GIANYAR, BALINEWS.ID – Yayasan Puri Kauhan Ubud kembali menggelar ajang kebudayaan Sastra Saraswati Sewana untuk keenam kalinya pada 2026. Mengusung tema “Cakrawala Mandala Dwipantara”, kegiatan yang dibuka di Wantilan Pura Tirta Empul, Tampaksiring, Gianyar, Senin (29/6/2026), menjadi ruang refleksi untuk menghidupkan kembali nilai-nilai pemikiran Nusantara sebagai pijakan menghadapi tantangan zaman.
Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud, Anak Agung Ngurah Ari Dwipayana, mengatakan tema “Cakrawala Mandala Dwipantara” tersebut dipilih karena membawa kembali warisan pemikiran Nusantara yang memiliki relevansi kuat bagi Indonesia saat ini.
Ia menjelaskan, konsep Mandala memiliki akar sejarah panjang di Asia yang berlandaskan ajaran Hindu dan Buddha. Salah satu rujukannya berasal dari teori Raja Mandala yang ditulis Kautilya dalam kitab Artha Sastra pada masa pemerintahan Chandragupta Maurya sekitar abad ke-4 sebelum Masehi.
Teori tersebut kemudian dikenal sebagai salah satu konsep awal geopolitik dan hubungan internasional di dunia.
Gagasan tersebut berkembang ketika Sri Maharaja Kertanegara, raja terakhir Kerajaan Singhasari, mengadaptasinya dalam konteks negara kepulauan. Dalam pandangannya, Mandala bukan hanya dimaknai sebagai ruang spiritual, tetapi juga sebagai visi geopolitik yang memandang Nusantara sebagai satu kesatuan maritim, budaya, dan peradaban. Laut diposisikan sebagai penghubung antarpulau, bukan pemisah.
Menurut Gung Ari, pemikiran Sri Kertanegara masih sangat relevan dengan kondisi Indonesia saat ini sebagai negara kepulauan terbesar di dunia.
“Dalam konteks Indonesia hari ini, gagasan Sri Kertanegara tersebut tetap relevan. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, kita memerlukan cara pandang yang mampu mempersatukan keragaman, membangun solidaritas antarpulau, dan memperkuat identitas kebangsaan yang berakar pada nilai-nilai luhur Nusantara,” ujarnya.
Rangkaian pembukaan juga diisi dengan pementasan napak pertiwi melalui tarian topeng Sri Aji Dalem Jawi, sebuah kreasi baru yang diinisiasi Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud. Tokoh Sri Aji Dalem Jawi dipersonifikasikan sebagai simbol semangat raja-raja Jawa yang memiliki visi besar membangun persatuan Nusantara.
Tapel tersebut merupakan karya Cokorda Alit Artawan dengan gelungan hasil garapan Cokorda Rai Arimbawa. Sebelum dipentaskan, tapel Sri Aji Dalem Jawi telah melalui prosesi pelaspas dan pasupati pada Hari Raya Kuningan di Pura Pusering Jagat, Pejeng.
Topeng Sri Aji Dalem Jawi selanjutnya dijadwalkan melakukan pementasan di lima lokasi di Jawa Timur hingga Yogyakarta, yakni Pura Agung Blambangan (13 Juli), Wihara Dhammadipa Arama Batu Malang (14 Juli), Candi Tegowangi Kediri (15 Juli), Pendopo Istana Pura Mangkunegaran Surakarta (17 Juli), dan Candi Prambanan Yogyakarta (19 Juli 2026).
Pada kesempatan yang sama, Yayasan Puri Kauhan Ubud juga menyerahkan Sastra Saraswati Sewana Nugraha 2026 kepada dua tokoh yang dinilai berjasa besar bagi ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan pengabdian kepada masyarakat Bali, yakni almarhum I Gusti Bagus Sugriwa dan Ida Wayan Oka Granoka.
Penghargaan tersebut disertai peluncuran buku NISKAMAKARMA sebagai bentuk penghormatan kepada kedua penerima anugerah atas dedikasi mereka dalam merawat sastra, seni, pendidikan, dan kebudayaan Nusantara.
Sebagai penutup pembukaan, Yayasan Puri Kauhan Ubud menggelar Dharma Panuntun yang mengangkat tema “Bhuwana Sarira Mandala”. Forum ini menghadirkan para wiku dan cendekiawan untuk membahas hubungan manusia dengan semesta melalui perspektif ajaran Kasiwan dan Kasogatan.
Pembahasan disampaikan oleh Ida Pedanda Gede Made Putra Kekeran dari perspektif Kasiwan serta Ida Pedanda Gede Karang Kerta Nustana dari perspektif Kasogatan, dengan Ida Bagus Oka Manobhawa sebagai moderator.
Acara pembukaan turut dihadiri para Wiku Siwa-Buddha, Danrem 163/Wira Satya Brigjen TNI Ida Dewa Agung Hadisaputra, Ida Dalem Semaraputra, Ida Rsi Agung Wayabya Surabu Karang, Ida Wayan Oka Granoka, para rektor, budayawan, bendesa adat, hingga para seniman. (*)
