BALINEWS.ID – Di balik citra Bali sebagai destinasi wisata dunia dengan gaya hidup yang identik dengan alam dan kebugaran, ancaman penyakit jantung tetap menjadi persoalan serius. Penyakit ini masih menjadi penyebab kematian terbesar kedua di Indonesia setelah stroke, dengan sekitar 260 ribu orang meninggal setiap tahun.
Fakta tersebut disampaikan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin saat membuka 6th Indonesian Vascular Annual Scientific Congress (IndoVASC) 2026 yang digelar di Nusa Dua, Badung, Jumat (31/7/2026).
Menurut Budi, pemerintah kini mulai mengubah pendekatan dalam menangani penyakit jantung. Fokusnya bukan lagi hanya memperkuat layanan pengobatan, tetapi juga mendorong masyarakat agar lebih aktif melakukan pencegahan dan deteksi dini.
“Sebagai Menteri Kesehatan, saya percaya tugas utama kami adalah menjaga masyarakat tetap sehat, bukan hanya menyembuhkan orang yang sudah sakit. Mengobati jauh lebih mahal dan kualitas hidup pasien juga akan menurun,” ujar Budi.
Pemerintah menargetkan angka harapan hidup masyarakat Indonesia meningkat dari 72 tahun menjadi 76 tahun dalam lima tahun ke depan. Namun target tersebut dinilai sulit tercapai apabila angka kematian akibat penyakit jantung dan stroke tidak berhasil ditekan.
Karena itu, Kementerian Kesehatan mempercepat berbagai program mulai dari skrining kesehatan massal, pemerataan layanan jantung, peningkatan kualitas rumah sakit, hingga penambahan tenaga kesehatan spesialis.
Bali Berpotensi Menghadapi Tantangan yang Sama
Bagi Bali, persoalan penyakit jantung juga menjadi perhatian penting. Sebagai daerah yang setiap tahun menerima jutaan wisatawan domestik dan mancanegara, kebutuhan terhadap layanan kesehatan yang cepat dan berkualitas semakin tinggi, tidak hanya bagi warga lokal tetapi juga wisatawan yang mengalami kondisi darurat.
Dalam beberapa tahun terakhir, rumah sakit di Bali juga terus memperkuat layanan kardiovaskular agar masyarakat tidak selalu harus dirujuk ke kota-kota besar di luar daerah.
Menkes menegaskan pembangunan layanan kesehatan tidak boleh hanya terkonsentrasi di pusat-pusat kota.
“Kami ingin setiap warga Indonesia memiliki akses yang sama terhadap pelayanan jantung, tanpa harus selalu datang ke Jakarta atau kota besar lainnya,” katanya.
Target Skrining Ditingkatkan
Pemerintah menargetkan 136 juta orang menjalani skrining kesehatan pada 2026, meningkat hampir dua kali lipat dibanding sekitar 70 juta orang yang telah diperiksa sebelumnya. Pada 2029, target tersebut ditingkatkan hingga 280 juta penduduk.
Skrining dini dinilai menjadi langkah penting untuk menemukan faktor risiko seperti tekanan darah tinggi, diabetes, dan kolesterol sebelum berkembang menjadi penyakit jantung yang lebih berat.
Selain itu, Kementerian Kesehatan juga menemukan sekitar 150 ribu bayi di Indonesia lahir dengan penyakit jantung bawaan. Sebagian di antaranya membutuhkan tindakan medis sesegera mungkin agar peluang hidupnya lebih besar.
Layanan Jantung Terus Diperluas
Untuk mempercepat penanganan pasien, pemerintah juga memperluas layanan Percutaneous Coronary Intervention (PCI) atau tindakan kateterisasi jantung.
Jika pada 2019 layanan tersebut baru tersedia di 43 daerah, kini jumlahnya telah meningkat menjadi 151 daerah. Pemerintah menargetkan lebih dari 200 daerah dapat memiliki layanan serupa tahun ini, sebelum akhirnya menjangkau 514 kabupaten dan kota pada 2027.
Langkah ini diharapkan membuat pasien, termasuk masyarakat di Bali dan wilayah Indonesia timur, dapat memperoleh penanganan lebih cepat tanpa harus melakukan perjalanan jauh ketika mengalami serangan jantung.
