NASIONAL, BALINEWS.ID – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menunjukkan tren pelemahan, seiring tekanan global yang belum mereda dan penguatan mata uang Negeri Paman Sam di pasar internasional.
Mengutip laporan Bloomberg, pergerakan rupiah di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF) sepanjang pekan lalu terpantau melemah. Hingga Senin (18/5/2026) pagi, nilai tukar rupiah di pasar luar negeri masih bertahan di kisaran Rp17.629 per dolar AS, belum menunjukkan perubahan signifikan.
Penguatan dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang menahan pergerakan mata uang kawasan. Indeks dolar terhadap enam mata uang utama tercatat naik dan berada di level 99,38. Kondisi ini membuat ruang penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, menjadi terbatas.
Tekanan tidak hanya dialami rupiah. Sejumlah mata uang di Asia juga bergerak di zona merah. Ringgit Malaysia memimpin pelemahan, diikuti won Korea Selatan, baht Thailand, dolar Taiwan, yen Jepang, dolar Singapura, hingga yuan offshore. Sementara itu, dolar Hong Kong menjadi satu-satunya yang mampu bertahan dengan penguatan tipis sebesar 0,02 persen.
Di tengah tekanan tersebut, dampak pelemahan rupiah terhadap perekonomian domestik mulai menjadi perhatian. Berdasarkan kajian dari Universitas Gadjah Mada (UGM), kondisi global yang tidak stabil, terutama akibat memanasnya konflik di Timur Tengah, telah meningkatkan ketidakpastian dan memperbesar tekanan terhadap nilai tukar.
Akademisi Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM, Rijadh Djatu Winardi, menilai pelemahan rupiah saat ini merupakan hasil akumulasi berbagai tekanan yang terjadi secara bersamaan atau sering disebut sebagai “perfect storm”. Ia menjelaskan bahwa dari sisi global, ketegangan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi mendorong lonjakan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman.
Sementara dari dalam negeri, terdapat faktor musiman dan struktural yang turut memperbesar tekanan. Salah satunya adalah periode pembayaran dividen kepada investor asing yang meningkatkan kebutuhan valuta asing. Selain itu, kekhawatiran terhadap ruang fiskal yang semakin terbatas juga mendorong meningkatnya persepsi risiko terhadap ekonomi Indonesia.
“Kombinasi dari sisi global dan sisi domestik inilah yang menurut saya membuat pelemahan rupiah terasa lebih tajam,” jelasnya, dikutip dari laman resmi UGM.
Lebih lanjut, Rijadh menekankan bahwa pelemahan rupiah berpotensi langsung dirasakan masyarakat melalui kenaikan harga barang. Dalam kajian ekonomi, fenomena ini dikenal sebagai inflasi impor, di mana melemahnya nilai tukar menyebabkan harga barang impor menjadi lebih mahal dalam rupiah.
“Masyarakat akan mulai merasakan dampaknya dalam bentuk harga kebutuhan pokok yang meningkat, biaya transportasi yang naik, hingga harga produk kesehatan yang ikut terdampak,” ujarnya.
Selain itu, tekanan juga dirasakan pada anggaran negara, terutama pada sektor yang bergantung pada impor seperti energi. Beban subsidi berpotensi meningkat, sementara pembayaran utang luar negeri dalam rupiah juga menjadi lebih besar.
Kondisi ini menempatkan pemerintah dan otoritas moneter pada posisi yang tidak mudah. Di satu sisi, stabilitas nilai tukar perlu dijaga, namun di sisi lain pertumbuhan ekonomi juga harus tetap didorong.
Dengan tren pelemahan yang sudah berlangsung dalam jangka panjang, menjaga keseimbangan antara stabilitas ekonomi dan perlindungan masyarakat menjadi tantangan utama ke depan, terutama bagi kelompok rentan yang paling cepat terdampak kenaikan harga. (*)
