JAKARTA, BALINEWS.ID – Indonesia dan Australia kembali duduk bersama untuk mematangkan kerja sama di sektor kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV). Pertemuan resmi kedua yang membahas kesepakatan (MoU) ekosistem baterai kendaraan listrik ini digelar di Jakarta pada Selasa, 19 Mei 2026.
Kerja sama ini merupakan komitmen langsung dari para pemimpin kedua negara untuk saling mendukung dan berkolaborasi dalam membangun industri baterai kendaraan listrik yang kuat.
“Lewat kerja sama kendaraan listrik ini, Australia dan Indonesia bisa bekerja lebih erat dalam peralihan ke energi ramah lingkungan, sekaligus menciptakan peluang baru untuk rantai pasokan energi bersih yang lebih kuat,” ujar Jonathan Gilbert, perwakilan dari Kedutaan Besar Australia di Jakarta.
Pertemuan penting ini dipimpin bersama oleh dua pejabat tinggi dari kedua negara, yaitu:
Elen Setiadi: Wakil Menteri IV dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia.
Alison Drury: Pelaksana Tugas Kepala Divisi Strategi Internasional dan Keamanan Nasional dari Kementerian Industri, Sains, dan Sumber Daya Australia.
Selain itu, diskusi ini juga dihadiri oleh perwakilan penting lainnya, seperti Direktur Jenderal Minerba Kementerian ESDM Tri Winarno, Sekretaris Eksekutif Dewan Ekonomi Nasional Septian Hario Seto, serta para pejabat dari Kementerian Perindustrian dan Kementerian Luar Negeri RI.
Dalam pertemuan tersebut, kedua negara mengevaluasi beberapa perkembangan positif yang sudah berjalan, di antaranya:
Uji Coba Bus Listrik: Adanya riset terbaru dari program kerja sama bernama KONEKSI, yang fokus membantu pengurangan emisi karbon pada fasilitas penunjang bus di Indonesia (menuju transportasi publik yang lebih ramah lingkungan).
Penanganan Limbah Tambang: Studi baru untuk membantu Indonesia mengatasi dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan dari lumpur merah (limbah sisa pengolahan bauksit untuk bahan baku baterai).
Kerja sama ini terbukti memberikan dampak nyata yang sangat pesat. Salah satu buktinya adalah pasokan bahan baku baterai.
Hanya dalam waktu singkat, Indonesia kini sukses melesat menjadi pasar terbesar kedua di dunia untuk pembelian litium (spodumene) dari Australia pada tahun 2025. Padahal, pada tahun 2023 lalu, transaksi pembelian bahan baku baterai ini antara Indonesia dan Australia tercatat hampir tidak ada (nol).
Melalui kolaborasi gotong royong ini, kedua negara berharap transisi menuju era kendaraan listrik yang ramah lingkungan dapat berjalan lebih cepat dan membawa dampak ekonomi yang positif bagi masyarakat luas.
