GIANYAR, BALINEWS.ID – Seniman sekaligus akademisi Ida Bagus Komang Sindu Putra membuka pameran tunggal bertajuk “Sparsa Rupa”, yang merupakan bagian dari karya disertasi program doktoralnya. Acara pada Kamis, 2 Juli 2026, pukul 17.00 Wita, di Kulidan Kitchen & Space, Banjar Wangbung, Jalan Garuda Wisnu, Guwang, Kecamatan Sukawati.
Pameran ini mengangkat gagasan tentang pengalaman seni rupa yang melampaui dominasi penglihatan. Melalui “Sparsa Rupa”, Sindu Putra mengajukan pertanyaan mendasar: apakah seni rupa hanya harus dilihat?
Menurutnya, ruang pamer selama ini cenderung menempatkan karya pada jarak tertentu. Pengunjung diminta mengamati tanpa menyentuh, sehingga pengalaman estetik lebih banyak dibatasi oleh mata. Dalam “Sparsa Rupa”, paradigma tersebut dibalik dengan menghadirkan karya yang justru mengundang pengunjung untuk menyentuh, meraba, mendengar, dan mengalami karya secara langsung melalui tubuh.
“Sentuhan menjadi jalan utama untuk mengenali karya. Permukaan, tekstur, tekanan, kontur, tonjolan, lapisan, hingga resistensi material membuka cara membaca yang lebih lambat dan lebih dekat. Makna tidak hadir sekaligus, melainkan tumbuh melalui gerak tangan dan hubungan langsung antara tubuh dengan material,” ungkap Sindu Putra.
Pameran ini menghadirkan sepuluh karya yang berangkat dari perenungan mengenai esensi kehidupan. Kehidupan dipahami tidak selalu sebagai perjalanan yang terang dan mudah dimengerti, tetapi juga dipenuhi kesunyian, pertumbuhan yang perlahan, keraguan, hingga tekanan yang membentuk ketahanan manusia.
Pengalaman tersebut tidak disampaikan secara naratif, melainkan melalui ritme permukaan, kedalaman tekstur, perubahan material, dan bunyi yang muncul ketika karya disentuh. Dengan demikian, pengunjung diajak menyadari bahwa kehidupan tidak hanya dipahami melalui pikiran, tetapi juga melalui rasa, ingatan, dan kesadaran tubuh.
Secara keseluruhan, “Sparsa Rupa” menampilkan sembilan instalasi dua dimensi dan satu objek tiga dimensi. Seluruh karya dirancang agar dapat disentuh oleh pengunjung. Kesempatan menyentuh bukan sekadar izin fisik, melainkan menjadi bagian penting dari cara kerja karya dalam membangun pengalaman estetik.
Selain pengalaman taktil, unsur bunyi turut dihadirkan untuk memperkuat orientasi ruang, ritme, dan intensitas interaksi antara tubuh dengan material. Relasi antara sentuhan, bunyi, dan ruang membentuk pengalaman seni yang tidak bergantung sepenuhnya pada indra penglihatan.
Pameran ini juga menawarkan pendekatan yang lebih inklusif terhadap seni rupa. Penyandang disabilitas netra diposisikan sebagai subjek yang memiliki cara tersendiri dalam membaca karya melalui sentuhan, bunyi, ingatan, dan orientasi ruang. Di sisi lain, pengunjung tanpa disabilitas diajak meninggalkan kebiasaan menikmati karya dari jarak aman dan mulai mengalami seni secara lebih dekat, perlahan, serta sadar terhadap keberadaan tubuhnya sendiri.
Melalui “Sparsa Rupa”, Ida Bagus Komang Sindu Putra memandang seni rupa sebagai ruang perjumpaan antara tubuh, material, ruang, dan pengalaman hidup. Dalam pameran ini, rupa tidak berhenti pada apa yang dilihat mata, melainkan bergerak melalui kulit, telinga, tubuh, ingatan, dan kesadaran manusia dalam memaknai perjalanan hidup.
