Slot Header 970×90

Pojok Narasi

PAGERWESI: PENGETAHUAN SEBAGAI BENTENG KEHIDUPAN

Pojok Narasi Penulis: AAGN Ari Dwipayana

4 November 2026 pukul 06.47 WITA · 7 menit baca

AAGN Ari Dwipayana, Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud
AAGN Ari Dwipayana, Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud

Oleh : AAGN Ari Dwipayana, Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud

Hari suci Pagerwesi jatuh pada rahina Buda Kliwon Wuku Sinta, sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari rangkaian hari suci Saraswati. Pagerwesi mengandung pesan filosofis yang mendalam tentang pentingnya membangun benteng kehidupan dengan pengetahuan, kebijaksanaan, dan keteguhan menjalankan Dharma.

Secara harfiah, Pagerwesi berasal dari dua kata, yakni pager yang berarti pagar atau benteng, dan wesi yang berarti besi. Pagar besi merupakan simbol perlindungan yang kuat, kokoh, dan sulit ditembus. Besi dipilih sebagai simbol karena memiliki sifat keras dan kuat, sehingga dapat digunakan untuk melindungi sesuatu yang dianggap berharga.

Namun, ada dua pertanyaan mendasar yang patut direnungkan. Apa sesungguhnya yang harus dipagari? Dan dengan apa manusia membangun pagar atau benteng kehidupannya?

Pertanyaan tersebut mengajak kita memahami Pagerwesi bukan hanya sebagai perayaan ritual, tetapi juga sebagai momentum refleksi tentang bagaimana manusia menjaga dirinya, keluarganya, masyarakatnya, dan seluruh kehidupan dari berbagai ancaman yang dapat merusak tatanan kehidupan.

Sang Hyang Pramesti Guru sebagai Guru Sejati

Lontar Sundarigama memberikan tuntunan tentang makna Pagerwesi:

“Budha Kliwon Shinta Ngaran Pagerwesi payogan Sang Hyang Pramesti Guru kairing ring watek Dewata Nawa Sanga ngawerdhiaken sarwa tumitah sarwatumuwuh ring bhuana kabeh.”

Artinya, Buda Kliwon Sinta disebut Pagerwesi, sebagai hari pemujaan Sang Hyang Pramesti Guru yang diiringi Dewata Nawa Sanga untuk memelihara dan mengembangkan seluruh makhluk serta segala yang tumbuh di alam semesta.

Kutipan ini mengandung dua pesan penting. Pertama, Pagerwesi merupakan momentum memuliakan Sang Hyang Pramesti Guru sebagai Guru Sejati. Dalam tradisi Hindu Bali, Sang Hyang Pramesti Guru merupakan manifestasi Siwa sebagai sumber pengetahuan, kebijaksanaan, dan tuntunan spiritual. Guru Sejati memberikan penerangan agar manusia terbebas dari awidya, yakni kegelapan yang bersumber dari ketidaktahuan.

Dengan demikian, perlindungan kehidupan tidak cukup hanya mengandalkan kekuatan fisik, kekayaan material, atau kekuasaan. Manusia membutuhkan pengetahuan dan kebijaksanaan agar mampu membedakan yang benar dan salah, yang baik dan buruk, serta yang patut dan tidak patut dilakukan.

Kedua, Pagerwesi mengandung pesan untuk menjaga dan memelihara seluruh kehidupan. Ungkapan "ngawerdhiaken sarwa tumitah sarwa tumuwuh" menegaskan bahwa pemujaan kepada Tuhan tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab manusia untuk menjaga seluruh ciptaan-Nya.

Artinya, perlindungan tidak boleh hanya berorientasi pada keselamatan diri sendiri. Perlindungan juga harus mencakup kehidupan sesama manusia, makhluk hidup lainnya, dan alam semesta.

Lontar Sundarigama juga memberikan tuntunan kepada para Wiku Purohita untuk melaksanakan pemujaan, yoga, dan samadhi, termasuk mempersembahkan "Sesayut Panca Lingga". Sementara umat menghaturkan "Sesayut Pageh Urip", sebagai simbol permohonan keteguhan, keselamatan, dan perlindungan kehidupan.

Tradisi ini mengingatkan bahwa para rohaniawan memiliki tanggung jawab sebagai pembimbing spiritual masyarakat. Mereka bukan hanya menjalankan ritual, melainkan juga memberikan tuntunan pengetahuan, keteladanan moral, dan kebijaksanaan dalam menjalani kehidupan.

Dari sini dapat dipahami bahwa Pagerwesi bukan sekadar ritual untuk "magehang awak" (melindungi diri), melainkan juga "magehang urip" (meneguhkan kehidupan).

