Kegiatan tersebut menghadirkan anggota DPD RI, Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra, bersama dalang I Made Sidia; Profesor I Wayan Wastawa; Profesor I Made Jawi; dan Kakanwil Kemenag RI Provinsi Bali, Gusti Made Sunarta. Hadir juga Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Gianyar, I Wayan Mawa.
Dalam paparannya, Rai Mantra menjelaskan makna mendalam dari filosofi “Eda Ngaden Awak Bisa” yang selama ini dikenal dalam kehidupan masyarakat Bali.
“Secara harfiah, Eda Ngaden Awak Bisa artinya jangan sok tahu. Tapi jangan berhenti sampai disana,” ujar Rai Mantra di hadapan peserta sarasehan.
Menurutnya, filosofi tersebut berfungsi sebagai pengingat untuk selalu mampu mengontrol diri dan menempatkan diri dengan bijaksana dalam kehidupan sosial.
“Contoh, di sebelah saya ada profesor, maka saya harus hati-hati, kontrol. Karena ada yang lebih pintar. Kita harus bisa posisikan diri,” ungkapnya.
Rai Mantra juga menyampaikan bahwa nilai filosofi tersebut layak diangkat dalam regulasi nasional agar tetap lestari dan tidak tergerus zaman. Sebagai anggota DPD RI, ia berencana mengusulkan konsep tersebut masuk dalam Rancangan Undang-Undang Bahasa Daerah yang saat ini tengah dibahas di tingkat pusat.
“RUU bahasa daerah rasanya tepat dengan konsep ini. Nanti kami usul di RUU. Agar tidak punah,” terangnya.
Sementara itu, pengurus Yayasan, I Made Ariasa yang kala sarasehan menjadi moderator, menilai kondisi global saat ini menjadi alarm penting bagi dunia pendidikan untuk lebih menekankan pembangunan karakter, bukan hanya aspek akademik semata.
Menurut Ariasa, berbagai persoalan sosial seperti konflik keluarga, kekerasan terhadap anak, hingga meningkatnya egoisme tidak terlepas dari lemahnya pendidikan karakter dan pola asuh di lingkungan masyarakat.
“Filosofi Eda Ngaden Awak Bisa mengajarkan manusia untuk tidak merasa paling bisa, melainkan terus belajar sepanjang hayat dengan kerendahan hati. Ini sangat relevan diterapkan dalam pendidikan masa kini,” ujar Ariasa, Jumat (15/5).
Ia menambahkan, nilai-nilai kearifan lokal Bali yang selama ini menjadi pedoman hidup harmonis perlahan mulai terpinggirkan akibat derasnya pengaruh media sosial, gaya hidup instan, dan meningkatnya individualisme.
Menurutnya, filosofi tersebut juga sejalan dengan ajaran “ilmu padi”, yakni semakin berisi seseorang maka akan semakin merunduk. Pendidikan, kata Ariasa, tidak hanya berorientasi pada kemampuan akademis, tetapi juga membentuk pribadi yang sabar, bertanggung jawab, peduli terhadap sesama, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan.
Ia pun menekankan pentingnya menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat dan nyaman sebagai bagian dari implementasi pendidikan karakter.
“Salah satu bentuk implementasi nilai pendidikan karakter adalah membangun kepedulian terhadap alam melalui kegiatan sederhana seperti menanam pohon dan menjaga lingkungan,” imbuhnya.
