DENPASAR, BALINEWS.ID – Sebanyak 91 remaja masjid dari berbagai wilayah di Kota Denpasar mengikuti Seminar Kesehatan Remaja bertajuk “Kenali Kanker Sejak Dini, Jaga Masa Depan” yang digelar di Masjid Sadar Denpasar, Minggu (28/6/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Poltekkes Kemenkes Denpasar yang berkolaborasi dengan Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Denpasar dan Yayasan Masjid Sadar.
Para peserta tampak antusias mengikuti rangkaian seminar yang membahas pencegahan kanker sejak usia muda, pentingnya pola makan sehat, hingga pemanfaatan pangan tradisional, khususnya tempe, sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan.

Tiga narasumber dari Poltekkes Kemenkes Denpasar hadir dalam kegiatan tersebut, yakni Dr. Badrut Tamam, S.TP., M.Biotech., Ir. Hertog Nursanyoto, M.Kes., dan Dr. Ni Komang Wiardani, S.ST., M.Kes.
Dr. Badrut Tamam menjelaskan bahwa seminar tersebut merupakan bentuk pengabdian kepada masyarakat yang bertujuan meningkatkan literasi kesehatan remaja, khususnya mengenai kanker dan upaya pencegahannya melalui pola hidup sehat.
“Kami ingin remaja masjid memahami apa itu kanker, bagaimana cara mencegahnya, serta membangun kebiasaan makan yang sehat sejak dini. Salah satu materi yang kami angkat adalah potensi tempe sebagai pangan lokal yang memiliki manfaat dalam membantu pencegahan kanker,” ujarnya.
Menurutnya, panitia sebelumnya menyiapkan kuota 100 peserta dan sebanyak 91 remaja masjid hadir mengikuti seminar hingga selesai.
Ia menjelaskan, tempe dipilih sebagai salah satu materi edukasi karena mengandung senyawa bioaktif seperti isoflavon dan peptida bioaktif yang berdasarkan berbagai penelitian memiliki potensi menghambat pertumbuhan sel kanker dan aktivitas enzim yang berkaitan dengan perkembangan kanker.
“Tempe merupakan makanan tradisional yang mudah diperoleh, harganya terjangkau, namun memiliki manfaat kesehatan yang sangat besar. Potensi ini perlu terus diperkenalkan kepada masyarakat,” katanya.
Selain menyasar remaja, program edukasi mengenai tempe sebelumnya juga telah dilakukan tim PKM di sejumlah Posyandu di Kota Denpasar sebagai bagian dari edukasi gizi bagi balita dan ibu.

Sementara itu, Dr. Ni Komang Wiardani menyampaikan materi mengenai pengaturan pola makan sebagai langkah pencegahan kanker. Ia menilai masyarakat Denpasar pada umumnya sudah menjadikan tempe sebagai bagian dari konsumsi sehari-hari karena merupakan sumber protein nabati yang baik.
Menurutnya, inovasi olahan tempe juga terus dikembangkan agar lebih menarik, salah satunya melalui pembuatan nugget tempe yang telah dimanfaatkan sebagai Pemberian Makanan Tambahan (PMT) di sejumlah Posyandu, termasuk di Desa Kesiman Kertalangu.
“Tempe sangat mudah diterapkan dalam menu keluarga sehari-hari. Selain bergizi, pengolahannya juga semakin beragam sehingga dapat diterima oleh berbagai kalangan usia,” jelasnya.
Di sisi lain, Ir. Hertog Nursanyoto menyoroti perubahan pola konsumsi generasi muda yang kini cenderung memilih makanan cepat saji dibanding pangan tradisional.
Menurutnya, meningkatnya tren konsumsi makanan bergaya Barat perlu diimbangi dengan edukasi mengenai pentingnya kembali mengonsumsi makanan lokal yang lebih sehat.
“Melalui seminar ini kami ingin mengajak generasi muda memahami bahwa pangan tradisional seperti tempe memiliki nilai gizi yang tinggi dan lebih baik bagi kesehatan dibandingkan pola makan yang didominasi makanan cepat saji,” katanya.
Seminar yang berlangsung sejak pagi hingga siang tersebut juga memberikan fasilitas seminar kit, makan siang, serta e-sertifikat kepada seluruh peserta. Melalui kegiatan ini, penyelenggara berharap remaja masjid dapat menjadi agen edukasi kesehatan di lingkungan masing-masing sekaligus mendorong penerapan pola hidup sehat untuk menekan risiko penyakit tidak menular, termasuk kanker.