Dari Saraswati Menuju Pagerwesi

Makna Pagerwesi tidak dapat dilepaskan dari rangkaian hari suci Saraswati. Rangkaian ini sesungguhnya mengandung perjalanan spiritual manusia dalam hubungannya dengan ilmu pengetahuan.

Saraswati merupakan momentum untuk memuliakan sumber ilmu pengetahuan (widya). Pengetahuan diibaratkan sebagai sesuluh, cahaya yang menerangi manusia dari kegelapan. Tanpa pengetahuan, manusia akan sulit menemukan jalan untuk mencapai tujuan kehidupan yang berlandaskan dharma.

Banyu Pinaruh merupakan momentum penyucian diri melalui pengetahuan. Air (banyu) memiliki sifat membersihkan, menyucikan, dan mengalir. Sifat air ini menjadi simbol pengetahuan yang mampu membersihkan kekotoran pikiran, membebaskan manusia dari awidya, serta mengalirkan kebijaksanaan dalam kehidupan.

Pagerwesi merupakan momentum untuk meneguhkan dan melindungi kehidupan dengan pengetahuan. Pengetahuan yang telah dimuliakan dan digunakan untuk menyucikan diri selanjutnya harus menjadi dasar untuk membangun keteguhan hidup.

Dengan demikian, ketiga hari suci tersebut membentuk satu kesatuan perjalanan spiritual: memuliakan pengetahuan, menyucikan diri dengan pengetahuan, dan menjadikan pengetahuan sebagai pagar atau benteng kehidupan.

Namun, pengetahuan saja tidak cukup. Manusia yang berpengetahuan belum tentu memiliki kebijaksanaan. Bahkan, pengetahuan dapat disalahgunakan untuk memanipulasi, menipu, menindas, dan menghancurkan kehidupan.

Karena itu, pengetahuan harus disertai dengan satya (kebenaran), wiweka (kemampuan membedakan yang baik dan buruk), serta dharma (kebajikan). Pengetahuan tanpa kebijaksanaan dapat menjadi alat penghancur, sedangkan pengetahuan yang dilandasi dharma akan menjadi kekuatan untuk melindungi kehidupan.

Tiga Pagar atau Benteng Kehidupan

Dalam konteks kehidupan kontemporer, filosofi Pagerwesi dapat dimaknai sebagai tuntunan untuk membangun tiga pagar atau benteng kehidupan.

Pertama, pagar atau benteng intelektual. Di tengah perkembangan teknologi digital dan derasnya arus informasi, manusia menghadapi berbagai ancaman berupa kebodohan, disinformasi, manipulasi, dan pembodohan publik.

Kemajuan teknologi telah memberikan kemudahan untuk memperoleh dan menyebarluaskan informasi. Namun, kemudahan mengakses informasi tidak selalu diikuti oleh kemampuan memahami, menguji, dan menilai kebenaran informasi tersebut.

Tidak sedikit orang yang merasa paling mengetahui kebenaran hanya karena membaca informasi sepintas dari internet atau media sosial. Bahkan, informasi yang belum teruji sering kali dijadikan dasar untuk menghakimi orang lain, menyebarkan kebencian, dan membangun prasangka.

Dalam situasi seperti ini, pengetahuan, literasi, dan kemampuan berpikir kritis menjadi pagar kehidupan yang sangat penting.

Benteng intelektual dibangun melalui kemauan untuk terus belajar, keterbukaan terhadap pengetahuan baru, kesediaan menguji kebenaran, serta kerendahan hati untuk mengakui keterbatasan pengetahuan diri sendiri.

Orang yang memiliki benteng intelektual tidak mudah diperdaya oleh informasi palsu, tidak gampang diprovokasi, dan tidak serta-merta menganggap tafsirnya sendiri sebagai satu-satunya kebenaran.

Kedua, pagar atau benteng moral-spiritual. Pengetahuan yang tinggi tidak otomatis menjadikan seseorang memiliki integritas moral. Orang yang cerdas sekalipun dapat terjerumus dalam keserakahan, kesombongan, kebencian, dan penyalahgunaan kekuasaan.

Karena itu, manusia membutuhkan pagar moral dan spiritual yang dibangun melalui kejujuran (satya), pengendalian diri, ketulusan, serta keteguhan menjalankan dharma.

Pagar moral-spiritual menjadi pengingat agar manusia tidak menggunakan pengetahuan, kedudukan, kekayaan, atau kekuasaannya untuk merugikan orang lain.

Dalam kehidupan sosial, pagar moral-spiritual juga diperlukan agar perbedaan pandangan tidak berubah menjadi permusuhan. Perbedaan tafsir keagamaan, pilihan politik, maupun kepentingan organisasi seharusnya tidak menghilangkan rasa persaudaraan dan penghormatan terhadap martabat sesama manusia.

