LUMAJANG, BALINEWS.ID – Suasana khidmat menyelimuti Puncak Karya Pujawalikrama Pura Mandara Giri Semeru Agung di Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Minggu (29/6). Ribuan umat Hindu dari berbagai daerah memadati pura yang berada di kaki Gunung Semeru tersebut untuk melaksanakan persembahyangan sebagai wujud bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Puncak karya yang bertepatan dengan 15 Kasa 1948 Saka itu dipuput oleh Romo Pandhita Dukun Tengger bersama para sulinggih dari Bali. Kolaborasi tersebut menjadi simbol kuat persatuan umat Hindu Nusantara yang tetap menjaga keberagaman tradisi dalam satu semangat Dharma.
Nuansa kebersamaan juga tampak melalui perpaduan budaya Jawa dan Bali yang mewarnai seluruh rangkaian upacara. Kesenian wayang Jawa dan wayang Bali dipentaskan berdampingan, diiringi tabuhan gamelan Jawa dan gamelan Bali yang berpadu harmonis. Ragam kesenian tersebut menjadi bagian dari persembahan suci sekaligus penghormatan terhadap leluhur dan warisan budaya Hindu di Nusantara.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Lumajang, Teguh Widodo, mengatakan Pujawalikrama di Pura Mandara Giri Semeru Agung tidak hanya menjadi momentum keagamaan, tetapi juga memperlihatkan kuatnya persatuan budaya di tengah keberagaman tradisi Hindu Indonesia.
“Ini bukan sekadar upacara keagamaan, tetapi juga menjadi panggung persatuan budaya, tempat bertemunya doa, seni, adat, dan pengabdian dari berbagai penjuru Nusantara,” ujarnya.
Menurutnya, perpaduan budaya Jawa dan Bali dalam pelaksanaan karya suci tersebut menjadi gambaran nyata Hindu Nusantara yang mampu menjaga nilai-nilai spiritual sekaligus melestarikan kekayaan budaya bangsa.
Rangkaian Karya Pujawalikrama di Pura Mandara Giri Semeru Agung masih akan berlanjut hingga upacara penyineban (penutupan) yang dijadwalkan berlangsung pada 10 Juli 2026. Prosesi tersebut menjadi penutup seluruh rangkaian karya yang setiap penyelenggaraannya selalu menjadi ajang silaturahmi dan penguatan persaudaraan umat Hindu dari berbagai daerah di Indonesia.
