BALINEWS.ID – Bali memang dikenal dengan keramahan warganya. Namun, bagi Pongki Barata dan Sophie Navita, keramahan itu rupanya kadang diuji oleh tingkah sejumlah turis asing yang datang ke usaha mereka di Bali.
Pasangan selebriti tersebut menceritakan pengalaman itu saat berbincang dengan Luna Maya dalam acara TS Talks. Ceritanya terdengar lucu ketika disampaikan, tetapi di baliknya ada persoalan sederhana yang mungkin juga pernah dirasakan pelaku usaha lain di Bali: soal etika ketika menggunakan fasilitas sebuah tempat usaha.
Pongki mengaku beberapa kali menemukan turis asing masuk ke coffee shop mereka, tetapi tidak memesan makanan maupun minuman. Mereka justru langsung mencari colokan untuk mengisi daya ponsel.
Ketika staf bertanya apakah mereka ingin memesan sesuatu, jawaban yang diberikan bahkan cukup terus terang. “No no, I just want to charge my phone,” kata Sophie menirukan salah satu pengunjung.
Bukan hanya soal charger. Pongki juga menceritakan ada pengunjung yang datang dan langsung menggunakan toilet tanpa memesan apa pun, bahkan menurutnya tidak menyapa atau meminta izin terlebih dahulu.
Bagi Pongki, persoalannya bukan semata-mata apakah seorang pengunjung membeli secangkir kopi atau tidak. Yang menjadi perhatian adalah sikap ketika menggunakan fasilitas milik sebuah usaha, karena di balik coffee shop tetap ada pegawai, listrik, air dan biaya operasional yang harus dibayar.
Cerita Sophie kemudian membuat perbincangan semakin menggelitik. Ia mengingat seorang pasangan turis asing yang datang ke coffee shop setelah kehujanan saat mengendarai motor dan dalam kondisi kedinginan.
Alih-alih langsung memesan minuman hangat, pasangan tersebut justru bertanya, “Excuse me, do you have blanket?” Permintaan itu sontak membuat Sophie tertawa karena coffee shop yang mereka datangi tentu bukan hotel yang menyediakan selimut untuk tamu.
Luna Maya kemudian ikut menyoroti persoalan tersebut. Menurutnya, hal paling sederhana yang bisa dilakukan ketika membutuhkan fasilitas milik orang lain adalah bertanya dan meminta izin terlebih dahulu.
Pengalaman Pongki dan Sophie tentu tidak bisa digeneralisasi kepada seluruh wisatawan asing yang datang ke Bali. Banyak turis datang dengan menghormati aturan, membayar layanan yang mereka gunakan dan memperlakukan pekerja lokal dengan baik.
Namun, cerita seperti ini tetap menarik untuk dilihat dari sisi Bali sebagai daerah pariwisata. Pulau ini memang terkenal ramah kepada wisatawan, tetapi keramahan masyarakat tidak semestinya dianggap sebagai izin untuk menggunakan fasilitas bisnis secara cuma-cuma.
Pada akhirnya, persoalannya mungkin bukan tentang harus membeli kopi atau tidak. Cukup dengan menyapa, bertanya dan menghargai tempat yang didatangi, suasana antara wisatawan dan pelaku usaha tentu akan jauh lebih enak.
Dan untuk urusan charger, toilet, sampai selimut, satu kata sederhana sebenarnya sudah cukup: permisi.
