GIANYAR, BALINEWS.ID – Upaya pengelolaan sampah berbasis sumber yang dikembangkan Kabupaten Gianyar menarik perhatian Pemerintah Kamboja. Hal itu terlihat dari kunjungan delegasi Kamboja yang diterima langsung Wakil Bupati Gianyar, Anak Agung Gde Mayun, di Ruang Sidang I Kantor Bupati Gianyar, Jumat (12/6).
Kunjungan tersebut difokuskan untuk mempelajari kebijakan, strategi, dan implementasi pengelolaan sampah yang telah dijalankan Gianyar dalam mewujudkan lingkungan bersih dan berkelanjutan. Dalam pemaparan, delegasi mendapatkan penjelasan mengenai sistem pemilahan sampah dari sumber, peran aktif masyarakat, hingga kolaborasi antara pemerintah daerah, desa adat, dan berbagai pemangku kepentingan.
“Ketika jumlah penduduk masih sedikit, sampah tidak menjadi masalah. Namun seiring meningkatnya jumlah dan aktivitas penduduk, perubahan gaya hidup, serta pola konsumsi masyarakat, timbulan sampah menjadi semakin banyak, baik jumlah maupun variasinya,” ujar Agung Mayun.
Ia menegaskan, pengelolaan sampah yang tidak optimal dapat berdampak pada kesehatan dan kualitas lingkungan. Selain itu, keterbatasan lahan menjadi tantangan dalam penyediaan tempat pemrosesan akhir (TPA).
Karena itu, menurutnya, pengelolaan sampah harus dimulai dari sumbernya dan menjadi tanggung jawab bersama, tidak hanya pemerintah daerah tetapi juga desa, desa adat, dan masyarakat. Dengan pola tersebut, volume sampah yang dikirim ke TPA Temesi dapat ditekan dan hanya menyisakan residu.
Saat ini, Gianyar memiliki 48 unit TPS 3R atau rumah kompos yang tersebar di 45 desa dan satu kelurahan. Fasilitas tersebut berperan penting dalam mengurangi timbulan sampah sebelum masuk ke TPA.
Salah satu yang menjadi perhatian delegasi adalah Rumah Kompos Padang Tegal di Ubud, yang dikelola Desa Adat Padang Tegal. Fasilitas ini dinilai berhasil meningkatkan pelayanan kebersihan sekaligus menekan volume sampah.
Pimpinan rombongan, Secretary of State – Ministry of Interior Kamboja, Oum Mara, menyampaikan apresiasi atas sambutan Pemerintah Kabupaten Gianyar. Ia mengaku tertarik dengan pendekatan pengelolaan sampah yang melibatkan masyarakat secara langsung.
“Kami sangat tertarik melihat bagaimana masyarakat berperan aktif dalam mengelola sampah, termasuk penerapan teknologi rumah kompos yang telah berjalan dengan baik,” ujarnya.
