UBUD, BALINEWS.ID — Bali sedang menghadapi perang sunyi. Musuhnya bukan senjata, bukan wabah, melainkan sampah plastik yang setiap hari membanjiri sungai, pantai, hingga sawah. Namun di sebuah gang kecil di kawasan Sanggingan, Ubud, perlawanan itu dimulai. Bukan dengan demonstrasi. Bukan dengan amarah. Tapi dengan seni.
Delapan seniman Bali dan mancanegara bergabung dalam sebuah gerakan bernama Junkyard Collective Bali. Mereka mengubah limbah plastik menjadi karya seni yang menghantam kesadaran publik secara langsung.
Galeri kecil itu berdiri sederhana di Jalan Raya Sanggingan Gang Bintang, Ubud. Tidak ada tiket masuk. Tidak ada harga karya yang dipamerkan. Semua gratis. Semua terbuka. Karena yang mereka jual bukan lukisan atau patung, melainkan pesan keras tentang darurat sampah plastik.
Di balik gerakan ini berdiri Dr. I Made Jodog, akademisi sekaligus Wakil Rektor ISI Bali. Namun di Junkyard Collective, ia hadir bukan sebagai pejabat kampus, melainkan sebagai seniman yang gelisah melihat Bali perlahan tenggelam oleh sampah.

Keresahan itu sudah ia rasakan sejak akhir 1990-an. Saat memimpin organisasi pemuda di desanya, Jodog menyaksikan sungai di bawah rumahnya berubah menjadi tempat pembuangan plastik. Ia membersihkan sungai. Ia mengedukasi warga. Tetapi plastik terus datang tanpa henti.
“Kami tidak berpikir tentang uang. Kami berpikir tentang kesadaran,” kata Jodog.
Kalimat itu menjadi roh dari seluruh karya yang memenuhi ruang galeri.
Salah satu instalasi paling mencolok adalah ubur-ubur raksasa yang dibuat dari kantong plastik bekas. Tubuh transparannya melayang tertiup kipas angin. Sekilas indah, tetapi sekaligus mengerikan. Simbol ancaman yang diam-diam hidup di sekitar manusia.
“Ketika ubur-ubur menyengat, Anda terbangun. Ubur-ubur ini dirancang untuk menyengat kesadaran Anda,” ujar Jodog.
Bukan hanya itu. Seniman muda bernama Arde menghadirkan lukisan berbahan plastik yang disetrika berlapis-lapis hingga menyerupai kanvas. Dari jauh terlihat normal. Namun ketika mendekat, publik dipaksa sadar bahwa keindahan itu berasal dari limbah yang selama ini dibuang sembarangan.
Sementara seniman Wayan Suja menciptakan patung perempuan sebagai simbol alam. Di bagian bawah tubuh patung, sampah plastik tumbuh seperti akar yang mencengkeram bumi. Di bagian atasnya, terong dan cabai hidup ditanam langsung di tubuh karya tersebut.
Pesannya telak: manusia sedang menanam kehidupan di atas gunungan sampah ciptaannya sendiri.
Seniman Prangawardana memilih pendekatan berbeda. Ia membuat lelakut atau orang-orangan sawah khas Bali dari plastik bekas. Jika biasanya lelakut digunakan untuk menakuti burung, kali ini ia ditujukan untuk menakuti manusia agar berhenti membuang sampah sembarangan.
Melalui karya-karya itu, Junkyard Collective Bali tidak sekadar membuat pameran seni. Mereka sedang membangun gerakan sosial berbasis kesadaran publik.
Jodog berharap pemerintah Bali melihat seni sebagai alat perjuangan lingkungan yang efektif. Menurutnya, seniman tidak selalu harus turun ke jalan dengan kemarahan. Karya seni juga bisa menjadi bentuk protes yang kuat dan menyentuh masyarakat secara emosional.
“Kami mengungkapkan kegelisahan melalui karya. Tapi kami berharap ada perhatian, ada fasilitasi, dan ada dukungan untuk gerakan-gerakan seperti ini,” katanya.
Galeri ini terbuka bagi siapa saja. Turis asing, pelajar, ekspatriat, warga lokal, hingga komunitas seni internasional dipersilakan datang tanpa batas.
Tidak ada target bisnis. Tidak ada orientasi keuntungan. Yang ada hanyalah idealisme untuk menyelamatkan lingkungan Bali dari ancaman plastik yang semakin mengkhawatirkan.
Junkyard Collective Bali kini menjadi bukti bahwa sampah tidak selalu berakhir di tempat pembuangan. Di tangan para seniman, plastik berubah menjadi senjata perlawanan. Menjadi simbol peringatan. Menjadi tamparan keras bagi masyarakat yang masih abai terhadap lingkungan.
Dan dari sebuah gang kecil di Ubud, suara perlawanan itu mulai menggema lebih luas.
Karena pada akhirnya, seni bukan hanya untuk dipandang. Tetapi untuk mengguncang kesadaran.

