BALINEWS.ID – Pernah nggak kita ngerasa dikagetkan sama keputusan orang terdekat, padahal beberapa hari sebelumnya semuanya masih terlihat baik-baik saja? Itu persis yang dialami Andika Mahesa, vokalis Kangen Band, minggu ini.
Cuma empat hari sebelum sang founder, Dodhy Hardiyanto, mengumumkan lewat Instagram bahwa Kangen Band resmi bubar, mereka semua justru masih satu panggung, tampil bareng di Hong Kong. Nggak ada tanda-tanda keretakan yang kelihatan dari luar.
Kalau Emang Ada Masalah, Kenapa Baru Sekarang Ketahuan
Ini yang bikin kita, sama seperti Andika sendiri, jadi ikut bertanya-tanya. “Ketemu kemarinlah di Hongkong empat hari yang lalu. Baru pulang dari Hongkong,” katanya saat dihubungi di Lampung, Sabtu (12/9/2026).
Menurut Andika, memang enggak ada masalah besar yang terasa selama ini di antara mereka. “Iya, memang enggak ada masalah sebenarnya. Bingung makanya. Kita kan enggak tahu apakah Dodhy ada apa-apa kita kan enggak tahu,” ujarnya.
Situasi ini mungkin kerasa familiar buat kita semua. Kadang, orang yang paling dekat sekalipun bisa menyimpan sesuatu yang nggak pernah kita sadari, sampai akhirnya pecah begitu saja tanpa aba-aba. Dodhy sendiri sempat menyinggung soal “kezaliman” yang katanya sudah lama ia pendam, tapi belum menjelaskan detailnya sampai sekarang.

Keputusan Sepihak yang Belum Dibicarakan Bareng
Yang bikin situasinya makin rumit, jadwal Kangen Band sendiri masih padat sampai akhir tahun. Bukan band yang lagi sepi job, justru lagi aktif-aktifnya manggung. Andika menegaskan, keputusan soal masa depan band semestinya dibahas bersama semua personel, bukan diputuskan sepihak lewat unggahan media sosial.
“Kan belum tahu kan semua pihak-pihak yang kan personil-personil yang lain seperti apa kan kita belum tahu,” katanya.
Untuk mencari kejelasan, Andika dijadwalkan segera terbang dari Lampung ke Jakarta, menemui personel lain secara langsung. Ia meminta publik dan media bersabar menunggu hasil pertemuan itu sebelum buru-buru menyimpulkan apa pun.
“Ya paling nunggu itu tadi, jawaban gua sesimpel itu. Nunggu besok nih ketemu anak-anak apa jawabannya, baru lu telepon lagi,” tuturnya.
Kita mungkin nggak akan pernah tahu detail persoalan internal mereka sampai semua pihak buka suara. Tapi cerita ini jadi pengingat sederhana, kadang keputusan besar butuh ruang bicara bersama, bukan cuma satu pihak yang mengambil alih narasi. Sampai pertemuan di Jakarta itu terjadi, nasib salah satu band paling ikonik era 2000-an ini masih jadi tanda tanya besar.