Keteguhan moral bukan berarti merasa paling benar atau paling suci. Justru orang yang memiliki keteguhan moral akan mampu mengendalikan ego, menghormati perbedaan, dan tidak mudah tergoda untuk menghakimi orang lain.

Dengan demikian, pagar moral-spiritual bukanlah tembok yang memisahkan manusia dari sesamanya, melainkan kekuatan batin yang menjaga manusia agar tetap berada di jalan dharma.

Ketiga, pagar atau benteng sosial-ekologis. Manusia tidak hidup sendirian. Kehidupan manusia selalu terhubung dengan kehidupan sesama manusia, makhluk hidup lainnya, dan lingkungan alam.

Pesan Lontar Sundarigama tentang "sarwa tumitah sarwa tumuwuh" mengingatkan bahwa seluruh kehidupan harus dijaga, dipelihara, dan dikembangkan.

Dalam konteks sosial, pagar kehidupan dibangun melalui solidaritas, gotong royong, kepedulian, keadilan, dan penghormatan terhadap sesama. Masyarakat yang kehilangan solidaritas akan mudah terpecah oleh kebencian, prasangka, dan konflik kepentingan.

Sementara dalam konteks ekologis, pagar kehidupan dibangun melalui kesadaran menjaga keseimbangan alam. Kerusakan hutan, pencemaran air, krisis energi, perubahan iklim, dan berbagai bentuk eksploitasi alam merupakan ancaman nyata terhadap keberlanjutan kehidupan.

Manusia tidak mungkin membangun ketahanan hidup dengan menghancurkan sumber-sumber kehidupannya sendiri.

Karena itu, filosofi Pagerwesi juga dapat dimaknai sebagai ajakan untuk membangun ketahanan sosial dan ekologis. Melindungi kehidupan berarti menjaga hubungan harmonis antara manusia dengan sesamanya, manusia dengan alam, dan manusia dengan Tuhan. Inilah makna perlindungan yang lebih luas, sejalan dengan nilai-nilai Tri Hita Karana

Pagar yang Kokoh, Bukan Tembok yang Memisahkan

Ada satu hal penting yang perlu direnungkan dari simbol Pagerwesi. Pagar dibangun untuk melindungi sesuatu yang berharga, bukan untuk mengurung kehidupan atau memisahkan manusia dari sesamanya.

Dalam kehidupan sosial dan keagamaan, pagar sering kali dimaknai secara sempit sebagai pembatas antara kelompok sendiri dengan kelompok lain. Bahkan, atas nama menjaga kemurnian dan identitas, pagar dapat berubah menjadi tembok eksklusivisme yang menumbuhkan prasangka dan permusuhan.

Padahal, pagar kehidupan yang berlandaskan dharma seharusnya melindungi nilai-nilai kebenaran, kebajikan, kemanusiaan, dan keharmonisan.

Pagar yang kokoh tidak harus membuat manusia tertutup. Keteguhan prinsip tidak harus melahirkan sikap keras kepala. Kesetiaan pada tradisi tidak harus menumbuhkan kebencian terhadap perbedaan.

Justru manusia yang memiliki pengetahuan, kebijaksanaan, dan keteguhan moral akan mampu menjaga identitasnya tanpa kehilangan keterbukaan, membela keyakinannya tanpa merendahkan orang lain, serta mempertahankan prinsipnya tanpa meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan.

Inilah relevansi Pagerwesi dalam kehidupan masyarakat yang semakin kompleks, majemuk, dan penuh perubahan.

Pada akhirnya, Pagerwesi mengajarkan bahwa pagar kehidupan yang paling kokoh bukanlah pagar yang terbuat dari besi, melainkan pengetahuan yang diterangi kebijaksanaan dan dharma.

Besi bisa berkarat. Tembok bisa runtuh. Kekayaan bisa habis. Kekuasaan bisa berakhir. Tetapi pengetahuan sejati, keteguhan moral, dan kebijaksanaan akan tetap menjadi penuntun kehidupan.

Karena itu, Pagerwesi tidak cukup dimaknai sebagai ritual memohon perlindungan. Pagerwesi juga harus menjadi momentum untuk membangun kemampuan melindungi kehidupan melalui pengetahuan, integritas moral, solidaritas sosial, dan kepedulian terhadap alam.

Itulah hakikat Pagerwesi: bukan sekadar magehang awak, tetapi magehang urip. Bukan membangun tembok untuk memisahkan diri dari kehidupan, melainkan membangun pagar yang kokoh untuk menjaga dan memuliakan seluruh kehidupan.*

AAGN Ari Dwipayana
AAGN Ari DwipayanaPenulis Narasi

Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud, Ketua Departemen Politik dan Pemerintahan, FISIPOL UGM

0 komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Komentar langsung tayang. Komentar spam atau tidak pantas akan disembunyikan/dihapus redaksi.