Di tengah kebakaran hutan dan lahan yang terus menyelimuti sebagian wilayah Indonesia dengan asap tebal, seekor orangutan ditemukan tergeletak lemah di sebuah perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Barat.
Orangutan itu bukan mengalami luka bakar parah. Namun, ada masalah lain yang membuat kondisinya mengkhawatirkan: ia diduga kesulitan mendapatkan oksigen akibat asap yang begitu pekat.
Dikutip dari Reuters, orangutan tersebut ditemukan pada Minggu pagi oleh seorang petani bernama Jais di area perkebunan kelapa sawit dekat lokasi kebakaran di Ketapang, Kalimantan Barat.
Saat ditemukan, kondisinya sudah sangat lemah.
Jais kemudian memberinya air sebelum bersama warga lain menghubungi tim penyelamat satwa. Sekitar dua jam kemudian, Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia tiba bersama dokter hewan untuk memberikan pertolongan.
Orangutan itu kemudian diberi nama Sampurna, mengikuti nama desa tempat ia ditemukan.

Menurut CEO yayasan, Karmele Llano Sanchez, Sampurna diduga mengalami hipoksia, kondisi ketika tubuh kekurangan pasokan oksigen. Penyebabnya diduga kuat adalah asap tebal yang menyelimuti kawasan tersebut.
Dokter hewan Komara mengatakan orangutan berusia sekitar 20 tahun itu tidak mengalami luka bakar serius. Namun, ia mengalami gangguan pernapasan dan muntah. Tim medis menduga Sampurna mengalami infeksi saluran pernapasan akut.
Di lokasi, Sampurna terlihat terbaring lemah dengan mata tertutup. Tim penyelamat memberikan oksigen melalui selang kecil di hidungnya serta cairan infus sebelum membawanya untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.
Jika kondisinya pulih, orangutan tersebut direncanakan menjalani rehabilitasi sebelum dilepasliarkan kembali ke habitatnya.
Kisah Sampurna memperlihatkan sisi lain dari kebakaran hutan yang sering luput dari perhatian. Asap tidak hanya mengancam manusia.
Menurut data Kementerian Kehutanan yang dikutip Reuters, sedikitnya 202.010 hektare lahan terbakar di Indonesia sepanjang Januari hingga Juli 2026. Kebakaran dan kabut asap telah memicu gangguan pernapasan serta mengganggu aktivitas masyarakat di sejumlah wilayah.
Sementara bagi satwa liar, ancamannya bisa datang tanpa terlihat. Tidak harus terbakar untuk menjadi korban. Kadang, hanya dengan bernapas di tengah asap yang terlalu pekat, mereka sudah kehilangan kesempatan untuk bertahan.
Tim penyelamat mengatakan Sampurna merupakan orangutan ketujuh yang dievakuasi akibat kebakaran sejauh ini. Dan jumlah itu bisa menjadi pengingat bahwa ketika hutan terbakar, yang hilang bukan hanya pohon.
