JEMBER, BALINEWS.ID — Dua akademisi seni asal Bali dipercaya menjadi bagian penting dalam penjurian Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) 2026 yang digelar di Universitas Jember, Jawa Timur, 7–11 September 2026.
I Wayan Nuriarta dipercaya sebagai Koordinator Juri Lomba Komik Strip, sementara Ida Ayu Dwita Krisna Ari menjadi Juri Lomba Desain Poster. Keduanya terlibat dalam menilai karya mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia pada ajang seni mahasiswa tingkat nasional tersebut.
Kepercayaan terhadap dua akademisi Bali itu sekaligus menempatkan kepakaran seni dan desain Bali dalam proses menentukan kualitas karya mahasiswa di tingkat nasional.
Sebagai Koordinator Juri Komik Strip, Nuriarta memimpin proses penilaian karya yang tidak hanya mengandalkan kemampuan menggambar. Penjurian mencakup kemampuan peserta membangun cerita melalui perpaduan gambar dan kata, termasuk alur, hubungan antarpanel, karakter, dialog, ekspresi, serta ritme visual.

Kesesuaian karya dengan tema lomba, kekuatan komunikasi kepada audiens, penguasaan teknik, keunikan visual, serta orisinalitas penceritaan juga menjadi pertimbangan dalam penilaian.
“Penjurian tidak hanya melihat apakah sebuah karya menarik secara visual, tetapi bagaimana gagasan dibangun, bagaimana pesan dikomunikasikan, dan sejauh mana peserta mampu menunjukkan karakter serta orisinalitasnya,” ujar Nuriarta.
Nuriarta merupakan dosen Program Studi Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni Rupa, serta alumni S3 Kajian Budaya, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Ia memiliki kepakaran dalam kajian budaya visual dan aktif dalam penelitian, publikasi ilmiah, penciptaan karya, serta penjurian komunikasi visual di tingkat nasional dan internasional.
Pengalamannya di bidang komik, kartun, dan narasi visual juga dituangkan dalam sejumlah buku. Salah satunya Semiotika Kartun Opini yang diterbitkan Deepublish pada 2026. Sebelumnya, ia menerbitkan Kartun, Cergam, Komik; Konsep dan Aplikasinya, Menjelajah Visual dan Cerita dalam Komik Naruto, serta Narasi Visual: Ceritanya Masa Lalu dan Karyanya Hari Ini.

Sementara itu, Dwita mendapat tugas menilai karya pada cabang Desain Poster. Fokus penilaian diarahkan pada kemampuan mahasiswa mengolah gagasan menjadi pesan visual yang efektif.
Aspek yang dinilai antara lain kesesuaian dengan tema, orisinalitas dan kreativitas, kekuatan pesan, serta kualitas visual. Unsur gambar, tipografi, warna, komposisi, keterampilan teknis, hingga impresi keseluruhan turut menjadi pertimbangan.
“Poster yang baik bukan hanya terlihat menarik, tetapi mampu membuat audiens memahami pesan yang disampaikan. Konsep, tipografi, warna, komposisi, dan kualitas visual harus bekerja sebagai satu kesatuan,” kata Dwita.
Dwita merupakan dosen Program Studi Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni Rupa dan Desain, dengan konsentrasi Kajian Budaya Populer. Ia mengampu sejumlah mata kuliah, antara lain DKV, Tipografi, Sosiologi Desain, dan Estetika.
Aktivitas akademiknya banyak berkaitan dengan budaya populer, komunikasi visual, dan desain. Ia juga aktif menulis artikel ilmiah terakreditasi dengan kajian seperti desain mural, lukisan bak truk, dan ilustrasi media sosial.
Pada 2025, Dwita menerbitkan buku Teks Bahasa Bali Dalam T-Shirt Perspektif Kajian Seni melalui Madza Media. Ia juga aktif membimbing mahasiswa dalam berbagai program tingkat nasional, termasuk Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), serta tercatat sebagai reviewer nasional PKM dan pembimbing nasional Kampus Mengajar.
Peksiminas 2026 diselenggarakan berdasarkan hasil Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Badan Pembina Seni Mahasiswa Indonesia (BPSMI) 2026. Pengurus Provinsi BPSMI Jawa Timur ditetapkan sebagai tuan rumah, dengan Universitas Jember menjadi pusat seluruh rangkaian kegiatan.
Keterlibatan Nuriarta dan Dwita menunjukkan bahwa peran akademisi dalam Peksiminas tidak berhenti pada ruang pendidikan kampus. Mereka turut menentukan bagaimana karya mahasiswa dibaca, dinilai, dan diapresiasi berdasarkan gagasan, kreativitas, teknik, estetika, serta kemampuan berkomunikasi.
Dari Bali, Nuriarta membawa kepakaran dalam budaya visual, kartun, komik, dan seni sekuensial. Sementara Dwita memperkuat perspektif kajian budaya populer dan komunikasi visual dalam penilaian desain poster.
Kehadiran keduanya menjadi bagian dari kontribusi Bali di Peksiminas 2026, tidak hanya melalui mahasiswa yang berkompetisi, tetapi juga melalui akademisi yang dipercaya menjaga kualitas dan objektivitas proses penjurian di tingkat nasional.
