Sucikan Jagat Sekala-Niskala, Upacara Tawur Balik Sumpah Agung di Pura Luhur Uluwatu

Piodalan di Pura Uluwatu.
Piodalan di Pura Uluwatu.

BADUNG, BALINEWS.ID — Guna menyucikan alam semesta (jagat) baik secara lahiriah (skala) maupun batiniah (niskala), Desa Adat Pecatu menggelar upacara Tawur Balik Sumpah Agung (Catur Niri). Prosesi puncak ini dilangsungkan di area Nista Mandala, Kawasan Pura Luhur Uluwatu, Kuta Selatan, Badung, pada Jumat (3/7/2026) pagi.

Upacara yang dimulai sejak pukul 10.00 WITA ini merupakan bagian dari rangkaian utama Pujawali Padudusan Agung lan Tawur Balik Sumpah Agung. Prosesi tawur dipuput oleh dua sulinggih, yakni Ida Pedanda Gede Putra Telaga dari Griya Telaga Sanur, dan Ida Pedanda Gede Made Darma Kerti dari Griya Saraswati.

Hadir langsung dalam upacara tersebut Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa, Wakil Bupati Badung Bagus Alit Sucipta, Sekda Badung Ida Bagus Surya Suamba, beserta jajaran pejabat Pemkab Badung. Turut hadir pula Wakil Ketua DPRD Provinsi Bali, Camat Kuta Selatan, Bendesa Adat Pecatu I Made Sumerta, serta ribuan krama dan pemedek yang tangkil dengan khusyuk.

Makna Penyucian Jagat dan Dukungan Anggaran Rp2 Miliar

Bupati Badung, I Wayan Adi Arnawa, menegaskan bahwa upacara Tawur Balik Sumpah Agung memiliki kedudukan yang sangat penting sebagai karya utama. Menurutnya, ritual ini bukan sekadar rutinitas keagamaan, melainkan momentum penting untuk menjaga spiritualitas dan kesucian Pulau Dewata.

BACA JUGA :  Mantan Pekerja Proyek di Mall Curi Kabel, Kerugian Capai Rp 18,6 Juta

“Ini tidak sekadar melaksanakan kegiatan keagamaan, tetapi juga mengandung makna penyucian jagat secara skala dan niskala. Dengan penyucian inilah Bali tetap bersinar dan tetap menjadi daerah yang penuh kerahayuan,” ujar Bupati Adi Arnawa usai upacara.

Birokrat asal Desa Pecatu ini menambahkan, pelaksanaan karya ini merupakan wujud nyata dari implementasi dharma agama sekaligus dharma negara. Melalui momentum ini, masyarakat diajak untuk meningkatkan sradha bhakti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, memperkuat persatuan, serta memohon keselamatan bagi daerah Badung, Bali, hingga Nusantara.

Sebagai bentuk komitmen nyata, Pemkab Badung memberikan dukungan penuh dengan mengalokasikan anggaran sekitar Rp2 miliar melalui Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung untuk membiayai seluruh rangkaian upacara hingga puncak karya.

“Kami memberikan dukungan penuh sebagai bentuk perhatian pemerintah kepada masyarakat, sekaligus wujud subakti majeng ring Ida Bhatara agar kita selalu diberikan kesehatan dan kerahayuan,” ungkap Adi Arnawa. Ia juga berharap situasi aman, nyaman, dan damai di Badung tetap terjaga, mengingat kondisi kondusif adalah modal utama bagi keberlangsungan sektor pariwisata.

BACA JUGA :  Redam Ketegangan Usai Kasus Penganiayaan di Songan, Kapolres Bangli Turun Langsung ke Lokasi

Penjelasan Tradisi Lima Tahunan dan Daya Tarik Wisata

Sementara itu, Bendesa Adat Pecatu, I Made Sumerta, memberikan klarifikasi mengenai dudonan atau tingkatan karya agar tidak memicu kekeliruan di masyarakat. Ia menjelaskan bahwa piodalan di Pura Luhur Uluwatu rutin digelar setiap enam bulan sekali, namun kali ini dirangkaikan dengan Padudusan Agung yang jatuh setiap lima tahun sekali.

“Ini perlu kami luruskan agar masyarakat tidak keliru. Yang dilaksanakan sekarang adalah piodalan yang dirangkaikan dengan Padudusan Agung lima tahunan, bukan Manca Wali Krama yang dilaksanakan sepuluh tahun sekali,” jelas Made Sumerta.

Ia juga menambahkan bahwa jalannya prosesi adat yang sarat nilai budaya ini tidak hanya memikat umat Hindu untuk bersembahyang, tetapi juga menjadi daya tarik luar biasa bagi wisatawan mancanegara yang sedang berkunjung.

BACA JUGA :  Film “Sampai Titik Terakhirmu”: Kisah Cinta di Tengah Perjuangan Melawan Kanker Resmi Tayang di Bioskop Indonesia

“Banyak wisatawan yang belum pernah melihat prosesi seperti ini di negaranya, sehingga secara tidak langsung ikut menjadi media promosi budaya Bali kepada dunia. Karena itu, kami mengajak seluruh masyarakat bersama-sama menjaga ketertiban agar seluruh rangkaian upacara dapat berlangsung lancar,” imbaunya.

Harmonisasi Bhuana Alit dan Bhuana Agung

Senada dengan hal tersebut, Panglingsir Puri Agung Jro Kuta sekaligus Pangempon Pura Luhur Uluwatu, I Gusti Ngurah Jaka Pratidnya atau yang akrab disapa Turah Joko, menekankan esensi mendalam dari upacara tawur ini sebagai pemulih keseimbangan makrokosmos dan mikrokosmos.

“Acara hari ini tidak lain adalah bagaimana kita menyucikan bumi. Karena tawur adalah untuk kita mengembalikan Bhuana Alit (diri manusia) dan Bhuana Agung (alam semesta) supaya kembali suci. Itu harapan kita bersama,” terangnya.

Rangkaian Padudusan Agung ini akan terus berlanjut hingga mencapai puncak Pujawali yang dijadwalkan jatuh pada hari Anggara Kasih Medangsia, Selasa (7/7/2026) mendatang.

Tag

Catatan: Jika Anda memiliki informasi tambahan, klarifikasi, atau menemukan kesalahan dalam artikel ini, jangan ragu untuk menghubungi kami melalui email atau melalui kontak di situs kami.

ucapan-galungan-dprd-klungkung
KPP FEED IG QR_new

Breaking News

Baca Lainnya