Slot Header 970×90

Series Menelanjangi Realitas Para Perempuan: Bali, Minoritas, Apatis

Mengulik Akar Sejarah, Trauma Kolektif, dan Jebakan Toxic Positivity

Oleh Matra Durga · null

15 Oktober 2026 pukul 13.27 WITA · 4 menit baca

Series Menelanjangi Realitas Para Perempuan: Bali, Minoritas, Apatis
— I Ketut Agus Putra Adnyana

Tulisan ini mendekonstruksi label "apatis" dan "minoritas" yang kerap disematkan kepada perempuan Bali di tengah carut-marutnya ekosistem sosial-politik nasional dan lokal. Melalui pelacakan lini masa sejarah, tulisan ini hendak membuktikan bahwa sikap diam yang ditunjukkan perempuan Bali bukanlah sebuah ketidakpedulian alamiah, melainkan sebuah mekanisme pertahanan diri (survival mechanism) yang lahir dari akumulasi trauma kolektif masa lalu dan himpitan struktur patriarki-kapitalistik masa kini. Esai ini mengajak pembaca untuk membedakan antara kepasrahan semu (toxic positivity) dengan esensi perjuangan menegakkan kebenaran (Dharma).

BAGIAN I: ILUSI SURGA DAN PROYEK DEPOLITISASI PEREMPUAN (BALISEERING)

Romantisasi Bali sebagai "Surga Terakhir" yang damai dan masyarakatnya yang ramah adalah sebuah warisan konstruksi kolonial yang sengaja dirancang untuk menutup luka berdarah. Pasca-pembantaian massal dalam Puputan Badung (1906) dan Puputan Klungkung (1908), pemerintah kolonial Belanda meluncurkan proyek politik kebudayaan yang disebut Baliseering (Pembadian Bali). [1, 2]

Baliseering secara masif mengalihkan benih-benih kesadaran nasionalisme dan politik kritis masyarakat ke ranah estetisasi kebudayaan semata. Dalam proyek ini, perempuan Bali dicitrasosialisasikan sebagai simbol eksotisme: penurut, pembawa sesajen yang anggun, dan pekerja domestik yang tangguh. Melalui kebijakan ini, de-politisasi perempuan Bali dimulai. Perempuan dikondisikan untuk tidak menyentuh narasi makro kekuasaan, melainkan didomestifikasi sebagai "penjaga museum hidup" demi kepentingan ekonomi-kapitalisme barat. [1, 2, 3]

BAGIAN II: AKUMULASI TRAUMA KOLEKTIF DAN BEBAN SISTEMIK

Label "apatis" yang disematkan pada perempuan Bali hari ini tidak tumbuh di ruang hampa. Sikap tersebut dibentuk oleh ekosistem yang trauma secara berlapislapis:

  1. Penyeragaman Ideologis Orde Baru: Rezim ini memaksa penyeragaman administrasi agama agar masyarakat aman dari stigma komunis pasca-1965. Di saat yang sama, negara memperkuat domestifikasi perempuan melalui konsep Ibuisme Negara (program PKK dan Dharma Wanita) yang mereduksi agensi politik perempuan menjadi sekadar pendamping suami.

  2. Terorisme dan Runtuhnya Ekonomi: Tragedi Bom Bali I (12 Oktober 2002) dan Bom Bali II (2005)tidak hanya menghancurkan pusat pariwisata, tetapi memicu trauma psikologis kolektif yang mendalam. Ketika ekonomi runtuh, perempuan Bali dipaksa secara ekstrem menjadi benteng pertahanan ganda: mencari nafkah sekaligus mempertahankan ritus adat di tengah keterbatasan materi.[1, 2, 3]

[Trauma Sejarah: Puputan 1906] ──> [Depolitisasi: Baliseering 1930-an] ──> [Hantaman Bom Bali 2002 & 2005] ──> [Mekanisme Bertahan Hidup] (Dianggap Luar: "Apatis")

Di tingkat lokal, perempuan Bali berada dalam posisi minoritas ganda. Di luar, mereka adalah bagian dari minoritas keagamaan nasional, sementara di dalam, mereka berhadapan dengan struktur adat kekerabatan patrilineal (Purusa) yang ketat. Praktik pengambilan keputusan dalam ruang publik atau Ngrembug adat masih sangat didominasi laki-laki. Perempuan Bali menanggung beban peran tiga kali lipat (triple burden): sebagai ibu/istri, pencari nafkah ekonomi, dan pelaksana upakara ritual adat. Menguras habis energi mereka untuk bertahan hidup hingga tidak ada lagi ruang tersisa untuk merespons dinamika politik nasional. Diamnya mereka adalah wujud kelelahan mental (burnout) kolektif. [1, 2, 3, 4, 5]

BAGIAN III: MENGGUGAT TOXIC POSITIVITY LEWAT AJARAN SRI KRISHNA

Kelelahan struktural ini diperparah oleh simplifikasi ajaran spiritual yang mengalami distorsi moral. Ungkapan seperti "Ya sudahlah, biarkan saja, badai pasti berlalu," atau berlindung di balik interpretasi keliru mengenai hukum Karmapala telah menjebak masyarakat ke dalam kubangan toxic positivity. Kita sering menyaru kepasrahan atas ketidakadilan sebagai bentuk kesucian spiritual, padahal itu hanyalah ketakutan dan kemalasan bertindak.

Untuk membongkar kepalsuan ini, kita harus kembali pada esensi nasihat Sri Krishna kepada Arjuna di medan perang Kurukshetra. Ketika Arjuna lumpuh oleh kedukaan, dilema moral, dan memilih untuk diam mengalah, Sri Krishna justru menegur keras kelumpuhan jiwa tersebut dalam Bhagavad Gita Bab 2, Sloka 3:[1, 2]

क्लैब्यं मा स्म गम: पार्थ... क्षुद्रं हृदयदौर्बल्यं त्यक्त्वोत्तिष्ठ परन्तप ||

Klaibyaṁ mā sma gamaḥ pārtha... kṣudraṁ hṛdaya-daurbalyaṁ tyaktvottiṣṭha paran-tapa [1]

Artinya:
"Janganlah menyerah pada ketidakberdayaan yang melemahkan ini, wahai putra Prtha (Arjuna), itu tidak pantas bagimu. Campakkanlah kelemahan hati yang picik itu dan bangkitlah!" [1]

Sri Krishna menegaskan bahwa diam di hadapan rusaknya ekosistem atau ketidakadilan bukanlah tindakan spiritual yang mulia, melainkan kelemahan hati yang remeh. Kepasrahan sejati (Karmapala) baru sah berlaku setelah kita melakukan tindakan nyata yang maksimal demi menegakkan Dharma (kewajiban/kebenaran). Menjaga diri dan menyuarakan ketimpangan adat-struktural bagi perempuan Bali bukan bentuk provokasi, melainkan pelaksanaan kewajiban hidup yang mutlak. Jika kita memilih diam dan memasrahkan diri dalam kekacauan, secara kolektif kita sedang memilih untuk mati perlahan. [1, 2, 3]

—

DAFTAR REFERENSI (APA STYLE 7th EDITION)

Matra Durga

Matra Durga

Putu Durga Laksmi Devi (b. 2002), yang biasa dipanggil Matra Durga, merupakan seniman rupa dan penulis asal Klungkung, Bali. Kiprahnya sering kali berakar pada kontemplasi pengalaman sebagai perempuan Bali dalam membaca fenomena-fenomena hari ini.

0 komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Komentar langsung tayang. Komentar spam atau tidak pantas akan disembunyikan/dihapus redaksi.