BALINEWS.ID – Bagaimana kalau hidup bukan soal seberapa cepat kita sampai, tapi seberapa jauh kita terus bertumbuh?
Pertanyaan itu menjadi benang merah Becoming Without Arrival, buku debut Ghina Raihanah Tadjoedin. Buku ini diluncurkan lewat Ghinarai Tadjoedin’s Immersive Literary Experience di Museum MACAN, Jakarta, Minggu (20/9/2026), sekaligus menandai 25 tahun perjalanan “becoming” Ghina.
Buku setebal 128 halaman terbitan TransMedia Pustaka ini bukan sekadar kumpulan tulisan. Isinya refleksi tentang berbagai fase hidup: keluarga, kehilangan, ambisi, hubungan, identitas, sampai proses menerima diri sendiri. Laut menjadi metafora utamanya, sesuatu yang terus bergerak, berubah, surut, lalu kembali, seperti hidup manusia yang tidak selalu berjalan lurus.
“Bertumbuh tidak selalu berarti akhirnya sampai di suatu tempat. Kita terus berubah, kehilangan, menemukan, dan memahami diri dengan cara yang berbeda,” ujar Ghina.

Pilihan metafora itu terasa masuk akal jika melihat latar belakangnya. Ghina berlatar hukum, aktif dalam isu keadilan, kelautan, dan lingkungan hidup, serta seorang penyelam. Ia melihat keterhubungan antara laut, hukum, kata-kata, dan perjalanan manusia.
Peluncurannya pun tidak berhenti di sesi bedah buku. Satu buku diterjemahkan ke empat medium sekaligus: sastra, percakapan, seni visual, dan audiovisual.
Dalam sesi Book Launch & Conversation, hadir Elle Wibisono (Technical Director of Blue Lab at Georgetown SFS Asia Pacific), sutradara dan penulis skenario Wregas Bhanuteja, serta jurnalis dan dokumenteris Andini Effendi. Sesi itu dipandu Gridanya Mega dan membahas proses kreatif, perjalanan manusia, serta bagaimana pengalaman diterjemahkan menjadi karya.
Suasana buku diperkuat lewat pameran seni yang melibatkan Studio Hendro Hadinata, Kolektif Matter, Leon Li, dan Intan Anggita Pratiwie. Laut, yang menjadi bahasa penting dalam tulisan Ghina, hadir sebagai benang merah visual di ruang pameran.
