Dari Arsitek Jadi Petani, Gede Wahyu Sulap Lahan Lebih Jadi Kebun Alpukat Bernilai Jutaan

GIANYAR, BALINEWS.ID – Dari sawah ke kebun alpukat, itulah langkah yang diambil seorang petani sekaligus arsitek, Gede Wahyu Dinor, di Desa Lebih, Gianyar. Bersama istrinya, Anak Agung Diah Mahayani, serta dukungan keluarga seperti sepupunya Ispara Pranidana, ia mengembangkan kebun alpukat yang kini mulai menarik perhatian banyak pengunjung.
Berawal dari kegemarannya terhadap buah alpukat, Wahyu mengaku sulit menemukan alpukat berkualitas di Bali. Hal itu mendorongnya mencoba menanam sendiri sejak 5 Oktober 2020. Beberapa varietas unggulan yang dibudidayakan antara lain MIKI (Depok), MD02 (Vietnam), SIPAT, SAB034, serta Mutiara Denpasar. Dari berbagai jenis tersebut, alpukat MIKI dinilai paling unggul dari segi rasa.
Menurut Wahyu, keberhasilan menanam alpukat sangat bergantung pada kondisi lahan, khususnya ketinggian dan pengelolaan air. Ia mengembangkan kebun di dataran rendah sekitar 100 MDPL dengan sistem drainase baik, karena tanaman alpukat tidak cocok dengan genangan air.
“Boleh ada hujan, tapi tidak boleh ada genangan. Itu sangat mempengaruhi kualitas buah,” ujarnya.
Pada tahun pertama dan kedua, bunga yang muncul sengaja dipangkas agar tanaman tumbuh optimal. Memasuki tahun ketiga, buah mulai dipertahankan dalam jumlah terbatas, sekitar 10–15 buah per pohon. Produktivitas maksimal baru dicapai pada usia tujuh tahun.
Saat ini, kebun seluas 42 are dengan sekitar 100 pohon sudah mulai berbuah. Dalam setahun, panen bisa dilakukan hingga 2–3 kali, terutama pada Maret hingga April. Proses dari bunga hingga buah matang memakan waktu sekitar 6–7 bulan, tergantung varietas.
Selain fokus pada kualitas, Wahyu juga mengembangkan konsep agrowisata. Kebunnya dibuka untuk umum setiap Sabtu sore, sementara hari Minggu digunakan untuk perawatan tanaman. Pengunjung dapat memetik langsung alpukat dari pohonnya.
Harga yang ditawarkan pun relatif terjangkau, sekitar Rp30 ribu per kilogram, jauh di bawah harga swalayan yang bisa mencapai Rp50 ribu hingga Rp80 ribu per kilogram. Bahkan, jika buah yang dibeli belum matang, pembeli diperbolehkan menukarnya.
“Tantangan terbesar kami adalah lalat buah, tapi kami tangani dengan penyemprotan ringan dan penggunaan jamur alami untuk menjaga kesehatan tanaman,” jelasnya.
Dalam beberapa bulan terakhir, hasil penjualan mulai menunjukkan perkembangan positif. Dari Februari hingga April, pendapatan telah mencapai sekitar Rp20 juta. Ke depan, Wahyu optimistis alpukat akan menjadi komoditas unggulan yang menguasai pasar.
Ia pun berencana memperluas lahan hingga 60 are tambahan serta mengembangkan tanaman lain seperti jambu biji kristal yang permintaannya terus meningkat.
“Prinsip saya sederhana, tidak mencari pasar, tapi membuat pasar sendiri. Kalau mau alpukat enak, datang langsung ke kebun,” tegasnya.
Kebun alpukat ini berlokasi di Desa Adat Kesian, Desa Lebih, Kecamatan Gianyar. Saat musim libur, termasuk Lebaran, jumlah pengunjung meningkat signifikan, bahkan rata-rata penjualan mencapai 50 kilogram per minggu. (*)
BACA JUGA :  Meski Dikritik, Kini Pedagang Toko Online Bakal Dikenai Pajak

Tag

Catatan: Jika Anda memiliki informasi tambahan, klarifikasi, atau menemukan kesalahan dalam artikel ini, jangan ragu untuk menghubungi kami melalui email atau melalui kontak di situs kami.

Breaking News

Baca Lainnya