BADUNG, BALINEWS.ID – Sekitar 1.400 pengusaha dan profesional dari 47 negara berkumpul di Bali International Convention Center (BICC), Badung, Bali, dalam Full Gospel Business Men’s Fellowship International (FGBMFI) World Convention 2026, yang digelar pada 12–15 Agustus 2026.
Konvensi internasional tersebut menjadi bagian dari perayaan 50th Jubilee FGBMFI, dengan mengusung tema “One Fire, One Vision for Acceleration”. Selain mempertemukan pelaku bisnis dan profesional dari berbagai negara, forum ini mengangkat isu kepemimpinan, integritas, keluarga, kehidupan sosial dan nilai-nilai iman.
International President FGBMFI, Fransis Uwoso, menegaskan bahwa FGBMFI bukan sekadar organisasi yang menghimpun pengusaha Kristen. Menurut dia, organisasi tersebut dibangun sebagai komunitas bagi orang-orang biasa yang memiliki pengalaman hidup dan mengalami perubahan.
“Walaupun kami adalah pengusaha Kristen, kami bukan pendeta. Kami adalah laki-laki dan perempuan biasa yang terlibat dalam dunia bisnis,” ujar Fransis.
Ia mengatakan, anggota FGBMFI berasal dari berbagai latar belakang bisnis dan profesi. Mereka berbagi pengalaman pribadi, termasuk persoalan yang pernah dihadapi sebelum mengalami perubahan dalam kehidupan.
Fransis juga menceritakan pengalaman pribadinya sebelum bergabung dengan FGBMFI. Ia mengaku pernah menghadapi persoalan terkait kebiasaan mengonsumsi minuman keras di negaranya.
“Sebelum bergabung dengan organisasi ini, saya memiliki masalah dengan kebiasaan minum-minuman keras di negara saya. Namun, setelah bergabung dengan organisasi ini dan Tuhan menyentuh hidup saya, saya benar-benar mengalami perubahan,” katanya.
Menurut Fransis, perubahan tersebut tidak hanya berdampak pada kehidupan pribadinya, tetapi juga kehidupan rumah tangganya.
“Jadi, sekarang saya menjadi laki-laki yang lebih baik dan suami yang lebih baik,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pengalaman personal menjadi salah satu kekuatan komunitas FGBMFI. Para anggota dari berbagai negara saling berbagi cerita mengenai persoalan kehidupan dan proses perubahan yang mereka alami.
Pertemuan FGBMFI, kata Fransis, juga tidak selalu berlangsung dalam suasana formal atau di lingkungan gereja. Para anggota kerap bertemu di restoran maupun hotel untuk membangun komunikasi dan berbagi pengalaman.
“Setiap minggu kami bertemu di restoran dan hotel. Karena kami tidak ingin terlihat terlalu religius,” ungkapnya.
Fransis menyebut FGBMFI sebagai organisasi yang praktis karena berupaya membantu masyarakat menghadapi persoalan kehidupan sehari-hari.
“Kami adalah organisasi yang praktis. Bagaimana membantu orang-orang biasa yang sedang menghadapi persoalan dalam hidup mereka,” katanya.
Menurut dia, kisah perubahan yang dibagikan anggota dapat menjadi dorongan bagi orang lain yang sedang menghadapi masalah untuk mencari pertolongan dan membangun kehidupan yang lebih baik.
Dalam kesempatan tersebut, Fransis juga menyinggung berbagai persoalan global yang menunjukkan keterbatasan manusia dalam menghadapi tantangan.
Ia mencontohkan kebakaran hutan yang terjadi di sejumlah wilayah Eropa, termasuk Spanyol, Italia dan Prancis. Fransis mengatakan dirinya baru saja berada di Eropa dan mendengar langsung mengenai persoalan tersebut.
Ia kemudian menyinggung pernyataan Presiden Prancis yang menggambarkan persoalan kebakaran tersebut sebagai salah satu tantangan besar sejak Perang Dunia II.
Menurut Fransis, perkembangan teknologi dan kekuatan sebuah negara tidak membuat manusia mampu mengendalikan seluruh persoalan.
