Tolak PPN Sembako, Nyoman Parta Ingatkan Tanpa Pajak Saja Rakyat Sudah Kesulitan Makan

Anggota DPR RI, Nyoman Parta.
Anggota DPR RI, Nyoman Parta.

NASIONAL, BALINEWS.ID – Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, I Nyoman Parta, mendesak pemerintah mengkaji ulang rencana pengenaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) terhadap bahan pokok. Pernyataan tersebut disampaikan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (11/5/26).

Parta menilai, kebijakan mengenakan pajak pada kebutuhan dasar masyarakat tidak mencerminkan keberpihakan kepada rakyat kecil. Di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, lonjakan harga bahan pokok dinilai sudah cukup membebani, sehingga tambahan pajak berpotensi memperburuk situasi.

“Tanpa pajak saja rakyat sudah susah untuk makan apalagi kena pajak. Harga beras naik, minyak goreng mahal, gula dan cabai terus bergejolak. Kalau sembako dikenakan PPN, ini bisa makin menekan kehidupan masyarakat kecil,” ujar Nyoman Parta dengan nada tegas.

BACA JUGA :  Bali Dipredikisi Masuki Musim Hujan Bulan Oktober - November 2025

Legislator asal Bali itu menegaskan, sembako merupakan kebutuhan primer, bukan barang mewah. Karena itu, negara seharusnya hadir menjaga daya beli masyarakat, bukan justru menjadikan kebutuhan dasar sebagai objek pajak.

“Sembako itu kebutuhan primer. Semua orang membutuhkannya, terutama rakyat kecil. Kalau dikenakan pajak, maka dampaknya langsung terasa di meja makan masyarakat. Ini bukan soal angka semata, tapi soal kemampuan rakyat bertahan hidup,” katanya.

Ia juga mengingatkan, penerapan PPN pada sembako berpotensi memicu efek berantai berupa kenaikan harga. Mulai dari pedagang hingga distributor, penyesuaian harga dinilai tak terhindarkan, yang pada akhirnya membebani konsumen.

BACA JUGA :  Dapur Samudra Hadir di Jimbaran, Sajikan Live Seafood Premium dengan Cita Rasa Nusantara

Selain itu, Parta menyoroti dampak sosial yang dapat muncul akibat kenaikan harga pangan, seperti meningkatnya angka kemiskinan hingga risiko stunting pada anak karena menurunnya kualitas konsumsi keluarga.

“Kalau harga kebutuhan pokok makin mahal, yang dikorbankan biasanya kualitas makanan keluarga. Ini berbahaya karena bisa berdampak pada gizi anak-anak dan meningkatkan risiko stunting. Negara jangan sampai mengambil kebijakan yang membuat rakyat makin tercekik,” tegasnya.

Menurutnya, pemerintah perlu mencari alternatif sumber penerimaan negara lain yang tidak membebani masyarakat kecil, seperti optimalisasi sektor sumber daya alam, pajak korporasi besar, serta penanganan kebocoran anggaran.

BACA JUGA :  Garda Tipikor Klungkung Bongkar Mandeknya Kasus Dugaan Korupsi, Minta Kadis Pariwisata Dicopot Sementara

“Cari pemasukan negara jangan dari kebutuhan makan rakyat. Negara masih punya banyak sumber penerimaan lain yang bisa dioptimalkan tanpa harus menyentuh sembako,” ujarnya.

Ia pun memastikan akan mengawal isu tersebut di parlemen dan memperjuangkan agar sembako tetap bebas dari PPN.

“Rakyat butuh harga pangan murah dan terjangkau, bukan pajak baru yang membuat hidup makin berat. pihaknnya akan berdiri bersama rakyat untuk menolak PPN sembako,” pungkasnya. (*)

Tag

Catatan: Jika Anda memiliki informasi tambahan, klarifikasi, atau menemukan kesalahan dalam artikel ini, jangan ragu untuk menghubungi kami melalui email atau melalui kontak di situs kami.

Breaking News

Baca Lainnya