NASIONAL, BALINEWS.ID – Perekonomian Indonesia pada triwulan I 2026 mencatat pertumbuhan sebesar 5,61 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi pada triwulan sebelumnya yang berada di level 5,39 persen.
Capaian itu diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS) dan disebut menjadi salah satu yang tertinggi di antara negara-negara anggota G20. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia bahkan melampaui sejumlah negara besar seperti Amerika Serikat, China, Singapura hingga Korea Selatan.
“Dilaporkan kepada Bapak Presiden kondisi perekonomian saat ini yang dari hasil tadi pengumuman BPS di kuartal pertama baik, kita pertumbuhannya di 5,61. Pertumbuhan ini adalah di antara negara G20 tertinggi. Jadi kita di atas China, di atas Singapura, Korea Selatan, Arab, bahkan Amerika,” ujar Airlangga usai rapat bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (5/5/26).
Menurut Airlangga, capaian tersebut juga berada di atas rata-rata proyeksi sejumlah lembaga internasional yang sebelumnya memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 5,2 persen.
Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi pada awal tahun ditopang kuat oleh aktivitas domestik. Konsumsi rumah tangga tumbuh sebesar 5,52 persen didorong meningkatnya aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri 1447 Hijriah.
Selain itu, paket stimulus pemerintah turut mendorong peningkatan konsumsi masyarakat.
Sementara itu, konsumsi pemerintah tumbuh tinggi mencapai 21,81 persen. Kenaikan ini dipicu oleh realisasi belanja pegawai melalui pencairan gaji ke-14 atau Tunjangan Hari Raya (THR), serta belanja program prioritas pemerintah seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Konsumsi Lembaga Nonprofit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) juga tumbuh sebesar 6,28 persen seiring meningkatnya aktivitas organisasi kemasyarakatan. Di sisi lain, investasi tumbuh 5,96 persen, terutama didorong peningkatan pada subkomponen kendaraan serta mesin dan perlengkapan.
Ekspor turut mencatat pertumbuhan sebesar 0,90 persen. Pertumbuhan ini ditopang oleh permintaan yang masih baik dari sejumlah mitra dagang utama Indonesia serta meningkatnya aktivitas pariwisata, termasuk kunjungan wisatawan mancanegara.
Dari sisi lapangan usaha, sebagian besar sektor ekonomi menunjukkan pertumbuhan positif. Sektor industri pengolahan, perdagangan, dan pertanian menjadi kontributor utama pertumbuhan ekonomi nasional. Selain itu, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum, transportasi dan pergudangan juga tumbuh tinggi seiring meningkatnya mobilitas masyarakat selama libur Idulfitri dan aktivitas pariwisata.
Secara wilayah, pertumbuhan ekonomi tertinggi pada triwulan I 2026 tercatat di kawasan Bali dan Nusa Tenggara (Balinusra), disusul Sulawesi, Jawa, Sumatera, Maluku dan Papua, serta Kalimantan.
Airlangga juga menyoroti sejumlah indikator makro ekonomi lain yang dinilai tetap terjaga. Ia menyebut inflasi berhasil ditekan menjadi 2,42 persen dari sebelumnya 3,48 persen pada periode Februari-Maret. Selain itu, indeks keyakinan konsumen berada di level 122,9 poin yang mencerminkan optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional.
Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2026 akan tetap kuat dalam kisaran 4,9 hingga 5,7 persen. (*)
