GIANYAR, BALINEWS.ID – Puncak rangkaian Pekan Budaya Gianyar dalam peringatan HUT ke-255 Kota Gianyar berlangsung meriah melalui Pawai Budaya yang digelar, Jumat (17/4/2026). Atraksi seni yang melibatkan perwakilan dari seluruh kecamatan ini menyuguhkan karya terbaik dengan konsep inovatif, sarat makna, dan penuh kreativitas.
Gemuruh gamelan yang berpadu dengan tepuk tangan penonton mengiringi jalannya pawai. Setiap duta kecamatan menampilkan garapan khas dengan pesan filosofis yang kuat, mencerminkan kekayaan seni dan budaya Gianyar.
Pembukaan diawali oleh Duta Kecamatan Payangan melalui garapan “Buana Purnaning Jiwa” yang menggambarkan penyempurnaan jiwa dalam harmoni dengan alam. Selanjutnya, Duta Kecamatan Sukawati mengangkat tema “Dukuh Pengubengan” yang terinspirasi dari cerita rakyat tentang ritual pengingat peristiwa perang di Banjar Negari, Desa Singapadu Tengah.
Penampilan berlanjut dari Duta Kecamatan Tampaksiring dengan “Sastra Winaya Tirtha” yang dimaknai sebagai tuntunan suci layaknya air yang menyucikan. Sementara Duta Kecamatan Tegallalang menghadirkan “Atma Kerti Ning Tegallalang” yang mengisahkan krisis spiritual dan ekologi akibat kemarau panjang.
Duta Kecamatan Ubud tampil memukau melalui konsep mobile performance yang mengangkat perjalanan spiritual Rsi Markandeya, memanfaatkan ruang jalan sebagai simbol transformasi jiwa. Kemudian, Duta Kecamatan Blahbatuh menampilkan “Bebed Poleng” yang mengisahkan perjalanan Ni Luh Ayu Sekarini yang berkaitan dengan tokoh Mahapatih Gajah Mada.
Sebagai penutup pawai budaya, Duta Kecamatan Gianyar membawakan garapan “Sudhamala” yang bermakna penyucian diri dari segala dosa, sebelum dilanjutkan dengan parade ogoh-ogoh dari tujuh kecamatan se-Kabupaten Gianyar.
Dalam parade tersebut, sejumlah ogoh-ogoh terbaik ditampilkan. STT Sekar Jaya Banjar Serongga Tengah meraih juara harapan IV dengan karya “Mecaru”. Disusul ST Abdi Pertiwi Mandala, Banjar Gelgel, Blahbatuh sebagai juara harapan III dengan “Bhuta Cuil”. Juara harapan II diraih ST Satria Pajarakan, Tegallalang dengan “Mlempeh”, dan juara harapan I oleh ST Rama Sita, Banjar Sanding, Tampaksiring dengan “Dadap Wong”.
Sementara itu, juara III diraih ST Giri Manila Sari, Payangan melalui “Bhuta Sigug”, juara II oleh ST Eka Susila dengan “Bhauma Suara”, dan penampilan terbaik sekaligus penutup ditampilkan ST Pandawa, Banjar Tarukan, Ubud dengan karya “Tugu Mayang”.

Kegiatan ini turut dihadiri tokoh nasional Prananda Prabowo, Wakil Gubernur Bali Nyoman Giri Prasta, serta para bupati dan wali kota se-Bali.
Bupati Gianyar, I Made Mahayastra, menegaskan bahwa pawai budaya bukan sekadar hiburan, melainkan wujud pelestarian nilai-nilai luhur dan penghormatan terhadap warisan leluhur.
“Ini bukan hanya tontonan, tetapi tuntunan nilai. Gianyar sebagai jantung seni dan budaya Bali memiliki tanggung jawab untuk menjaga tradisi sekaligus mengembangkan kreativitas berbasis kearifan lokal,” ujarnya.
Ia juga mengajak masyarakat menjadikan momentum HUT ke-255 Kota Gianyar sebagai refleksi untuk memperkuat persatuan, semangat gotong royong, serta menjaga kelestarian budaya dan lingkungan.
Melalui perhelatan ini, Gianyar kembali menegaskan posisinya sebagai pusat seni dan budaya Bali yang terus hidup, berkembang, dan diwariskan secara berkelanjutan. (*)