“Jadi, kita menyadari bahwa manusia memiliki keterbatasan. Manusia tidak dapat melakukan segala sesuatu yang mereka inginkan,” ujarnya.
Ia bahkan menyoroti ironi ambisi manusia untuk menjelajah Mars, sementara berbagai persoalan di bumi masih sulit ditangani.
“Kita hidup di dunia dan ingin pergi ke Mars. Namun, kebakaran kecil saja bahkan tidak mampu kita tangani di bumi ini,” kata Fransis.
Atas kondisi tersebut, ia menilai iman memiliki peran penting dalam kehidupan manusia.
“Kita tidak bisa menjalani kehidupan di dunia ini tanpa iman,” tegasnya.
Fransis mengatakan setiap orang membutuhkan Tuhan untuk menghadapi ketakutan dan berbagai persoalan kehidupan.
“Setiap laki-laki dan perempuan membutuhkan Tuhan dalam hidup mereka untuk menghilangkan setiap ketakutan dalam diri. Sehingga ketika masalah datang, kita tahu bahwa kita kuat untuk menghadapinya,” ujarnya.
Fransis juga menyoroti peran anggota FGBMFI Indonesia dalam jaringan organisasi tersebut. Ia menilai Indonesia memiliki kontribusi penting dalam perkembangan FGBMFI secara global.
“Anggota kami dari Indonesia memainkan peran yang sangat penting dalam organisasi,” katanya.
Ia berharap anggota FGBMFI Indonesia tidak hanya aktif dalam komunitas, tetapi juga mampu menunjukkan kontribusi positif dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
“Kami ingin percaya bahwa laki-laki dan perempuan yang menjadi bagian dari komunitas ini adalah warga negara Indonesia yang baik,” ujarnya.
Menurut Fransis, perilaku positif anggota dalam kehidupan sehari-hari justru menjadi bentuk kesaksian paling kuat bagi organisasi.
“Itu akan menjadi kesaksian terbesar bagi organisasi,” katanya.
FGBMFI World Convention 2026 di Bali diikuti sekitar 1.400 pengusaha dan profesional dari 47 negara. Konvensi ini sekaligus menjadi momentum perayaan 50 tahun perjalanan organisasi.
Sejumlah tokoh nasional dan internasional dijadwalkan hadir sebagai pembicara maupun pengisi acara, antara lain Romo Koko, Ps. Juan Mogi, Ps. Rubin Adi Abraham yang juga Ketua Sinode GBI, Ps. Harliem Salim dari Gereja Kristen Indonesia selaku Koordinator Asia Pacific, Ps. Lito Samsriwi dari Care City Church Jakarta dan Ps. Timotius Arifin.
Dari sektor bisnis, sesi workshop menghadirkan sejumlah profesional, di antaranya Batara Sianturi, CEO Citi Indonesia, serta Anthony Putihrai dari Tamara Corporation.
Sejumlah tokoh juga terlibat dalam penyelenggaraan World Convention Bali 2026, yakni Len Wijaya sebagai Ketua Umum World Convention Bali 2026, Djinhard sebagai Senior Ambassador Full Gospel Indonesia, Dalie Sutanto sebagai National President Full Gospel Indonesia, Fransis Uwoso sebagai International President FGBMFI, Anthony Putihrai sebagai Director World Convention Bali 2026, serta Agus Surjanto sebagai Ketua Acara World Convention Bali 2026.
Di Indonesia, FGBMFI dikenal sebagai Perkumpulan Usahawan Injil Sepenuhnya Indonesia (PUISI). Organisasi tersebut merupakan organisasi Kristen interdenominasi yang menghimpun pengusaha dan profesional dari berbagai bidang.
FGBMFI Indonesia menegaskan organisasinya bukan organisasi gereja dan tidak berafiliasi dengan partai politik maupun denominasi gereja tertentu.
Melalui World Convention 2026 di Bali, FGBMFI membawa agenda penguatan jejaring bisnis dan profesional lintas negara sekaligus menjadi ruang pertukaran pengalaman mengenai kepemimpinan, keluarga, integritas, kehidupan sosial dan keyakinan.
