Vietnam Punya Kereta Gantung Fansipan, Bisakah Konsep Serupa Hadir di Bali?

Kereta gantung mengangkut wisatawan dari kota Sapa menuju Gunung Pansipan, Vietnam.
Kereta gantung mengangkut wisatawan dari kota Sapa menuju Gunung Pansipan, Vietnam.

VIETNAM, BALINEWS.ID – Wisatawan yang berkunjung ke Vietnam kini disuguhkan cara praktis sekaligus menarik untuk menikmati panorama pegunungan melalui Kereta Gantung Fansipan. Teknologi tersebut sebagai salah satu sistem kereta gantung yang pernah mencatatkan rekor dunia versi Guinness World Records. Fasilitas ini menghubungkan Kota Sapa dengan puncak Gunung Fansipan yang dijuluki sebagai “Atap Indochina”.

Perjalanan sepanjang 6,2 kilometer tersebut hanya memerlukan waktu sekitar 15 menit untuk mencapai kawasan puncak. Waktu tempuh itu jauh lebih singkat dibandingkan pendakian yang biasanya memakan waktu berjam-jam.

Dari dalam kabin kereta gantung, wisatawan disuguhi panorama alam yang memukau. Hamparan pegunungan Hoang Lien Son, lembah hijau, lautan awan, hingga sawah terasering terlihat jelas dari ketinggian.

Tak hanya itu, di bawah lintasan kereta gantung juga tampak Desa Ban May, sebuah kawasan yang menampilkan kehidupan masyarakat tradisional dari lima kelompok etnis minoritas lokal, yakni H’Mong, Tay, Giay, Xa Pho, dan Red Dao.

BACA JUGA :  Wisatawan Asing Beralih ke Vietnam, Bali Hadapi Tantangan Kebersihan dan Teknologi

“Dari atas kereta, lihat ke bawah, ada desa. Pemandangan di sini indah,” ujar pemandu wisata asal Vietnam, Nguyen Viet, saat mendampingi rombongan wisatawan.

Sepanjang perjalanan, area pertanian milik warga terlihat membentang di lereng-lereng pegunungan. Perpaduan antara bentang alam dan aktivitas masyarakat lokal menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung.

Untuk menikmati pengalaman tersebut, wisatawan perlu merogoh kocek mulai sekitar Rp388.553 untuk tiket pulang-pergi kereta gantung. Sementara paket lengkap yang mencakup Muong Hoa Monorail dan kereta menuju puncak dibanderol sekitar Rp983.324.

Sesampainya di puncak Fansipan yang berada pada ketinggian 3.143 meter di atas permukaan laut, wisatawan dapat menikmati berbagai bangunan spiritual yang menjadi ikon kawasan tersebut.

BACA JUGA :  BaliCEB Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi MICE Asia Pasifik melalui AIME 2026

Salah satunya adalah Pagoda Kim Son Bao Thang yang berdiri megah di ketinggian sekitar 3.091 meter di atas permukaan laut. Kuil utama ini kerap diselimuti kabut tebal sehingga menghadirkan suasana yang mistis dan menenangkan.

Di kawasan yang sama juga berdiri patung Buddha perunggu setinggi 21,5 meter yang menjadi pusat kompleks spiritual tersebut. Selain itu terdapat kuil yang didedikasikan bagi Dewa Gunung dengan arsitektur khas Dinasti Tran.

Bali Mampukah Mengadopsi Kereta Gantung?

Keberhasilan Vietnam mengembangkan kereta gantung sebagai daya tarik wisata sekaligus sarana transportasi menimbulkan pertanyaan menarik bagi Indonesia, khususnya Bali. Apakah Pulau Dewata dapat menerima pembangunan infrastruktur serupa?

Di satu sisi, Bali memiliki sejumlah kawasan wisata dengan kontur geografis yang memungkinkan pengembangan moda transportasi berbasis kereta gantung, baik untuk mendukung akses wisata maupun mengurangi tekanan lalu lintas di destinasi tertentu.

BACA JUGA :  Rapat Kerja Nasional ASITA 2025, DPD Asita Bali Kompak Hadir Dengan Busana Endek khas Bali

Namun di sisi lain, pembangunan infrastruktur wisata di Bali kerap menghadapi tantangan sosial, budaya, lingkungan, hingga tata ruang. Polemik pembangunan lift atau elevator di kawasan Nusa Penida menjadi salah satu contoh bagaimana proyek yang bertujuan meningkatkan aksesibilitas wisata dapat memicu perdebatan di tengah masyarakat.

Berbeda dengan kawasan pegunungan di Vietnam yang relatif memiliki ruang pengembangan lebih luas untuk infrastruktur wisata, Bali memiliki karakteristik unik dengan keterkaitan kuat antara lanskap alam, nilai budaya, kawasan suci, serta kepentingan masyarakat adat.

Karena itu, jika konsep kereta gantung ingin diterapkan di Bali, pendekatannya tidak hanya berorientasi pada aspek ekonomi dan pariwisata. Kajian lingkungan yang ketat, penerimaan masyarakat lokal, perlindungan kawasan suci, serta kesesuaian dengan tata ruang menjadi faktor utama yang harus dipenuhi.

Tag

Catatan: Jika Anda memiliki informasi tambahan, klarifikasi, atau menemukan kesalahan dalam artikel ini, jangan ragu untuk menghubungi kami melalui email atau melalui kontak di situs kami.

Breaking News

Baca Lainnya