INTERMESO, BALINEWS.ID – Pelaksanaan upacara Ngaben di Bali kini mulai mengalami perubahan. Jika dulu prosesi identik dengan bade yang megah, persiapan panjang, dan biaya besar, kini semakin banyak keluarga memilih krematorium sebagai tempat pelaksanaan upacara. Pilihan ini dinilai lebih praktis, tetapi tetap menjaga makna spiritual Ngaben.
Perubahan tersebut diungkapkan dalam riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Periset Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan (PRMLTL) BRIN, I Made Budiasa, menyebut generasi muda Bali kini menghadapi tantangan untuk tetap menjalankan tradisi di tengah tuntutan kehidupan modern.
Menurutnya, biaya Ngaben secara konvensional bisa mencapai sekitar Rp80 juta hingga Rp100 juta. Sementara melalui krematorium, upacara yang tetap sesuai ketentuan agama dapat dilaksanakan dengan biaya sekitar Rp32 juta.
“Generasi muda cenderung lebih terbuka terhadap penggunaan krematorium. Pilihan ini bukan berarti mengurangi penghormatan kepada leluhur, melainkan bentuk penyesuaian agar keluarga tetap dapat menjalankan kewajiban keagamaan tanpa mengorbankan kebutuhan penting lainnya, seperti pendidikan anak. Di sini tampak adanya dinamika yang oleh para ilmuwan disebut sebagai religious marketplace, yakni ketika praktik dan layanan keagamaan beradaptasi dengan kebutuhan, preferensi, dan kondisi sosial-ekonomi masyarakat modern,” ujar Budiasa.
Selain faktor biaya, perubahan gaya hidup juga menjadi alasan. Banyak masyarakat Bali kini tinggal di kawasan perkotaan dengan mobilitas tinggi dan kesibukan pekerjaan. Kondisi tersebut membuat mereka tidak selalu bisa mengikuti proses ngayah seperti yang masih umum dilakukan di desa adat. Dalam situasi seperti itu, krematorium menjadi salah satu solusi agar keluarga tetap dapat melaksanakan Ngaben dengan layak tanpa mengurangi nilai religiusnya.
Budiasa menjelaskan, bagi masyarakat Bali, Ngaben bukan sekadar prosesi pelepasan roh menuju alam leluhur. Upacara ini juga merupakan bentuk bakti keluarga yang selama ini sering dikaitkan dengan penghormatan kepada orang tua maupun leluhur.
Di sisi lain, Ngaben konvensional membutuhkan waktu persiapan yang panjang, melibatkan banyak orang, dan memerlukan biaya besar. Karena itu, sebagian masyarakat mulai memilih cara yang lebih efisien sesuai kondisi kehidupan saat ini.
Keberadaan krematorium juga dinilai menjawab kebutuhan masyarakat perkotaan yang memiliki keterbatasan lahan, waktu, dan tenaga. Bagi generasi muda, penggunaan fasilitas tersebut dianggap sebagai bentuk adaptasi terhadap perkembangan zaman tanpa meninggalkan kewajiban agama.
Sementara itu, Anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) sekaligus Guru Besar Purnabakti Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Prof. Melani Budianta, menilai perubahan tersebut merupakan bagian dari inovasi budaya.
“Situasi itu merupakan bentuk lompatan teknologi yang menghadirkan efisiensi dalam pelaksanaan ritual. Pergeseran dari pembakaran terbuka menuju krematorium tertutup adalah inovasi budaya yang tidak menghilangkan esensi filosofis Ngaben. Yang berubah adalah mediumnya, sementara makna spiritualnya tetap dipertahankan. Bahkan, pendekatan ini berpotensi lebih ramah lingkungan. Tantangan ke depan adalah memahami bagaimana masyarakat terus memaknai kesucian ritual di tengah perubahan sosial dan modernitas,” kata Melani.
Hasil riset BRIN menunjukkan penggunaan krematorium bukan hanya mengubah cara pelaksanaan Ngaben, tetapi juga mencerminkan bagaimana tradisi Bali terus beradaptasi dengan perkembangan sosial, ekonomi, dan teknologi tanpa meninggalkan nilai-nilai yang diwariskan leluhur. (*)
