja sama dengan aparat hukum untuk mengantisipasi peredaran narkoba pada generasi muda—Pemerintah Desa Sidetapa gencar mengadakan pelatihan pemuda di tiga dusun untuk mewariskan nilai budaya.
I Made Sutama berharap seluruh elemen masyarakat dapat bahu-membahu membangun Sidetapa menjadi desa yang sejahtera, aman, unggul, dan bermartabat, sekaligus menepis pandangan negatif masa lalu.
“Dulu image Sidetapa dikatakan keras, begitu juga pencurian atau pembunuhan. Namun, itu sudah berlalu. Sekarang Sidetapa sudah ‘bersinar’ lewat hal-hal positif yang diajarkan kepada generasi muda. Mari bersama memajukan desa agar orang luar bisa kagum dengan Desa Sidetapa yang kita cintai ini,” pungkas Sutama penuh harap.
