BALINEWS.ID – Berapa banyak dari kita yang pernah coba-coba usaha, entah itu jualan online, buka warung kecil, atau ikut bisnis titipan teman, terus akhirnya merugi dan mikir, “kayaknya emang bukan jalan aku”? Ternyata, Inul Daratista juga pernah ngerasain hal yang sama persis.
Ditemui di Jakarta, Jumat (11/9/2026), Inul cerita blak-blakan soal perjalanan bisnisnya yang jauh dari mulus. Ia sempat coba bisnis kosmetik, terus lanjut jualan tas dan sepatu impor sampai skala kontainer. Soal kegagalan pertamanya, ia mengaku singkat, “Kayaknya memang passion-ku enggak di situ ya.”
Pelajaran yang Relate Banget Buat Kita di Bali
Kalau kita perhatikan, cerita Inul ini sebenarnya jadi cermin buat banyak orang di Bali yang juga sering coba-coba usaha sambil menjalankan pekerjaan utama. Entah itu ibu-ibu yang jualan jajanan pasar di sela mengurus rumah, atau anak muda yang ikut reseller produk skincare karena lihat tetangga untung besar.
Yang menarik, kegagalan Inul bukan karena kurang modal atau kurang usaha. Justru karena jenis bisnisnya tidak sejalan dengan karakternya sendiri. Ini pelajaran penting buat kita: bisnis yang kelihatan menjanjikan di luar belum tentu cocok buat kita jalani, meski secara angka terlihat besar, seperti jualan tas dan sepatu Inul yang sampai berkontainer-kontainer itu.

Karaoke Vs Kuliner, Ternyata Beda Jauh Cara Ngurusnya
Inul akhirnya menemukan dua jenis usaha yang cocok, karaoke dan kuliner, meski keduanya ternyata butuh cara kelola yang beda banget.
Soal karaoke, ia bilang perawatannya jauh lebih ringan. “Yang penting namanya karaoke tuh harus update adalah suaranya,” katanya, sambil bercanda menyebut sound system yang jelek bisa terdengar seperti suara Krisdayanti atau Judika kalau sudah rusak.
Sementara bisnis kuliner justru menuntut dia turun tangan langsung, rutin nanya ke pelanggan soal rasa makanan, karena konsistensi rasa itu yang paling sulit dijaga setiap hari.
Buat kita yang di Bali banyak berkecimpung di sektor kuliner dan pariwisata, entah warung makan, kafe kecil, atau usaha katering rumahan, poin soal konsistensi rasa ini kayaknya paling kena. Kita yang pernah bikin usaha makanan pasti paham, jaga rasa tetap sama setiap hari itu jauh lebih berat dibanding sekadar rawat alat atau update menu sesekali.
Susah Tidurnya Pengusaha, Kita Juga Pasti Pernah Ngerasain
Di akhir obrolannya, Inul jujur soal sisi capeknya jadi pengusaha, susah tidur karena pikiran terus muter mikirin apa lagi yang kurang.
Buat kita yang juga lagi merintis usaha kecil-kecilan di Bali, cerita Inul ini rasanya jadi pengingat sederhana, gagal di satu bidang bukan berarti kita nggak cocok jadi pengusaha. Bisa jadi kita cuma belum ketemu jenis usaha yang benar-benar sesuai sama karakter dan cara kerja kita sendiri.
