TPS-3R Seminyak Jadi Garda Terdepan, Omzet Pernah Rp500 Juta/Bulan — Tapi Krisis TPA dan Tenaga Kerja Menghantam

BADUNG, BALINEWS.ID – Pengelolaan sampah berbasis desa melalui TPS-3R di Seminyak, Bali, menunjukkan potensi ekonomi sekaligus tantangan serius. Meski sempat mencatat omzet hingga Rp500 juta per bulan, operasional kini tertekan akibat pembatasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA), kekurangan tenaga kerja, serta transisi menuju teknologi pengolahan modern.

Komang Ruditha Hartawan, Ketua TPST-3R Desa Adat Seminyak, menjelaskan bahwa kunci utama pengelolaan sampah adalah pemilahan sejak dari sumber. Sistem ini dinilai mampu mempermudah proses pengangkutan hingga pengolahan akhir, karena hanya residu yang diperbolehkan masuk ke TPA.

“Yang paling utama adalah pemilahan dari sumber. Itu mempermudah semua proses, karena yang masuk ke TPA hanya residu,” ujarnya.

Dari hasil pemilahan, sampah bernilai ekonomi seperti aluminium, kardus, botol plastik PET, dan kaca disalurkan ke pihak ketiga. Bahkan, TPS-3R Seminyak juga menjadi penampung botol plastik yang kemudian dipres sebelum dikirim ke pabrik di luar Bali.

BACA JUGA :  Hari ke-4, Satu Jenazah Korban KMP Tunu Pratama Jaya Ditemukan

Meski memiliki nilai ekonomi, pengelolaan sampah di Seminyak disebut tidak berorientasi pada keuntungan semata. Pendapatan yang ada lebih difokuskan untuk menutup biaya operasional.

“Secara ekonomi ada nilai, tapi kami tidak berorientasi profit. Lebih ke menjaga lingkungan tetap bersih,” kata Koming.

Namun, tekanan mulai terasa sejak adanya pembatasan pembuangan ke TPA. Dampaknya, cakupan layanan menyusut dan pendapatan turun drastis hingga sekitar 40 persen. Saat ini, TPS-3R hanya melayani wilayah Desa Adat Seminyak, setelah sebelumnya juga menangani sampah dari hotel dan restoran besar di luar wilayah.

“Dulu bisa sampai Rp500 juta per bulan. Sekarang turun karena fokus ke wilayah sendiri,” jelasnya.

Di sisi lain, biaya operasional tetap tinggi. Sebelumnya mencapai Rp350 juta hingga Rp390 juta per bulan, kini menurun seiring berkurangnya tenaga kerja dari 52 orang menjadi hanya 26 orang. Kesulitan mencari pekerja menjadi salah satu kendala utama.

BACA JUGA :  Koster Beberkan Persoalan Sampah-Tata Ruang di Bali, Menteri AHY Siap Kawal

“Cari tenaga kerja di sektor sampah itu sangat sulit,” tegasnya.

Untuk operasional, TPS-3R Seminyak sebenarnya memiliki sekitar 28 armada, namun yang aktif digunakan saat ini hanya enam unit.

Ke depan, Seminyak tengah menyiapkan transformasi teknologi untuk mengurangi ketergantungan pada TPA. Salah satu teknologi yang direncanakan berasal dari pihak ketiga, yakni sistem pengolahan sampah tanpa pembakaran, melainkan menggunakan uap panas (steam).

Teknologi tersebut diklaim mampu mengolah hingga 30 ton sampah per hari dengan residu sangat minim, sekitar 100 kilogram, yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif pengganti batu bara oleh industri seperti pabrik semen dan PLN.

“Kalau teknologi ini berjalan, kita tidak perlu lagi ke TPA. Ini bisa jadi solusi jangka panjang,” ujarnya.

Selain teknologi, peran aturan adat (pararem) juga menjadi kunci keberhasilan pengelolaan sampah di Seminyak. Warga diwajibkan memilah sampah, dan sampah yang tidak dipilah tidak akan diangkut.

BACA JUGA :  Menpar Ungkap Tiga Tren Global Penentu Arah Baru Pariwisata Indonesia

Aturan tersebut juga berlaku bagi pelaku usaha seperti restoran dan hotel, dengan ketentuan pemisahan jenis sampah yang ketat, mulai dari organik basah, organik kering, hingga anorganik.

Koming menegaskan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada fasilitas, tetapi juga kesadaran masyarakat.

“Kalau tidak ada kepedulian, fasilitas sebagus apa pun tidak akan berjalan,” katanya.

Ia juga menyatakan dukungannya terhadap wacana penutupan TPA di Bali, asalkan diiringi dengan kesiapan dari hulu, termasuk edukasi dan perubahan pola pikir masyarakat.

“Masalah sampah harus selesai dari sumbernya, dari rumah tangga. Itu kuncinya,” tegasnya.

Dengan kombinasi sistem adat, partisipasi masyarakat, dan rencana adopsi teknologi modern, TPS-3R Seminyak diharapkan dapat menjadi model percontohan pengelolaan sampah berkelanjutan di Bali.

Tag

Catatan: Jika Anda memiliki informasi tambahan, klarifikasi, atau menemukan kesalahan dalam artikel ini, jangan ragu untuk menghubungi kami melalui email atau melalui kontak di situs kami.

Breaking News

Baca Lainnya