GIANYAR, BALINEWS.ID – Industri desain pencahayaan atau lighting design di Indonesia dinilai masih menghadapi tantangan besar, mulai dari rendahnya kesadaran masyarakat hingga minimnya sumber daya manusia yang secara khusus menekuni bidang tersebut. Padahal, tata cahaya kini tak lagi sekadar berfungsi sebagai penerang, melainkan memiliki pengaruh terhadap psikologis manusia, kesehatan hormonal, hingga kelestarian lingkungan.
Dalam diskusi yang berlangsung di Masa-Masa Restoran, Ketewel, Gianyar pada Kamis (21/5/2026), menampilkan tiga pembicara yang membahas lighting design.
Founder & Direktur Lumina Group & Light Talk ID sekaligus Founder of E8, Abdi Ahsan, mengungkapkan bahwa Indonesia saat ini masih mengalami krisis desainer lighting lokal, termasuk di Bali yang dikenal memiliki pertumbuhan sektor arsitektur dan pariwisata yang pesat.
Menurut Abdi, setiap tahun Bali melahirkan banyak lulusan arsitektur, namun belum ada yang secara khusus mendalami desain pencahayaan.
“Setelah semua bangunan selesai, baru kita dipikirkan, bahkan ketika ada sisa uang,” ujar Abdi, menggambarkan posisi desain lighting yang kerap dianggap pelengkap dalam proyek pembangunan.
Ia menjelaskan, pencahayaan sejatinya memiliki keterkaitan erat dengan kondisi psikologis dan hormon manusia. Warna serta intensitas cahaya tertentu dapat memengaruhi suasana hati dan tingkat relaksasi seseorang.
“Contoh, warna dan intensitas cahaya produksi hormon rileks. Maka di tiap resort, warna ke arah merasa rileks,” jelasnya.
Tak hanya berdampak pada manusia, kesalahan tata cahaya juga dinilai dapat mengganggu keseimbangan ekosistem. Abdi mencontohkan, penggunaan cahaya yang tidak tepat dapat mengancam habitat serangga malam seperti kunang-kunang.
“Kalau cahaya tidak tepat, kunang-kunang bisa lenyap,” katanya.
Abdi menilai kesadaran terhadap pentingnya desain pencahayaan di Indonesia mulai berkembang, meski belum masif. Selama ini, fokus industri masih dominan pada aspek estetika semata.
“Lighting bukan hanya menerangi, namun ke estetika, sekarang masuk ke hormon, termasuk ke ekonomi,” ujarnya.
Ia juga menyoroti ancaman polusi cahaya yang semakin meningkat di kota-kota besar dan berpotensi menghilangkan visibilitas langit malam. Bersama gerakan global Dark Sky, pihaknya mendorong pengurangan polusi cahaya demi menjaga kualitas lingkungan dan observasi astronomi.
“Saya di Jakarta enggak pernah lihat bintang. Jangan sampai kehilangan bintang,” tuturnya.
Senada dengan Abdi, Direktur Dua Lighting sekaligus Co-Founder of E8, Robby Permana Mannas, menilai masyarakat masih memiliki miskonsepsi terhadap fungsi lampu.
Menurut Robby, banyak orang masih memandang lampu hanya sebagai alat penerangan, padahal pencahayaan dapat meningkatkan nilai estetika dan pengalaman ruang secara keseluruhan.
“Sekarang bukan butuh cahaya, namun level cahaya agar dramatis. Maka market terbesar di sistem lampu,” kata Robby.
Ia juga menyoroti perubahan tren di sektor pariwisata, khususnya di Bali. Jika sebelumnya banyak pelaku usaha menganggap tempat yang terang akan lebih menarik pengunjung, kini mulai muncul kesadaran bahwa pencahayaan harus disesuaikan dengan suasana dan karakter ruang.
“Area bintang lima, di luar kamar redup,” ujarnya.
Berangkat dari berbagai tantangan tersebut, komunitas dan pelaku industri lighting menggagas festival bertajuk Enlightened Bali 2026 sebagai ruang edukasi dan kolaborasi bagi masyarakat maupun pelaku kreatif.
Founder & Direktur Studio Sensar sekaligus Creative Head of E8, Diva Anandria, mengatakan festival yang berlangsung selama empat hari itu mengusung tema “PASAR Malam”.
Festival tersebut dirancang sebagai ruang imersif yang mempertemukan desainer, arsitek, seniman, mahasiswa, hingga komunitas pencinta pencahayaan dalam satu wadah interaktif.
“Terinspirasi dari budaya pasar malam di Indonesia sebagai ruang berkumpul, berekspresi, dan berinteraksi, ‘Enlightened Bali 2026’ mengubah festival menjadi sebuah pengalaman sosial yang menyatukan edukasi, budaya, hiburan, dan eksplorasi cahaya,” ujar Diva.
