Pino Bahari, Legenda Tinju Indonesia Terbaring Sakit di Bali, Soroti Minimnya Jaminan Atlet Pensiun

BADUNG, BALINEWS.ID — Mantan petinju nasional, Pino Jeffta Udayana Bahari, yang pernah mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional, kini tengah menghadapi kondisi kesehatan yang memprihatinkan di Bali.

Pino, yang lahir di Denpasar pada 15 Oktober 1972, dikenal sebagai peraih medali emas pada Asian Games 1990. Prestasi tersebut menjadikannya salah satu legenda dalam dunia tinju nasional.

Namun, kehidupan setelah pensiun dari dunia olahraga tidak berjalan mudah. Saat ini, Pino mengaku belum memiliki pekerjaan tetap dan masih bergantung pada bantuan keluarga serta sahabat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

BACA JUGA :  Gubernur Bali Bantah Pengangkatan Pokli, Daftar Nama Beredar Luas

“Dukungan terbesar saya saat ini datang dari keluarga dan teman-teman. Saya juga sudah berkomunikasi dengan Kemenpora, termasuk terkait kebutuhan operasi, tapi masih menunggu kepastian,” ujar Pino, Rabu (29/4/2026).

Kondisi yang dialami Pino kembali menyoroti persoalan klasik dalam dunia olahraga Indonesia, yakni minimnya jaminan kesejahteraan bagi atlet setelah pensiun. Masa produktif yang dihabiskan untuk latihan dan kompetisi kerap membuat atlet kesulitan membangun karier di bidang lain.

Dalam cabang olahraga tinju, masa aktif atlet pun relatif singkat. Rata-rata petinju hanya dapat bertanding hingga usia 40 tahun. Setelah itu, banyak yang harus memulai kehidupan baru tanpa dukungan finansial yang memadai.

BACA JUGA :  Diduga Akibat Korsleting Listrik, Pos Satpam Casa Padel di Jimbaran Terbakar

Melihat kondisi tersebut, Pino mendorong pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia untuk menghadirkan regulasi yang jelas terkait jaminan masa depan atlet.

Ia berharap adanya undang-undang yang mengatur dana pensiun bagi atlet berprestasi, sehingga mereka tetap dapat menjalani kehidupan yang layak setelah tidak lagi aktif bertanding.

“Kalau ada kepastian hukum, atlet bisa fokus berprestasi tanpa rasa khawatir. Orang tua juga akan lebih yakin mendorong anaknya menekuni olahraga,” tegas putra almarhum promotor tinju legendaris Bali, Daniel Bahari.

BACA JUGA :  Rayakan Hari Perempuan, Sadik Art Brokerage Menggelar Pameran Seni

Menurut Pino, anggaran untuk kesejahteraan atlet sejatinya dapat dialokasikan oleh pemerintah. Ia menilai yang dibutuhkan saat ini adalah sistem yang terstruktur serta komitmen nyata untuk menghargai jasa para atlet yang telah mengharumkan nama bangsa.

“Saya harap pemerintah bisa membuat undang-undang untuk menjamin masa depan atlet yang sudah pensiun, supaya mereka yang telah berprestasi bagi negara tetap hidup sejahtera,” pungkasnya.

Tag

Catatan: Jika Anda memiliki informasi tambahan, klarifikasi, atau menemukan kesalahan dalam artikel ini, jangan ragu untuk menghubungi kami melalui email atau melalui kontak di situs kami.

Breaking News

Baca Lainnya