DENPASAR, BALINEWS.ID — Sepekan terakhir, siswa dan siswi Sekolah Menengah Pertama (SMP) di sejumlah wilayah Bali disibukkan dengan agenda kelulusan atau graduation. Jika pada era 1990/2000-an kelulusan identik dengan corat-coret seragam dan konvoi kendaraan, kini di tahun 2026 tradisi tersebut bergeser menjadi “mepayas” — mengenakan riasan dan kebaya busana adat Bali.
Tujuan perubahan tradisi ini dinilai positif, yakni membudayakan busana adat sekaligus menghindari aksi corat-coret dan euforia berlebihan di jalanan. Namun, di balik perayaan tersebut, biaya yang dikeluarkan orang tua tidak sedikit.
Khusus siswi perempuan, persiapan graduation mepayas mencakup riasan rambut, wajah, kebaya, kamen, hingga nail art. Jika ditotal, biaya yang dikeluarkan bisa menembus sekitar Rp1 juta per anak.
Untuk riasan wajah dan rambut, banyak orang tua memesan jasa make up artist (MUA) yang datang ke rumah. Di kawasan Denpasar, tarifnya berkisar Rp300 ribu hingga Rp500 ribu. Riasan yang digunakan umumnya payas alit, yakni tata rias sederhana yang lazim dikenakan saat upacara mesangih (potong gigi) atau menek bajang (upacara remaja).
Tak berhenti pada riasan wajah dan rambut, tren mempercantik kuku atau nail art juga marak. Sejumlah salon maupun salon rumahan mematok harga Rp125 ribu hingga Rp155 ribu untuk sepuluh kuku tangan kanan dan kiri.
“Anak-anak lagi sibuk nail art,” ujar seorang bunda di Bali bagian Kota saat berbincang dengan rekannya di sela-sela persiapan kelulusan.
“Iya lho, anak saya juga minggu depan di gedung ini, masih cari MUA yang bisa datang ke rumah,” timpal bunda lainnya.
Selain biaya rias dan kuku, kebaya serta kamen model terbaru juga menjadi penunjang penampilan. Banyak orang tua memilih membeli busana baru agar sang anak tampil maksimal saat momen kelulusan.
Fenomena graduation mepayas ini pun memunculkan dua sisi.
Di satu sisi, tradisi tersebut dinilai memperkuat identitas budaya Bali di kalangan generasi muda serta mengurangi tradisi kelulusan yang kurang tertib.
Di sisi lain, orang tua harus merogoh kocek lebih dalam untuk memenuhi kebutuhan penampilan anak.
Meski demikian, tren ini turut menggeliatkan sektor usaha rias pengantin, salon kecantikan, hingga penjualan kebaya dan aksesori adat. Perputaran ekonomi lokal pun terasa meningkat di tengah musim kelulusan.
Bagi sebagian orang tua, kesibukan dan biaya tambahan tersebut menjadi bagian dari kebanggaan melihat anak menuntaskan pendidikan jenjang SMP dengan balutan busana adat. Sebuah potret perayaan kelulusan yang kian modis, sekaligus kian mahal.

